
Eps1.
200 tahun yang lalu sebelum masehi. Disebuah Dinasti Naga Biru. Hidup seorang Raja
bernama Yuwen Chen dari kerajaan Dunia Kedua. Raja Yuwen Chen sangat ditakuti, serta dihormati
oleh para rayatnya, dan para sekutunya, Ia sangat pemberani, gagah, berwibawa, dan
terkenal karena ketampanannya yang banyak membuat para putri bangsawan jatuh
hati.
Raja Yuwen Chen, Pria muda berusia 25 tahun sang pewaris tahta termuda dari Dinasti
Naga Biru. Ia dinobatkan sebagai raja termuda di Asia Timur. Raja Yuwen Chen
memiliki seorang ratu, dan dua orang selir, sang Ratu bernama Mei yin, pemegang
kedudukan tertinggi diantara para istri raja. kecantikan dan kecerdasan nya
selalu memikat hati sang raja. Pantas saja jika sang raja sangat memanjakan
ratunya itu. Sedangkan dua selir nya Yihua, dan Xinxin, saling bersaing untuk
mendapatkan perhatian dari sang raja.
Karena tak puas hati dengan perlakuan sang raja, selir Xinxin, dan selir Yihua, berambisi
untuk menyingkirkan Mei yin dari posisinya sebagai ratu di Kerajaan Dunia Kedua.
Telah berbagai cara mereka lakukan untuk menyingkirkan sang ratu, namun Mei yin
bukan lah ratu yang lemah, otak nya lebih cerdik, dan licik dibandingkan kedua
selir tersebut.
Mei yin sang ratu, telah mengetahui niat busuk para selir kepadanya.
Maka, ia meminta Yuwen untuk membangun sebuah istana khusus untuk dirinya sendiri, didalam lingkungan Kerajaan. Raja Yuwen chen tak pernah menolak permintaan sang ratu yang ia sangat cintai itu. Akhirnya, Yuwen chen memerintahkan kepada para pekerja kerajaan untuk segera membangun istana khusus untuk sang ratu.
Istana khusus sang ratu telah berhasil dibangun dengan waktu yang singkat. Malam itu, di dalam kamar istana
Ratu Mei yin, “Istri ku, aku mencintaimu...” Ucap Yuwen Sembari mengecup bibir
tipis milik Mei yin dengan lembut. Yuwen menarik selimut tebal yang berada di ujung ranjangnya, lalu menyelimuti tubuh mereka dengan selimut tebal tersebut. Sepasang suami istri tengah menghabiskan malam yang diterangi sinar rembulan dengan penuh cinta, dan gairah.
Pagi itu, di sebuah aula perkumpulan. “Hormat, paduka yang mulia!” Seru seorang pria paruh baya pada sang raja yang tengah duduk sigap diatas kursi tahtanya.
“Penasehat Jing-min, bagaimana dengan lahan di pulau Yuzu. Apakah orang-orang itu masih memberontak?” Tanya Yuwen chen pada penasehat Kerajaan.
__ADS_1
“Yang mulia, mereka masih meberontak. Mereka menolak memberikan lahan nya pada kita,”
Jawab Jing-min sang penasehat raja, ia mencoba menjelaskan pada sang raja.
“Kalau begitu tidak ada cara lain. Usir paksa para penduduk itu!” perintah nya dengan
lantang.
“Yang mulia… apa ini keputusan dari hati mu? Yang mulia, kenapa anda banyak berubah. Tolong jangan seperti ini yang mulia… bagaimanapun juga, pulau Yuzu adalah pulau yang dilindungi oleh leluhur kita,” Pinta Jing-min memohon.
“Aku tidak pernah berubah, aku hanya menginginkan lahan itu. satu-satu nya cara agar bisa menyelamatkan ekonomi di wilayah kita hanya dengan merebut paksa sebagian lahan dari Pulau Yuzu.” Tegasnya dengan suara tinggi, dan lantang.
“Tetapi yang mulia… para leluhur dinasti naga biru pasti akan merasa kecewa dengan tindakan anda, tolong yang mulia raja, pertimbangkan kembali. cobalah untuk mengenang leluhurmu dulu.” Ujar jing-min kembali memberi nasehat.
