Menikahi Majikan Lumpuh

Menikahi Majikan Lumpuh
Bab 5 - Semua Yang Terbaik


__ADS_3

"Maaf Pak, aku jadi lihat tubuhnya," ucap Mika, meski merasa sangat tidak enak hati mengucapkan kalimat itu, tapi terpaksa dia ucapkan karena tak ingin dianggap lancang telah melihat tubuh pak Bima.


"Tidak usah banyak bicara dan cepat ganti bajuku," balas Bima, sungguh dia paling malas basa-basi. Hidupnya terlalu rumit hanya untuk membuang-buang waktu membicarakan hal tidak penting seperti itu.


Dan mendengar pak Bima kembali bicara dengan suaranya yang ketus membuat Mika mencebik.


Kini mulut Gadis itu memang terkunci rapat, tapi di dalam hatinya dia terus bicara sendiri.


Mempertanyakan Kenapa sih pak Bima seketus itu. Padahal selama masa pernikahan kontrak mereka, mereka harus bisa bekerja sama dengan baik.


Bukankah itu artinya mereka berdua juga harus memiliki komunikasi yang baik juga?


Tapi kenapa pak Bima seperti itu?


Kenapa? kenapa? kenapa?


Mika bingung sendiri.


Saking banyaknya pikiran di dalam kepalanya, Mika sampai tak punya kesempatan untuk memandangi tubuh pria dewasa tersebut, tiba-tiba baju tidur itu sudah terpasang dengan sempurna begitu saja.


Menggunakan baju apapun ternyata pak Bima tetap saja tampan, di desa mana ada pria tampan seperti ini.

__ADS_1


Tanpa sadar Mika tersenyum kecil, bukannya segera pergi dari sana dan mengganti bajunya juga dia malah memandangi Bima.


Sadar jika Gadis ini sedang menatap ke arahnya, Bima pun mendongak dan membalas tatapan gadis itu juga, tapi dibalas dengan tatapan yang begitu tajam.


Tatapan yang seolah bicara 'Berhenti menatap ku!'


Astaghfirullahaladzim, bahkan tatapannya pun begitu mengintimidasi. Bagaimana bisa saat mulutnya diam tatapannya pun bisa memerintah seperti itu. Batin Mika.


Mau tidak mau akhirnya dia mundur 1 langkah, mengambil jarak aman.


"Ganti baju mu," ucap Bima dengan mengeram kesal, masa untuk hal seperti ini saja dia harus memberi perintah.


Sungguh, di dalam diri Mika tidak ada mode menjadi istri. Surat perjanjian pernikahan itu sudah menjelaskan semuanyabahwa dia bukanlah istri melainkan seorang pembantu.


Mika tidak biasa jalan perlahan, jadi meski hanya menuju ke lemari sana untuk mengambil baju tidurnya, dia pun berlari.


Lalu berlari lagi menuju kamar mandi.


Di dalam benak Gadis itu masih bertanya-tanya, di manakah dia akan tidur malam ini? apakah di ranjang yang sama dengan Pak Bima?


Tak sampai 15 menit di dalam kamar mandi itu akhirnya Mika pun keluar. Keluar dengan penampilan yang jauh berbeda karena dia tidak lagi menggunakan hijab sebagai penutup kepala.

__ADS_1


Rambut panjangnya tergerai dengan begitu indah. Gadis itu seolah dalam sekejap berubah jadi orang lain.


Baju tidur mahal yang kini dia kenakan seolah membuat Mika jadi seperti orang kaya juga. Hilang penampilan desa yang dia bawa siang tadi.


Bima memang tak ingin istrinya nampak biasa saja, itulah kenapa dia memerintahkan bik Ratih untuk memberikan semua yang terbaik untuk Mika.


Keluar dari sana, Mika langsung menghadap pada pak Bima yang masih duduk di tepi ranjang, di posisi yang sama. Pasalnya Bima butuh bantuan untuk naik ke atas ranjang.


"Maaf Pak, malam ini aku tidur dimana?" tanya Mika bingung.


"Mau mu tidur dimana?" tanya Bima pula, melihat penampilan Mika yang berbeda membuat nada bicaranya pun berbeda pula. Dia senang karena ternyata pilihan bik Ratih tidak salah, Mika akan lebih cantik setelah dia banyak mendapatkan perawatan.


"Di kasur," jawab Mika lirih.


"Tapi kalau tidak boleh, di sofa juga tidak apa-apa kok!" timpal Mika lagi dengan suara yang lebih tinggi.


"Tidak usah banyak bicara, kita akan tidur di ranjang yang sama," balas Bima.


Mika ingin kembali menyahut, namun kalah cepat dengan Bima yang bicara lagi.


"Sekarang bantu aku untuk berbaring, kita langsung tidur," putus Bima.

__ADS_1


__ADS_2