Menikahi Majikan Lumpuh

Menikahi Majikan Lumpuh
Bab 12 - Misi Dimulai


__ADS_3

Mika terus belajar sampai dia tak sadar jika sudah kelelahan, Mika tertidur di meja belajarnya dan bertumpu pada buku.


Mika memang tidak berangan-angan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Meski gaji sang ibu mungkin sanggup untuk membiayai kuliahnya, tapi sungguh Mika tak ingin menjadi beban lagi.


Selama sang ibu bekerja di Jakarta, Mika diasuh dan tinggal bersama budenya, jadi rasanya malah ingin membantu sang bude saja untuk menyekolahkan anak-anaknya yang masih kecil.


Jadi saat dia mendapat banyak ilmu dan pengetahuan seperti ini dari pak Bima, Mika sangat semangat untuk mempelajarinya.


Dan melihat Mika yang sudah terlelap di atas meja itu, Bima pun lantas melihat jam yang terpasang di dinding, waktu sudah menunjukkan jam 10 malam.


Ternyata waktu memang sudah selarut ini.


Tanpa pikir panjang, Bima lantas mendorong kursi rodanya sendiri untuk lebih dekat dengan gadis itu, Bima menepuk pundak Mika secara perlahan.


"Mika," panggil Bima, tetap saja bicara dengan suaranya yang terdengar dingin tidak peduli meski Mika telah berusaha keras untuk bisa memahami semua materi yang dia berikan.


Seolah tidak ada sedikitpun belas kasih pria itu terhadap gadis tersebut.


Bima selalu berpikir bahwa diantara dia dan Mika saling menguntungkan satu sama lain, tidak ada yang dirugikan sedikitpun di antara mereka berdua.


Karena Bima juga sudah menyiapkan kompensasi dalam jumlah yang sangat besar andai rencana mereka berdua berhasil. Jaminan masa depan yang cerah akan dimiliki oleh Mika dan ibunya. Bima rasa itu adalah bayaran yang setimpal dibandingkan dengan nasib mereka saat ini yang masih menjadi pelayan di keluarga Mahesa.


"Mika," panggil Bima sekali lagi, dia juga menggoyangkan pundak Mika lebih kuat lagi.

__ADS_1


Sampai akhirnya Gadis itu pun terbangun dari tidurnya, mengerjabkan mata dan kemudian merasa bersalah karena ketiduran.


"Maaf Mas," ucap Mika, karena tugasnya pun bukan hanya belajar saja, tapi dia juga harus membantu Bima untuk membersihkan tubuh sebelum tidur.


Bima tidak menjawab apa-apa lagi, dia hanya mundur dan Mika langsung paham untuk mendorong kursi roda itu mendekati pintu kamar mandi.


Saat masuk ke dalam kamar mandi, Mika membopong pak Bima membantu pria itu berjalan.


Jam setengah 11 akhirnya mereka sudah sama-sama berbaring di atas ranjang.


Mika tidak sempat memikirkan apapun lagi, dia langsung tertidur dengan pulasnya.


Hari pun bergulir.


Justru Mika sudah semakin pintar dan mengetahui banyak hal.


Pagi hari setelah sarapan, Bima, Mika dan papa Hendra duduk di ruang tengah.


Papa Hendra tengah membaca beberapa laporan tentang perusahaan yang baru saja di serahkan oleh Bryan. Papa Hendra kini memang lebih banyak bekerja di rumah dibandingkan di kantor.


Bryan yang sebagai wakil direktur utama selalu jadi perantara antara urusan kantor dan sang papa.


Mika melirik pak Bima sekilas, melihat jelas saat pria itu menganggukkan kepalanya kecil. Sebuah tanda bahwa mereka mulai bisa menjalankan misi.

__ADS_1


"Maaf Pa, apa aku boleh melihat laporan-laporan itu?" tanya Mika pada sang papa mertua, kedua matanya menatap penuh binar, begitu polos hingga tak akan ada yang sanggup menolak keinginannya.


Papa Hendra tersenyum dan mengangguk, bahkan menggeser laporan-laporan itu pada sang menantu.


"Kalau grafiknya seperti ini terus, dalam 3 bulan saja keuntungan bisa naik 1 persen," ucap Mika dengan santainya.


Namun berhasil membuat papa Hendra terkejut.


"Kamu bisa membaca grafik ini?" tanya papa Hendra dan Mika mengangguk antusias.


Saat itu juga dia menunjukkan semua hasil belajarnya, Mika bahkan membaca laporan itu dengan jelas, sampai papa Hendra tak perlu lagi memeriksanya satu per satu.


Di ujung kalimat Mika, papa Hendra tercengang bahkan sampai tepuk tangan.


"Wah, papa tidak menyangka kamu sepintar ini Mika," kagum papa Hendra.


Tentu saja pintar, karena aku yang jadi gurunya. Batin Bima, dia malah tersenyum miring.


"Tidak Pa, aku masih harus banyak belajar," balas gadis itu malu-malu, dia senang sekali membicarakan tentang pekerjaan ini, semakin banyak pengetahuan yang dia dapat, Mika jadi semakin bersemangat.


Dan Donita yang berjalan di tangga dan melihat pemandangan itu mengerutkan dahi. Sungguh tak suka melihat kedekatan Mika dan suaminya.


Buat ulah apa lagi anak itu. Batin Donita. Dia semakin mempercepat langkah untuk turun, tak ingin Mika makin banyak bicara dengan sang suami.

__ADS_1


__ADS_2