“Aku raja nya, semua harus patuh pada perintahku! Segera beritahu pasukan X di Pulau Yuzu, untuk membatalkan genjatan senjata. Dan kirim pasukan pedang XN untuk mengusir para pemberontak itu dari Yuzu. Bagi para penduduk yang masih ingin tinggal disana, pekerjakan mereka sebagai buruh rempah. Esok aku akan datang kesana.” Perintah raja Yuwen kepada seluruh para pejabat didalam aula kerajaan.
Seluruh pejabat kerajaan tidak ada yang berani menolak perintah dari sang raja, walaupun banyak yang merasa kecewa dengan keputusan tersebut.
Raja Yuwen chen yang sekarang memang tampak sangat berbeda dengan Raja Yuwen
chen yang dulu. Setelah sang Raja menikah dengan Ratu Mei yin, sifat raja banyak berubah. Ia menjadi raja yang tamak, dan pemarah. Bahkan penasehat kerajaan Jing-min memberikan nasehat serta saranpun, ia sudah tidak medengarkannya lagi.
~
“Raja Yuwen, hari ini izinkan aku untuk melayanimu.” Ucap selir Xinxin merayu.
Xinxin tampak kesal dengan perlakuan Yuwen yang selalu mengabaikan perhatiannya. Xinxin tak menyerah kala itu, ia terus merayu Yuwen untuk berhubungan dengannya, agar keinginannya untuk bisa segera memberikan keturunan bagi sang raja terwujud. Yuwen hanya terdiam tak berkutik sedikitpun saat jemari-jemari lentik
selir Xinxin terus menggerayang pada tubuhnya, tetapi Yuwen tak bereaksi sedikit pun.
Dari luar seorang dayang penjaga dengan suara lantang memberitahukan kedatangan Ratu Mei yin, “Hormat Ratu Mei yin!” Seru seorang dayang dengan suara lantang. Sang raja menyadari kehadiran sang Ratu. Lalu, ia pun segera memasangkan kembali jubahnya yang telah dibuka paksa oleh selir Xinxin. Yuwen bergegas keluar untuk
menemui Mei yin.
Saat itu Xinxin merasa sangat kesal pada Mei yin, yang sudah pasti dengan sengaja
datang mengganggu waktunya bersama Yuwen. Raja Yuwen menghampiri sang Ratu,
“Mei yin, ada apa?” Tanya Raja Yuwen.
“Rajaku, malam ini tinggallah di istana, aku sangat takut. Aku mimpi buruk tadi… aku
tidak berani tidur sendirian malam ini,” Keluh Mei yin sembari memeluk tubuh Yuwen sangat erat.
Karena Yuwen sangat merasa khawatir pada ratunya tersebut, akhirnya ia menerima permintaan Mei yin untuk menemaninya. Xinxin dengan cepat menarik lengan Yuwen, sehingga membuat langkah Yuwen tertahan,
“Raja Yuwen, hari ini adalah bagianku. bagaimana bisa kamu bersikap seperti ini padaku.” Xinxin mengeluh.
“Selir Xinxin… maaf, kau harus memahami situasi nya. Sekarang Ratu sedang ketakutan,
__ADS_1
aku tidak bisa membiarkannya sendiri di istana.” Kata Yuwen mengalihkan pandangannya pada Mei yin.
"Maafkan aku, selir Xinxin… kali ini raja harus bersama ku sekarang! Sungguh, aku benar-benar sangat takut." Ucap Mei yin pada Xinxin sembari sebelah tangannya menepis tangan Xinxin yang menggenggam erat lengan Yuwen.
Yuwen, dan Mei yin pergi meninggalkan bilik selir Xinxin. Xinxin tak bisa menahan tangisnya. Ia berlari kembali masuk kedalam kamarnya dengan air mata yang sudah membasahi kedua pipinya. Para dayang kerajaan hanya bisa menjadi saksi bisu dalam sebuah drama percintaan antara sang Raja dan para istrinya.
