Menikahlah Denganku !

Menikahlah Denganku !
*EPISODE 17*


__ADS_3

Luna keluar dari kamarnya, berpenampilan bak putri kerajaan. Tubuh mungilnya dibalut dress berwarna salem yang senada dengan warna kulitnya. Dilengkapi highill silver yang menunjang penampilannya. Tak luput, terselip mahkota mini ditatanan rambut panjangnya.


"ini apa sih put? Kenapa aku harus pake kaya gini coba?" Luna mencoba protes pada sahabatnya yang sedari pagi sudah menyibukkan diri mendandaninya. Tiada jawaban yang meringankan rasa penasaran dihati Luna selain sudah, nurut saja. Huh!! Di pikir, dia sedang berhadapan dengan boneka barbie yang tidak bisa bicara. Memainkan sesuka hatinya, tanpa permisi dan dengan mudahnya membawa nya pergi begitu saja.


Di sepanjang jalan, Luna hanya asyik menyapa pepohonan yang melambai-lambai menyambutnya. Putri juga, tak bersuara sepatah kata pun. Kalaupun ditanya, ia hanya akan menatap Luna penuh rasa tidak suka.


Ia juga menyita barang pribadi Luna, tanpa meninggalkan handphone ataupun sepeser uang. Ah! Hanya jemari yang bisa ia mainkan tanpa larangan.


Mobil melambat, mencari tempat berteduh . Mengitari taman Anggrek hingga keujung jalan. Mata Luna terpaku pada suasana taman yang berbeda. Banyak hiasan pesta kekinian. Jajanan-jajanan pasar, favourite Luna berjajar rapi didalamnya.


"Sampai kapan tuan Putri diam begitu saja. Apa tuan putri tidak berkenan menikmati pesta?" Putri membuka pintu mobil Luna, lalu tersenyum ramah bak dayang-dayang yang menyambut ratunya.

__ADS_1


"pesta?" Luna turun dari mobil.


Kakinya menelusuri jalan yang telah digelarkan karpet merah, hiasan cantik menyambut dikanan kirinya. Langkahnya terhenti seketika melihat laki-laki yang berdiri tegak membelakanginya. Ia mengangkat alisnya, sungguh hatinya sedang bertanya dalam kebingungan.


" kenapa hanya diam saja. Apa kau tidak mengenalku?" laki-laki itu membalikkan tubuhnya. Tangannya memegang sebatang mawar merah, gantian dia yang melangkah mendekati Luna.


"Bas?" Luna mengerti. Ada bastian didepannya.


"Surpriseeeeeee!!!"


Semua sahabatnya keluar dari persembunyian, mereka berteriak dan bersiul untuk keberhasilan rencana mereka. Gelak tawa bersaut-sautan. Terlihat Carissa sudah membaur, dan tampak sudah kembali ceria.

__ADS_1


"sorry ya Lun, karena gue proses jadian kalian harus drama dulu. Hahaha!" Carissa memeluk tubuh mungil sahabat nya.


"Carissa, ini rencana kamu?"


Carissa mengeryitkan alisnya, lalu memeluk mesra tubuh mungil sahabatnya.


Banyak tamu undangan dadakan yang ikut menjadi saksi dalam acara tersebut. Kecuali, Tsania dan Deven mungkin. Jika mereka tidak memaksakan diri dan membuang rasa malunya, sepertinya mereka tidak akan menampakkan batang hidupnya.


Bastian menyapa tamu yang memang notabennya orang-orang penting dalam urusan pekerjaan dia. Salam lembut darinya disambut tepukan dan siulan ucapan selamat. Pandangan Luna berputar mengitari setiap sudut tempat acara, melukis senyum ketika bertemu mata yang juga sedang memandanginya. Hingga, berakhir pada sosok laki-laki yang baru memasuki taman. Tidak ia rasa, kini Luna berada dibelakang laki-laki yang asyik bercengkrama dengan Carissa.


"hei Lun, arw you OK?" Putri menupuk pundak Luna yang masih asyik memandangi laki-laki itu. Carissa tidak menengok karena awalnya tidak melihat Luna di belakang lawan bicaranya. Begitu pula laki-laki itu, ia membalikkan badan mendengar pertanyaan Putri.

__ADS_1


__ADS_2