
Eps2.
Setelah menghabiskan waktu yang panjang, akhirnya raja Yuwen Chen telah tiba di Pulau Yuzu. Raja Yuwen Chen
turun dari atas kuda yang ia tunggangi. para prajurit pengawal dengan cepat mengiringi langkah sang raja, mereka berjalan menuju barak pasukan X, dan pasukan pedang XN yang telah berkumpul untuk memberi penghormatan kepada sang raja. “Hormat Raja Yuwen Chen !” Seru para prajurit dengan suara tegas, dan lantang.
Hari ini, Raja Yuwen Chen memilih untuk tidak membawa penasehat Jing-min bersamanya. Ia sengaja tidak membawa penasehatnya itu, karena ia sudah tahu, jika penasehat jing-min ikut bersamanya, ia akan terus menghalanginya untuk tidak merebut paksa pulau Yuzu. Hari sudah semakin gelap, Raja Yuwen chen tengah beristirahat, sedangkan para pengawal bersiap siaga, berjaga diluar barak sang raja. Saat Yuwen tengah bersantai di ranjangnya, ia mendengar suara kebisingan dari arah luar. Terdengar suara tangisan anak kecil, dan suara
bentakkan dari seorang pengawal.
“Beraninya kamu mencuri makan malam raja kami! anak kurang ajar!” Bentak seorang pengawal dengan suara keras.
Suara bentakan seorang pengawal tersebut, membuat anak itu menangis, dan ketakutan.
"Hik ...Hik ... Hik ..." (suara tangisan).
Akibat dari kebisingan itu, Yuwen merasa terganggu, dan akhirnya iapun terpaksa bangkit dari ranjangnya, dan pergi keluar menuju tempat kebisingan tersebut. Setibanya di luar, ia melihat pengawalnya tengah memarahi
seorang anak laki-laki, yang tingginya sekitar 130cm. Ia juga melihat sang pengawal menyeret paksa anak itu.
Yuwen Chen merasa tidak tega melihat seorang anak kecil diperlakukan seperti itu. Lalu, dengan cepat ia menghentikan langkah pengawalnya.
“Hentikan!” Perintah Raja Yuwen Chen pada seorang pengawal yang tengah menyeret paksa anak laki-laki tersebut.
Pengawal itu merasa terkejut saat mendengar suara sang raja, “Yang Mulia…” Ucap si pengawal sembari badannya membungkuk, member tanda hormat.
“Apa yang telah anak itu lakukan, sehingga kau menarik paksa anak itu?” Tanya Yuwen dengan suara tinggi. Yuwen berjalan mendekat.
“Maaf yang mulia... anak ini telah mencuri sebagian makan malam mu, yang mulia! anak ini datang secara diam-diam,” Si pengawal menjelaskan apa yang sudah terjadi.
Anak laki-laki itu semakin takut, dan akhirnya iapun mencoba meyakinkan sang raja agar tidak dihukum atas
perbuatannya. “Raja! aku mohon maaf kan aku... aku sangat lapar. Adikku Xiaomei juga belum makan seharian. Ibuku sedang sakit, aku hanya ingin meminta satu buah apel saja yang mulia raja,” Ungkapnya dengan isak tangis.
Yuwen terdiam sejenak sembari memandangi anak itu.
Tak lama kemudian, datang seorang wanita paruh baya dengan wajah yang sangat pucat, memaksa menerobos masuk. Wanita tersebut berteriak memanggil nama seseorang, "Lai! anak ku..." Panggil wanita tersebut. Rupanya, wanita itu adalah seorang ibu dari anak laki-laki yang tengah ditahan oleh pengawal dihadapan sang raja. Anak laki-laki tersebut menyadari kedatangan sang ibu, dengan kuat ia berteriak “Ibu!!" balas anak lelaki itu berteriak. Namun, Para pengawal berhasil menangkap seorang ibu yang mencoba berlari ke arah raja.
Yuwen yang mendengar suara wanita tersebut, ia langsung membalikkan badannya. Seorang ibu itu berteriak histeris. Ia memohon ampun untuk anak nya, sembari menangis. “Raja, tolong ampuni kami... maaf kan anakku, raja kumohon,” Pintanya sembari meronta, karena para pengawal tengah menahan tubuh nya yang mencoba menghampiri sang raja. Yuwen merasa kasihan pada ibu, dan anak tersebut. Akhirnya, ia meminta para pengawalnya untuk melepaskan anak itu, dan juga ibunya.
“Lepaskan anak ini! dan juga ibunya…” perintahnya pada para pengawal.