Tak lama kemudian, datang selir Yihua berkunjung, ia ingin bertemu dengan selir Xinxin. Seorang dayang kembali berseru, mengisyaratkan bahwa seseorang telah datang berkunjung. “Hormat selir Yihua!” Seru seorang dayang. Karena Xinxin tidak datang untuk menyambutnya, Selir Yihua memaksa masuk tanpa persetujuan selir Xinxin.
Saat itu, Yihua melihat Xinxin tengah telungkup diatas ranjang tidurnya sembari menangis terisak dengan pakaian tidurnya yang tipis.
Yihua yang saat itu penasaran dengan keadaan yang telah terjadi pada Xinxin, ia mencoba bertanya, “Ada apa selir Xinxin? Apa yang dilakukan raja padamu? bukankah malam ini seharusnya raja bersamamu?” Tanya Yihua penasaran.
“Ya! kau benar. Harusnya Yuwen bersamaku malam ini, tetapi Siluman ular itu datang mengacaukan malamku bersama Yuwen. Dengan otak licik nya itu, dia berhasil merayu Yuwen untuk menemaninya di istana.” Mengatakan dengan penuh emosi.
Xinxin mencoba menjelaskan pada Yihua apa yang telah terjadi pada nya. Lalu, Yihua mencoba merangkul dan memeluk Xinxin seolah-olah bersimpati pada Xinxin. Sebenarnya Yihua hanya menipu, ia hanya memanfaatkan keadaan saja, ia hanya ingin mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi.
Yihua terdiam sejenak, lalu berkata dalam benaknya “Bagus! Xinxin tidak berhasil lagi menggoda Yuwen untuk bermalam bersamanya. Ini kesempatan bagiku agar bisa membuat Yuwen berpaling dari para wanita yang tak berguna ini, aku harus bisa secepatnya memiliki keturunan. Setelah itu, aku hanya tinggal menyusun rencanaku
untuk melengserkan Mei yin dari kedudukannya.”
Didalam kerajaan yang megah, para istri raja tidak pernah akur. Mereka saling memperebutkan kedudukan serta perhatian dari sang raja. Kalaupun diantara mereka saling memberi perhatian, itu hanya sebuah tipuan semata.
~
Saat itu, diatas sebuah ranjang yang penuh dengan taburan kelopak bunga mawar. Yuwen yang tengah merangkul mesra sang ratu, ia berkata dengan lembut, merayu. “Kau begitu cantik istriku... biarkan aku terus disisimu pagi ini ratuku... karena malam ini aku tidak bisa menemanimu,” Ucap Yuwen chen.
“Kau mau kemana rajaku?” Tanya Mei yin sembari mengusap lembut pipi suaminya itu
“Aku akan pergi ke pulau Yuzu, untuk mengurus lahan pertanian yang kau ingin kan
itu. Kau bersabarlah, sebentar lagi pulau itu akan menjadi milikmu.”
“Benarkah? terimakasih rajaku... aku sangat mencintaimu.”
~
Siang itu, Yuwen tengah bersiap dengan seekor kuda hitam yang sudah ia tunggangi. ia
bersiap dengan para pasukan nya menuju Pulau Yuzu. Saat itu sang ratu, dan kedua selir dari tingkat atas menundukan kepalanya untuk memberi penghormatan kepada sang Raja, mereka melepas kepergian sang Raja yang hendak ke Pulau Yuzu. Pintu gerbang kerajaan yang tinggi, telah terbuka lebar. Raja Yuwen mulai memacu kudanya, meninggalkan kerajaan dunia kedua, diikuti oleh para prajurit kerajaan, dan pejabat keamanan.
*ILUSTRASI RAJA YUWEN CHEN by Google.com
"Selamat membaca karya saya... cerita ini sudah saya revisi. Maaf jika cerita ini jauh dari sempurna :) , jika kalian suka dengan cerita ini, silahkan untuk memberikan dukungan untuk author dengan memberikan Vote serta like ya :) ... jangan lupa juga untuk favoritkan jika kalian tertarik dengan cerita ini, agar kalian bisa dapat notifikasi ketika UP episode. Tinggalkan komentar kalian ya, saya juga menerima kritikan loh ^_^. Terimakasih, semuanya... Love you :* ."
__ADS_1