Menikahi Majikan Lumpuh

Menikahi Majikan Lumpuh
Bab 17 - Menantu Muka Dua


__ADS_3

Menit pun bergulir.


Lama-lama suhu AC yang dingin itu mempengaruhi Mika, dia mulai merasa kedinginan dan tengkuknya merinding.


Namun karena sedang fokus belajar, Mika tidak terpikirkan untuk mengambil remote AC tersebut dan menambahkan suhunya agar lebih hangat.


Mika justru menggeser hingga tubuhnya menyentuh pada pak Bima.


Mendapati sentuhan seperti itu Bima tidak merasa terganggu sedikitpun, karena dia pun sedang fokus menjelaskan beberapa hal.


Tanpa sadar keduanya duduk begitu dekat, sampai bisa menghirup aroma tubuh satu sama lain.


"Baiklah, Aku akan coba melakukannya seperti itu," balas Mika, dia sudah cukup memahami semua yang dijelaskan oleh Sang guru.


Mika dan Bima saling menoleh untuk menatap satu sama lain, lalu terkejut ketika melihat ternyata jarak mereka begitu dekat, bahkan tidak ada satu jengkal tangan.


Mika yang terkejut langsung mendelik, kedua pipinya pun berubah jadi merah merona.


Secepat yang dia bisa Mika pun mengambil jarak, tidak ada satupun yang tahu bahwa saat ini jantungnya sedang berdegup dengan cepat.

__ADS_1


"Maaf Mas," kata Mika buru-buru dan langsung menunduk.


Mika sudah begitu deg-degan, tapi pria berwajah dingin itu tetap tidak menunjukkan ekspresi apapun. Dia hanya diam, bahkan tidak menanggapi permintaan maaf Mika.


Sebuah sikap yang membuat Mika jadi merasa bingung sendiri.


Perlahan Gadis itu mengangkat wajahnya, dan langsung disambut dengan tatapan dingin sang suami.


Sudah bersama lebih dari 3 bulan dan terus tidur di ranjang yang sama membuat Mika jadi memiliki harapan di dalam hatinya.


Mulai berandai-andai bagaimana jika dia dan Pak Bima benar-benar jadi sepasang suami dan istri.


"Cukup untuk hari ini," ucap Bima, masih saja bicara dengan suaranya yang dingin.


Mika hanya bisa mengangguk.


Waktu pun bergulir.


8 bulan telah berlalu dan Mika benar-benar terlatih dengan baik. Dia bukanlah Mika yang sama seperti saat pertama kali datang ke rumah ini.

__ADS_1


Kini Mika benar-benar bersikap layaknya istri seorang tuan muda, Bima Mahesa.


Dari penampilan dan pembawaannya sudah terlihat begitu Anggun.


Pagi-pagi sekali, Mika sudah menyambut seorang dokter yang datang ke rumah.


Donita menatap sinis pada semua hal yang dilakukan oleh wanita itu. Mika adalah menantu bermuka dua, di hadapan suaminya Mika nampak begitu polos, namun saat sedang bersamanya Mika begitu membangkang.


"Siapa dia?" tanya Donita sinis, kini di hadapan Mika dia sudah tak mau baik-baik lagi, sudah terlanjur muak. Apalagi saat ini Hendra, Sora dan Bryan tidak berada di rumah, makin membuatnya berani menunjukkan amarah.


"Beliau dokter Anwar, dokter yang akan membantu mas Bima agar cepat sembuh. Mas Bima tidak mau dirawat di rumah sakit, jadi aku membawa dokternya kesini," terang Mika, dia juga tak segan membalas tatapan sang mama mertua.


"Wah, sudah hebat sekali kamu ya. Tapi izin dari kami sudah memanggil orang asing untuk masuk ke rumah ini," balas Donita.


"Beliau bukan dokter Asing ma, beliau adalah dokter yang akan membantu mas Bima sembuh. Kenapa hal seperti ini saja mama ributkan? apa mama tidak ingin mas Bima sembuh?" cerca Mika pula.


"Jangan lancang kamu ya Mika, suruh dia pergi sekarang."


"Tidak, aku sudah susah payah membujuk mas Bima agar mau berobat, aku akan tidak menuruti perintah mama," balas Mika pula.

__ADS_1


"Mari Dok," ajak Mika kemudian, dengan wajah yang masih terangkat tinggi. Mika pergi dari sana bersama sang dokter.


__ADS_2