Menikahi Majikan Lumpuh

Menikahi Majikan Lumpuh
Bab 8 - Menjawab Dengan Tegas


__ADS_3

Hampir jam 8 pagi, Mika dan Bima akhirnya keluar dari dalam kamar itu.


Berhubung mereka adalah pengantin baru, karena itulah tak ada satupun orang yang berani mengetuk pintu kamar mereka.


Mika keluar dengan kedua pipinya yang nampak bersemu merah, bukan hanya merasa deg-degan karena baru saja dikecup oleh Bima, tapi dia juga malu karena sudah sebesar ini tapi masih juga pipis di celana.


Sungguh, Gadis itu belum sadar bahwa cairan itu bukanlah pipis melainkan reaksi dari tubuhnya yang bergairrah.


Sekarang saja, tiap kali membayangkan adegan beberapa saat lalu Mika merasa dia mau pipis lagi, sampai jalannya terlihat aneh.


"Tekan tombol itu," titah Bima, karena mereka akan turun ke lantai 1 menggunakan lift.


"Iya Mas," jawab Mika pelan sekali bicaranya, dia bahkan langsung menggigit bibir bawahnya setelah mengucapkan panggilan Mas tersebut.


Sumpah, ini canggung sekali.


Tiba di lantai 1, mereka berdua langsung bertemu dengan Sora yang hendak pergi ke kantor. Penampilan Sora pagi itu terlihat sangat cantik bahkan Mika sampai terpesona ketika melihatnya. Rambut panjangnya menjuntai dengan begitu indah dan bergelombang lembut.


"Pagi kakak ipar," goda Sora dengan bibir yang tersenyum lebar, lucu sekali ketika melihat kakak iparnya berusia lebih mudah dibandingkan dia, Mika yang baru saja lulus SMA sementara dia sudah bekerja.


Dan dipanggil dengan sebutan seperti itu Mika hanya mampu tersenyum kikuk.


Belum sempat Mika menjawab sapaan itu, tiba-tiba Bryan datang diantara mereka semua.


"Cepatlah, kita sudah terlambat," ucap Bryan dengan suaranya yang terdengar begitu dingin sama saja seperti Bima ketika bicara.


Bryan bahkan tidak menyapa Mika dan Bima, pria itu langsung menarik tas milik Sora hingga Gadis itu terpaksa mengikuti langkahnya.


"Ya ampun kak! lepas! iih! Dadah kak Mikaa!" ucap Sora buru-buru, dia merasa sungguh tidak sopan, karena di pagi pertemuan pertamanya dengan sang kakak ipar malah berakhir seperti ini.

__ADS_1


Padahal Sora pun ingin memiliki hubungan yang baik dengan kakak iparnya tersebut, apalagi saat dia lihat dengan jelas banyak tanda merah di leher Mika. menandakan bahwa tadi malam benar-benar ada hubungan yang spesial di antara sepasang suami istri itu.


Sora akan merasa sangat bahagia ketika kakaknya pun bahagia juga.


Dan Bima menatap sinis pada Bryan yang pergi di ujung sana.


Pintar sekali sandiwaramu, seolah benar-benar menyayangi Sora, padahal kamu dan ibumu itu berniat juga menyingkirkannya dari rumah ini. Batin Bima.


Dia mengepalkan kedua tangannya kuat, sudah tidak sabar rasanya untuk kembali masuk ke perusahaan bersama dengan Mika.


"Kenapa diam saja? cepat ke meja makan," titah Bima pada gadis lugu itu, yang malah terus melihat kepergian Sora dan Bryan, bukannya langsung melangkah menuju meja makan.


Mika diam-diam mendengus, perasaan salah terus.


Jadi tanpa banyak kata-kata lagi dia pun langsung mendorong kursi roda itu menuju meja makan.


Di sana langsung bertemu dengan papa Hendra dan mama Donita. Mika melihat ke sana kemari, mencari keberadaan sang ibu, tapi di mana pun dia tidak melihat ibunya.


Tidak ada ibu Ningsih, Mika jadi sedikit lesu.


"Akhirnya pengantin baru kita keluar dari dalam kamar, ayo duduk Nak," ajak mama Donita ramah, dia bahkan mendekati Mika dan mengajak menantunya waktu duduk di salah satu kursi.


Namun kemudian semua pergerakannya berhenti ketika melihat banyak tanda merah di leher gadis kampung ini.


Dan akhirnya Mika duduk sendiri tanpa perlu di arahkan.


"Selamat pagi Ma, Pa," sapa Mika ramah.


Dengan hati yang sedikit merasa kesal di dalam hatinya, Mama Donita pun kembali duduk di kursinya sendiri, kini Jadi menatap Mika dengan lekat.

__ADS_1


Gadis itu kini nampak begitu lemas, seolah semalam telah melakukan hal yang melelahkan.


Pandangan mama Donita berpindah ke arah Bima, melihat tak ada perubahan apapun dari anak sambungnya tersebut.


"Makan lah, mama dan papa akan menemani kalian," ucap mama Donita.


"Terima kasih Ma," balas Mika.


Dia telah digembleng oleh Bima untuk tak nampak gugup di hadapan semua orang, untuk tak menundukkan wajah dan harus berani.


Bima bahkan terang-terangan mengatakan bahwa musuhnya adalah Donita, jadi jangan pernah terpedaya dengan semua kebaikan wanita itu.


Kini Mika telah siaga, merasa was-was diantara semua sandiwara. Keluarga ini nampak begitu sempurna, namun siapa sangka di dalamnya begitu berbeda.


Bima juga mengatakan bahwa Donita lah yang membuatnya lumpuh.


Selesai Mika dan Bima sarapan, akhirnya mama Donita buka suara ...


"Mama rasa lebih baik kalian tinggal di rumah sendiri, agar kamu dan Bima bisa saling mengenal lebih jauh," ucap mama Donita, dia bisa mengatakan tentang hal ini karena sebelumnya pun sudah berdiskusi dengan sang suami.


Hendra hanya menjawab dia menyerahkan semua keputusan pada Mika dan Bima, baginya pun tak masalah anak dan menantunya itu tinggal di sini.


Lagi pula, rumah ini pun rumah Mika dan Bima juga.


Mendengar ucapan wanita itu Bima diam saja, dia bahkan tetap minum seolah tak mendengar.


"Terima kasih Ma, tapi aku lebih nyaman di sini. Karena aku bukan hanya ingin mengenal mas Bima, tapi juga seluruh keluarga," jawab Mika.


Papa Hendra langsung tersenyum lebar saat mendengar jawaban menantunya itu, tak menyangka jika gadis yang nampak lugu ini bisa menjawab dengan tegas.

__ADS_1


Dan Donita begitu geram mendengar jawabannya.


__ADS_2