MENIKAHI SANG RAJA

MENIKAHI SANG RAJA
Sebuah rasa yang terlarang...


__ADS_3

Eps.11 MENIKAHI RAJA DUNIA KEDUA


Setelah sang naga raksasa memberikan peringatan pada seluruh orang - orang di kerajaan, seketika naga itu menghilang, dan tiba - tiba saja muncul api berwarna biru mengelilingi seluruh istana.


Yun rong, dan juga Qiang Li yang masih berada disana terperangah melihat keadaan istana. Lalu, dengan cepat Yun rong berlari menghampiri Qiang Li yang


telungkup mencoba untuk bangkit, "Qiang Li, kau tidak apa - apa?" Tanya Yun rong merasa khawatir.


"A.. aku, aku ti.. tidak apa - apa," jawab Qiang Li dengan nafas tersengal.


"Kau terluka cukup parah Qiang Li," ucap Yun rong sembari mencoba mengangkat tubuh Qiang Li.


"Yun rong, bagaimana raja kita..? ," Tanya Qiang Li dengan mata sayu karena tubuh nya yang sudah melemah.


Belum sempat Yun rong menjawab pertanyaan nya, tak lama kemudian, Qiang Li pingsan tak sadar kan diri, Yun rong terkejut dan semakin khawatir dengan keadaan Qiang Li, "Qiang Li.. Qiang Li.. sadar lah!" seraya kedua tangan nya menggoyangkan tubuh Qiang Li. Melihat kondisi Qiang Li yang tak sadarkan diri, ia berteriak keras memanggil para prajurit yang masih selamat dari serangan sang naga biru.


"Hai kalian semua! cepat kemari! Tuan Qiang Li tak sadarkan diri!" Teriak Yun rong pada beberapa prajurit. Dengan cepat beberapa prajurit datang menghampiri, sembari mebawa tandu, mereka dengan segera mengangkat tubuh Qiang Li dan membaringkan tubuh Qiang Li keatas tandu.


"Cepat bawa dia keruang pengobatan!" Perintah Yun rong.


"Siap tuan!" Jawab para prajurit serentak.


Lalu, salah seorang prajurit berlari menghampiri Yun rong. "Tuan, setengah prajurit aston masih ada yang selamat," ucap prajurit tersebut.


"Cepat siapkan tenda darurat, dan panggil prajurit medis untuk segera membawa mereka kesana!" Jawab Yun rong memberikan perintah.


"Baik tuan!" Menjawab perintah dengan sigap.


Saat itu, Yun rong masih berada di dekat istana, dengan mata yang berbinar, ia membungkukan badan nya seolah memberi hormat, seraya berkata dengan penuh penyesalan, "Yang Mulia raja ku, maafkan aku! Berisitirahat lah dengan tenang yang mulia!" Ucap Yun rong.


Huru - hara malam itu, membuat duka bagi seluruh orang - orang di dalam kerajaan. Pertumpahan darah dan sebuah pengorbanan, menyisakan kesedihan yang mendalam. Raja yang selalu di banggakan dan di hormati, kini, telah di kurung di dalam sebuah istana yang berselimut cahaya biru dan di kelilingi api yang terus berkobar tak pernah padam, walaupun curah hujan turun membasahi bumi tetap saja api itu masih terus berkecamuk. Kini sang raja telah menerima sebuah kutukan atas perbuatan nya, ia bagaikan seorang mummy yang terkurung di dalam sebuah peti mati.

__ADS_1


Ke Esokan hari nya di harem, tampak selir Xinxin terbaring lemah belum sadarkan diri. Ia telah di pindahkan dari bilik pengobatan ke bilik kamar nya. Terlihat para dayang kerajaan dengan setia merawat nya.


Tak lama kemudian, datang Ratu Mei yin untuk melihat keadaan selir Xinxin yang masih belum sadarkan diri. "Hormat yang mulia ratu!" Seru para dayang seraya beranjak berdiri memberikan hormat kepada sang ratu.


"Bagaimana keadaan nya?" tanya Mei yin seraya duduk di dekat Xinxin yang tengah terbaring. "Selir Xinxin masih belum sadar yang mulia, telapak tangan nya selalu mengeluarkan keringat dingin." Ucap salah seorang dayang.


Mei yin mencoba meraba telapak tangan Xinxin, ia ingin memastikan ucapan dayang itu, ia mulai memeriksa kedua telapak tangan Xinxin satu persatu. 'Benar, telapak nya sangat dingin, pasti luka dalam nya sangat parah,' Ucap Mei yin dalam benak nya.


"Pastikan kalian terus memantau perkembangannya, aku akan meminta tabib dari kerajaan teratai untuk memberikan pengobatan pada selir Xinxin." Ujar nya seraya memberikan perintah kepada para dayang.


"Baik yang mulia!" Jawab para dayang serentak.


Setelah melihat keadaan selir Xinxin, Mei yin segera meninggalkan bilik kamar Xinxin, di ikuti oleh dua dayang istana. Mei yin pergi menuju ruang kerja milik Yuwen Chen, tampak disana sudah ada penasehat Jing min yang memang sudah menunggu kehadiran sang ratu, "Penasehat jing-min, tolong hantar kan surat pada raja fang min, untuk segera datang kemari. Kita harus meminta bantuan dari kerajaan teratai," Ujar Mei yin.


"Baik yang mulia ratu!" Jawab jing min dengan kesetian nya.