Para pengawal akhir nya melepaskan anak lelaki itu. Dengan segera anak itu berlari kearah ibunya. Wanita itu
__ADS_1
langsung memeluk anak lelak nya, dan tak lupa berterimakasih kepada sang raja karena telah
melepaskan anaknya.
“Terimkasih, raja. terimakasih banyak.” Wanita itu, dan anaknya berlutut dihadapan raja Yuwen sembari menangis.
“Berikan semua makan malam ku pada mereka. aku sedang tidak selera makan, dan cepat suruh mereka pergi dari sini!” Perintah Yuwen dengan lantang kepada para pengawalnya.
“Tetapi yang mulia raja…” seorang pengawal merasa keberatan.
“Ikuti saja perintah ku! Jika kalian ingin selamat.” ancamnya.
“Ba, baik, yang mulia raja!” merasa panik, pengawal tersebut bergegas membungkus semua makanan, dan memberikannya kepada ibu, dan anak tersebut.
Yuwen chen pergi meninggalkan ibu, dan anak itu lebih dulu, dan kembali masuk ke dalam campnya, dengan wajah yang dingin tanpa berbicara sepatah kata pun pada mereka.
~
Keesokan harinya di pulau Yuzu, Raja Yuwen Chen tengah bersiap menuju pemukiman penduduk desa Yuzu. Sang raja dikawal oleh para pasukan pedang XN. Saat dalam perjalan melewati hutan, tiba-tiba mereka di hadang oleh empat orang pria berpakaian serba hitam, dan menutup sebagian wajah nya dengan kain berwarna merah. Masing-masing dari ke empat orang itu membawa pedang samurai yang sangat tajam ditangannya.
“Berhenti !” perintah seorang pria yang menghadang jalan sang raja.
Langkah raja Yuwen chen, dan para pasukannya terhenti. Seluruh prajurit pasukan pedang XN bersiaga melindungi
“Beraninya kalian menghalangi jalan raja kami! Para prajurit angkat serang!" Seru kepala prajurit pedang XN
memerintah kepada para pasukan. Para pasukan pedang XN mengikuti perintah kepala prajuritnya itu.
'shrengggggg....' (suara pedang dicabut dari sarungnya).
Saat para prajurit akan menyerang, raja Yuwen Chen yang pada saat itu berada diposisi paling depan, dan didampingi oleh Kepala prajurit pedang XN, dengan cepat ia mengangkat tangan kanannya, ia memberi isyarat untuk menghentikan langkah para prajuritnya yang bersiap akan menyerang. Langkah para prajurit pun terhenti, “Yang mulia!” seru sang kepala prajurit merasa heran dengan sikap raja Yuwen Chen yang menghentikan para pasukan untuk menyerang karena ingin melindungi rajanya tersebut.
Sang raja bertanya kepada empat orang pria yang tiba-tiba datang menghadangnya, "Mau apa kalian?" Tanya raja Yuwen chen.
“Cepat pergi tinggalkan pulau ini!” Perintah pria misterius itu dengan tegas.
Raja Yuwen chen menyadari, ternyata keempat pria misterius itu adalah para pemberontak yang selama ini menolak memberikan pulau Yuzu pada raja Yuwen chen. Dengan sinis Yuwen berkata, “Tidak akan pernah!” ucap Yuwen dengan suara lantang sembari mengepalkan kedua tangan nya.
Yuwen merasakan sesuatu disekeliling hutan tersebut, dengan matanya yang tajam, ia menyadari bahwa bukan hanya empat orang saja yang menghalangi jalan mereka. Lebih dari empat orang di hutan sana, sekomplotan misterius itu telah mengepung seluruh hutan. Dan benar saja, tiba-tiba beberapa prajurit pasukan pedang XN diserang dari arah semak-semak. Lalu, serangan anak panah datang bertubi-tubi.
*PUSHHHH (melayangkan anak panah).
Anak panah menancap pada tubuh salah satu prajurit. Kericuhan mulai terjadi. Lalu, datang anah panah mengarah pada Yuwen, dengan cekatan Yuwen berhasil menghindar. Anak panah itupun meleset. Yuwen menarik pedang naga saktinya yang sangat mengkilat, dan tajam. Ia tarik pedangnya tersebut dari sarung pedang yang ada di belakang punggung nya. Dengan gesit ia menyerang empat pria yang ada dihadapannya.
*'Shrenggg ...'
__ADS_1
“Tidak akan kuberi ampun kalian!!” Seru raja Yuwen chen kepada para pemberontak.
