
"mbak Yu?" Wati menyapa Sri, yang sibuk membereskan gelas-gelas bekas para tamu.
"Wa-wati." Jawabnya terbata.
Sri menunduk kala berhadapan dengan Wati, tingkahnya seperti menyembunyikan sesuatu. Gelagat yang tidak biasa Wati lihat pada diri Sri. Namun, ia mengabaikan firasatnya.
"makasih yo mbak yu, berkat sampean. Luna ketemu bos sekaligus suami yang baikk banget." kata wati seraya memegang lengan Bastian.
Sri, tidak berani menatap tuan mudanya, yang tak lain suami dari keponakan dia. Benar-benar ada hal yang mengganjal. Luna menatapnya heran, justru bastian menyeringai sinis.
***
Fashback
Tak tak tak
__ADS_1
Suara sepasang sepatu itu, kini memenuhi isi ruangan. Semakin mendekat, semakin menambah kencang degup jantung Sri yang telah berdiri kaku dan menunduk. Ia melihati lantai seolah mencari debu yang masih tersisa. Tubuhnya bergetar kala, laki-laki dingin itu tegap didepannya. Menatapnya penuh amarah dan melemparkan beberapa lembar kertas diatas meja, dekat Sri berdiri.
"kamu bisa jelaskan?" laki-laki itu memulai pembicaraan nya.
"ss sa saya " jawab Sri gagu.
"jangan katakan tidak tahu, jika kamu masih ingin hidup bebas." laki-laki itu mengancam.
"maafkan saya tuan," Sri menjatuhkan tubuhnya.
Perempuan paru baya itu berlutut dihadapan Bastian, yang sangat dan begitu marah terhadapnya. Ia menangis dan memulai berbicara dengan nada penuh penyesalan. Ia menceritakan kelakuan buruknya. Membuat keluarga Wati berantakan, membiarkan perceraian dan kesalah pahaman tumbuh diatasnya. Membumbui masalah dengan cara pandangnya.
***
"aku tak ke belakang dulu yo Wat." Pinta Sri.
__ADS_1
Wati kini tertegun, menatapnya penuh tanda tanya. Menyelidik setiap garis dari diri Sri, tidak ada yang aneh! Hanya dia berbeda!
"dia kekasihmu?" Seru Shafeera, menatap sinis pada Tsania.
"ah, bukan! Dia hanya temanku." Deven melepas tangan Tsania yang melingkah dilengannya.
Tsania memperhatikan sekujur tubuh Shafeera, matanya ingin mengatakan jika dia pernah melihat gadis itu, tapi ingatannya sulit untuk mengenalinya.
"lo?" Tsania menatap sengit Shafeera.
Gadis itu, kini tersenyum ramah dan mengulurkan jemarinya yang manis.
"Gue, Shafeera. Partner kerja Bastian.." Nada bicaranya tidak meyakinkan jika dia Carissa. Deven dan Tsania juga tidak sedikitpun menaruh rasa curiga kepada gadis yang menjadi primadona di pesta Luna itu.
"Hallo, Bu Shafeera. Terimakasih kedatangannya. Padahal, baru beberapa hari ini kita kerja sama." Bastian yang baru saja datang meyakinkan. Ia menjabat tangan Shafeera, dan berbicara dengan tegas. Kini, ia membawa kepada Luna dengan alasan akan memperkenalkan, padahal ia hanya akan mengelabuhi Deven.
__ADS_1
" Dia sangat Cantik, cerdas pula. " Deven menatap langkah Shafeera penuh kekaguman. Matanya, menggambarkan jika dia ingin memiliki gadis itu. Membawanya kedalam dunia nya , menyombongkan jika dia miliknya. Ah! Aku akan berusaha. Batin Deven seraya tersenyum yang mengundang rasa penasaran Tsania.
"lo naksir, sama dia?" ada rasa kecewa di pertanyaan Tsania. Ia memendam rasa selama ini terhadap Deven, ya walaupun cintanya takm seutuh saat dia mencintai Bastian. Namun kenyamanan yang Deven berikan,meluluhkan hatinya. Membuatnya, bertahan dan ingin membuka lembaran baru, membuang semua rasa luka saat tidak mendapatkan cinta Bastian. Hatinya memang selalu dendam, dan berharap bisa merusak hubungan Luna dan Bastian. Namun, nuraninya selalu mengatakan senang saat asyik dengan Deven.