"Beritahu seluruh staff kerajaan agar tidak berkata apapun diluar sana. Keadaan kita sedang sangat genting, aku khawatir para pemberontak menjadikan situasi ini, sebagai kesempatan untuk mereka menyerang kerajaan kita," ...


"Baik yang mulia ratu!" Seraya menundukkan kepala nya.


"Tuan Qiang Li terluka cukup parah yang mulia, sekarang ia sedang di obati di ruang tabib goh." Ucap jing min,


"Kalau begitu aku akan segera kesana untuk melihat keadaan nya," ...


"Apa saya perlu mengantar yang mulia?" ...


"Tidak perlu, aku akan menemui nya sendiri, kau segera laksanakan perintah ku saja!" Ucap Mei yin seraya pergi meninggalkan jing min.


"Baik yang mulia." Jawab jing min.


Sesampai nya Mei yin di bilik pengobatan tabib goh, ia melihat Yihua tengah membersihkan luka pada tubuh Qiang Li, ia mengelap bagian badan Qiang Li yang terluka dengan kain, terlihat tabib goh juga sedang berada disana.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan Qiang Li?" Tanya Mei yin yang masuk secara tiba - tiba,


"Apa kau tidak melihat dengan mata mu?" Jawab Yihua sinis.


Kedua wanita itu saling menatap tajam, Mei yin kemudian mendekati Qiang Li dan duduk di samping nya. Saat Mei yin hendak mencoba untuk membantu tabib goh mengoleskan ramuan pada luka Qiang Li, tiba - tiba Qiang Li tersadar, dan dengan cepat menggenggam pergelangan tangan Mei yin.


Sontak, seluruh orang yang berada disana terkejut melihat Qiang Li yang telah tersadar. "Ah, kau... Telah sadar rupanya," ucap Mei yin yang terkejut saat tangan nya tiba - tiba digenggam erat oleh Qiang Li.


"Tolong lepas kan tangan ku!" Pinta Mei yin sedikit merasa tidak nyaman.


"Maafkan saya ratu... ," Ucap Qiang Li seraya mencoba untuk bangun, tetapi karena luka di pundak nya cukup parah, ia merasa seperti tidak ada tenaga.


"Qiang Li, sebaik nya kau jangan dulu banyak bergerak! Luka mu cukup parah," Pinta Mei yin sedikit khawatir.


Yihua tersenyum sinis ketika melihat gelagat Mei yin yang perduli dengan kondisi Qiang Li. 'Sepertinya rencana ku akan segera dimulai, aku yakin Qiang Li dapat menaklukkan wanita ular ini, aku hanya perlu menunggu dia masuk dalam perangkap ku' ujar Yihua dalam benak nya, ia memandang Mei yin dengan sinis secara diam - diam.


"Aku tidak apa - apa ratu, terimkasih karena sudah perduli dengan keadaan ku." Ujar Qiang Li seraya memandang Mei yin. Mei yin dengan cepat memalingkan pandangan nya, ketika Qiang Li berusaha terus memandang dirinya dengan tatapan yang memikat hati.


"Baiklah, aku akan pergi, selir Yihua sebaik nya kau terus bersama Qiang Li, bantu tabib goh untuk merawat nya." Perintah Mei yin pada Yihua, Yihua hanya memberikan isyarat dengan menganggukan kepalanya sembari terus membersihkan tubuh Qiang Li tanpa menatap wajah Mei Yin.


Saat Mei yin hendak beranjak berdiri, tiba - tiba saja, dengan sengaja Qiang Li menarik tangan Mei yin, lalu ia berkata sangat lembut pada Mei yin, "Ratu Mei yin, jangan khawatir, aku akan terus menjaga mu dan kerajaan ini." Ucap Qiang Li mencari perhatian. Mei yin hanya menganggukan kepala nya, dan mencoba melepaskan tangan nya dari genggaman Qiang Li.


Lalu, dengan cepat ia pergi meninggalkan bilik pengobatan. Setelah Mei yin pergi meninggalkan Qiang Li, terlihat Yihua tersenyum menatap Qiang Li yang saat itu juga tengah tersenyum menatap Yihua. Tampak kedua nya tengah menyiratkan sebuah kepuasan dari rencana yang telah mereka sepakati.


***


Malam itu, di dalam bilik kamar kerajaan milik Yuwen Chen, dari balkon Mei yin terus memandang kearah istana milik nya. Ia terus memandang cahaya yang terang nya mengalahkan sinar bulan di malam itu, serta api yang masih terus berkecamuk mengelilingi seluruh istana.


Tatapan yang kosong, tersirat bahwa dirinya tengah memikirkan keadaan suami nya yang terbaring lemah di dalam istana. "Yuwen, bagaiman keadaan mu? Aku tidak sanggup melihat keadaan ini, maafkan aku Yuwen, kalau saja dulu kau tidak datang memaksa untuk menikahi ku, kau pasti tidak akan seperti ini.. . Demi menemukan batu giok naga biru itu, aku harus rela mengorbankan mu, sungguh maafkan aku!" Ungkap nya sembari terus memandang kearah istana.


Mata nya tak mampu lagi menahan genangan air mata, yang membendung di pelupuk mata, setetes demi setetes air mata pun terjatuh membasahi pipinya.

__ADS_1


▶ Ilustrasi Selir Xinxin



__ADS_2