Pada saat Yuwen mulai menyerang, keluarlah para pasukan pemberontak dengan tombak runcing dari arah semak-semak, mereka bersorak, dan menyerang para pasukan pedang XN. Bunyi pedang beradu terdengar begitu nyaring. Kepala prajurit XN membantu sang raja yang tengah dikepung oleh empat pria misterius.
'Treng … Treng ... Treng ...' (suara pedang beradu).
Tiba-tiba saja, dari arah samping kiri, anak panah menancap tepat di lengan Yuwen chen.
“Arrghh ...” desah Yuwen merasakan sakit, akibat panah yang menancap dilengannya.
“Yang mulia!!” Teriak kepala prajurit khawatir.
Lengan Yuwen chen sudah banyak mengeluarkan darah. Tetapi ia tak berputus asa, baginya itu hanya luka kecil biasa. Ia mencabut paksa anak panah yang menancap di lengan nya itu, ia genggam anak panah yang telah ia cabut dengan kuat, lalu dengan sekuat tenaga, ia melemparkan anak panah tersebut dengan tangan kanannya. Ia lempar anak panah itu pada salah satu dari empat pria dihadapannya, hingga akhirnya panah tersebut menancap tepat pada dahi salah seorang dari empat pria misterius tersebut. 'Jlebbbbbb ....' Kini hanya tersisa tiga pria dihadapnnya, ketiga pria tersebut terperanjat melihat salah satu rekannya mati terbunuh oleh serangan raja Yuwen chen. Mereka tidak terima, dan kembali menyerang Yuwen chen.
Tak lama kemudian, bantuanpun datang menghampiri. Pejabat keamanan Yun rong, dan para prajurit X kerajaan Dunia kedua datang dengan menunggangi kuda, mereka datang untuk menyelamatkan sang raja. Mereka semua menyerang, dan berhasil menangkap seluruh pasukan pemberontak yang bersembunyi di antara semak-semak belukar. “Tangkap, dan habisi para pemberontak itu!” Perintah kepala pejabat keamanan Yun rong.
Keadaan di hutan semakin ricuh. Saat itu, tak banyak para prajurit XN yang gugur, mereka unggul dalam menyerang para pemberontak.
Akhirnya seluruh pemberontak dapat di taklukkan, mereka semua terkepung, dan di tahan. Prajurit X, dan
prajurit pedang XN telah berhasil menangkap seluruh pemberontak yang bersembunyi. Begitupun dengan tiga pria yang menyerang sang raja. Satu persatu telah tertusuk mati dibagian perut, dan dada oleh pedang naga sakti milik Raja Yuwen chen. Singkat cerita, pedang naga sakti itu adalah peninggalan dari sang ayah, yang diwariskan kepada raja Yuwen chen, saat ia masih berusia 12 tahun. Konon pedang itu akan bersinar ketika bulan purnama tiba, setelah pedang itu menebas beberapa korban.
“Yang mulia raja, anda tidak apa-apa?” Tanya Yun rong khawatir.
“Aku tidak apa-apa, hukum mati para pemberontak itu!” Perintah Yuwen tanpa belas kasihan.
“Baik, yang mulia.” Yun rong mengikuti perintah.
Yuwen menarik ikatan tali putih pada rambutnya yang hitam panjang. Ia membiarkan rambut panjangnya itu terurai
menjuntai. Lalu, ia mengikatkan tali tersebut pada luka dilengannya. Ia menancapkanpedang saktinya tersebut ke tanah, untuk menyangga lengannya yang akan ia balut dengan tali karena terluka akibat bekas panah yang menancap. Setelah tali itu terikat pada luka dilengannya. ia mencabut kembali pedangnya dari tanah.
Saat ia menarik pedangnya tersebut, pedang itu memantulkan kilapan cahaya yang menyilaukan.
Yuwen chen memasukan kembali pedangnya kedalam sarung pedang dibelakang punggungnya, tanpa membersihkan terlebih dahulu sisa darah yang masih melekat pada pedangnya. Tatapan Yuwen begitu tajam, dia terlihat sangat marah. Para pemberontak ini telah membuat nya semakin berambisi untuk merebut Pulau Yuzu, pulau yang sebenarnya telah dilindungi oleh Dewa Elang.
Setelah semua para pemberontak itu di hukum mati di tempat, raja Yuwen, dan pasukannya kembali melanjutkan
perjalanan mereka menuju desa Yuzu. Desa yang tidak terlalu jauh dari hutan dimana mereka di serang.
*ILUSTRASI RAJA YUWEN CHEN by Google.com
__ADS_1