
Luna menelusuri jalanan berbatu di desanya. Memilih tempat yang tenang untuk menghirup udara segar, memikirkan semua tentang keputusannya. Hatinya membenarkan apa yang ibunya katakan. Karena, bukan hanya dia yang tersakiti, melainkan Bastian akan merasa jauh lebih sakit dari yang dia rasakan. Namun, logika nya menolak dengan tegas dan membantah jangan! Kau jangan kembali!
**
"Dit, lo yakin ini jalannya? Buruk banget!" keluh Bastian saat sampai dijalanan bebatuan yang mulai rusak dan sulit dilewati.
"gue emang udah lama ngga pulang, tapi gue ngga lupa jalanan ini. Sabar, rumah ibuk ngga jauh dari sini." Jawab Aditya santai.
Perjalanan yang mereka tempuh memang tidak sebentar, belum lagi ditambah padatnya pengguna kendaraan bermotor sekarang, menambah waktu perjalanan mereka. Kiara, anak Aditya yang baru berusia 18 bulan tidak sekalipun menangis. Jika tidak tidur, ia hanya akan mengajak mamanya bercanda, menyanyi dan berbicara dengan bahasa dia sendiri. Mungkin, hatinya bisa merasakan kemana ia akan dibawa pergi.
Mobil mulai melambat dan berhenti disebuah rumah sederhana dan minimalis. Aditya turun dan diikuti Bastian juga Pricilla yang menggendong Kiara.
"ini rumah ibu lo?" tanya Bastian ragu.
"heh! Kalo rumah ibuk sebesar rumah lo, mana mungkin Luna bisa kenal sama lo." Jawab Aditya sinis.
__ADS_1
"Udah.. Udah... Yuk masuk." Pricilla menengahi.
**
Putri menangis sesenggukan saat dokter mengatakan jika hingga tiga hari kedepan tidak ada perkembangan dari Carissa, maka semua alat bantunya akan dicabut. Putri merasa terpukul dan tidak sanggup jika harus merelakan Carissa secepat itu. Namun, ketika dia menolak apa yang dokter katakan, dokter hanya menjawab "akan lebih kasihan jika kita terus membiarkan Carissa seperti ini. Ia tidak merasakan hidup, tapi tidak juga mati."
Putri mencoba berunding dengan Marvel dan menghubungi keluarga Carissa yang hingga tiga minggu selama Carissa dirawat, tidak ada yang menjenguk keadaan putrinya. Marvel mendengus dan memaki mereka saat tidak ada respon saat dihubungi.
**
Mata Aditya berkaca-kaca,ia paham jika gadis kecil itu adik bungsunya, walaupun dia sudah tidak mengenali wajahnya yang telah banyak berubah dan tumbuh menjadi remaja yang sangat cantik nan manis, namun ia ingat dengan gingsulnya yang sama persis dengan Luna.
"Ratna?"
"iya, mas siapa?" Gadis itu sudah benar-benar pangling dengan kakak pertamanya. Ia masih terlalu kecil saat Bapak dan kakaknya pergi. Ia berusia 7 tahun kala itu.
__ADS_1
"Ini mas Rat, Mas adit? Ratna inget kan?" jelas Aditya sambil memegang erat kedua pundak Ratna.
Ratna memilih mundur beberapa langkah dan melepas pegangan Aditya. Ia sangat membenci laki-laki yang kini berdiri didepannya.
"'enggak! Ratna sudah ngga punya mas,mas Ratna udah mati. " bulir-bulir kristal kini memenuhi kelopak mata Ratna.
Bastian dan Pricilla saling melempar pandang, mereka bingung harus bagaimana menjelaskan dan berbicara terhadap Ratna. Sayup-sayup terdengar suara seorang ibu dari dalam rumah.
"Siapa nduk?"
Ibu paruh baya itu mendekat kepada mereka, awalnya ia tidak mengenali Aditya. Hingga Aditya tak kuasa menahan kerinduannya terhadap ibu yang telah melahirkannya. Aditya menyeret kakinya yang mulai lemas, lalu ia menjatuhkan tubuhnya didekapan sang Ibu. Bu Wati, mulanya bingung, namun ia baru menyadari saat Aditya mencium kakinya dan memohon ampun.
"Buk, saya Aditya buk. Ibuk inget kan buk? Maafin Adit, maafin Bapak. Adit udah durhaka, adit durhaka buk" Aditya menangis.
Bu Wati mulai meneteskan air mata, sekejap pandangannya kosong. Ia lalu mengangkat tubuh anaknya yang memohon ampun terhadapnya. Ia memeluk erat tubuh laki-laki yang tumbuh tampan itu. Bukan dia tidak menghargai atau tidak percaya terhadap Luna, namun walau bagaimana pun keadaannya Aditya adalah darah dagingnya. ialah yang telah susah payah melahirkan dan membesarkan anaknya. Ratna,awalnya sangat menolak dan marah. Ia tidak terima jika ibunya dengan sangat mudah menerima kembali kehadiran Aditya. Namun, setelah Bastian mencoba menjelaskan, ia luluh dan menyadari jika Bu Dhe nya lah yang telah bersalah.
__ADS_1