Menikahi Majikan Lumpuh

Menikahi Majikan Lumpuh
Bab 14 - Tanpa Kata


__ADS_3

"Arght!" pekik Donita, dia bahkan sampai mengacak rambutnya frustasi. Di dalam kamar mandi dia menumpahkah semua amarah yang terpedam, melupakan kekesalan yang sudah menumpuk.


Kini pikirannya buntu, seolah satu per satu yang ada di genggamannya hilang begitu saja.


"Mika dan bik Ningsih sangat mencurigakan, jangan-jangan mereka memang memanfaatkan pernikahan ini untuk bisa menguasai kekayaan keluarga Mahesa. Astaga, Kenapa aku tidak berpikir seperti itu sejak dulu. Bima sangat bodoh, wajar saja jika dia mudah ditipu," gumam Donita, begitu yakin dengan pemikirannya sendiri tersebut.


Dan amarah di dalam hatinya makin tersulut ketika meyakini itu.


Kini Donita tersenyum miring, merasa Mika dan bik Ningsih salah berhadapan dengan dia.


Sementara itu di tempat lain, Bima dan Mika telah kembali ke dalam kamar. Selesai pembicaraan di ruang tengah tadi mereka langsung menuju kemari.


Alasannya tentu saja karena Bima telah lelah duduk dan ingin berbaring di atas ranjang.


Padahal ketika sudah berada di dalam kamar itu, Bima tak benar-benar tidur, dia justru belajar berjalan dengan bantuan Mika.


Di sisi kanan Mika memapah Bima, sementara tangan kiri pria itu membawa tongkat.


1 langkah Bima ambil dan cukup terasa sakit.

__ADS_1


2 langkah dia ambil lalu berhenti.


Mika yang hanya melihat jadi meringis, seolah bisa merasakan sakitnya juga.


"Apa sangat sakit Mas?" tanya Mika cemas.


Tapi Bima tidak menjawab pertanyaan itu, dia hanya menatap Mika dengan tatapannya yang khas, dingin dan tajam sekaligus.


Dan pada akhirnya Mika hanya mampu mengigit bibir bawahnya sendiri, seolah kembali menelan apa yang sudah dia pertanyakan.


Mas Bima tidak suka pembicaraan tidak penting, lantas kenapa aku mempertanyakan tentang hal itu. Tentu saja masih sangat sakit, kalau sudah tidak sakit Mas Bima pasti langsung berlari. Batin Mika, panjang sekali ucapannya.


Mika juga ikut melangkah saat Bima kembali melangkah. Dan di langkah kedua, Bima pasti berhenti. Terus seperti itu sampai mereka nyaris mengelilingi kamar luas ini. Kamar yang bagi Mika luasnya sudah seperti rumah sang bude.


Mika lantas membantu pria itu untuk duduk di tepi ranjang.


Tanpa kata Mika langsung mengambil segelas air putih dan Bima pun meminumnya hingga tandas.


Ada keringat yang muncul di dahi pak Bima, dan tanpa kata pula Mika langsung menghapusnya menggunakan sapu tangan.

__ADS_1


Dan Bima lagi-lagi hanya diam, tanpa kata seperti ini dia bisa menerima semua perlakuan Mika.


Lain jika sekali saja Mika bicara, dia pasti akan menolak. Atau bahkan memberikan tatapan yang dingin pula.


Yang terakhir, Mika membantu pak Bima untuk menaikkan kedua kakinya di atas ranjang. Membuat pria itu benar-benar beristirahat dengan tenang.


Sejak tadi Mika hanya sibuk dengan Mika, padahal dia juga haus, padahal dahinya juga berkeringat.


Tapi Mika selalu menomor duakan dirinya sendiri, dan yang paling pertama adalah pak Bima.


Selesai dengan pak Bima, barulah Mika menyingkir. Dia duduk di meja belajarnya dan meminum segelas air putih hingga habis, menghapus keringatnya sendiri menggunakan tissue di sana.


Lalu membuang nafasnya perlahan menghilangkan lelah.


Mika menoleh ke arah pak Bima dan melihat pria itu memejamkan mata. Mika tau, pak Bima tidak tidur. Namun pria itu sering sekali memejamkan matanya seperti itu, entah apa yang ada di dalam pikiran pria tersebut.


Dia sangat tampan jika diam seperti itu, tidak menatap ku dengan tajam. Batin Mika.


Sebenarnya apa yang membuat pak Bima begitu dingin, dia benar-benar menutup diri dari semua orang.

__ADS_1


Apa benar hanya gara-gara mama Donita?


Mika terus membatin, terus menatap pria itu saat pak Bima memejamkan matanya.


__ADS_2