
Dekorasi yang indah, dengan tema outdoor. Dari sudut kesudut, tampak mewah dengan gemerlap lampu\-lampu hias nan cantik. Dedaunan kering yang sengaja disebar menambah kesan menyatu dengan alam. Tamu undangan mulai memenuhi tempat, putri, Marvel dan Bu sandra tampak sibuk menyapa tamu. Aditya memperkenalkan abu Wati dan Ratna pada tamu yang Adit kenal. Acara yang sakral, namun megah dan mewah. Bastian sudah berhadapan dengan penghulu, ia dengan santai menjabat tangan laki\-laki yang akan menikahkan dia dan dengan santai pula ia menjawabnya. Sesuai permintaan keluarga, mempelai wanita akan mendekat saat semua sudah mengatakan *sah*!.
Luna menuruni anak tangga dengan anggun, suara sepatu nya yang lembut, dan dengan balutan gaun berwarna putih menjadi saksi bisu kecantikan Luna. Semua tamu seperti telah terhipnotis, mereka semua tertegun menyaksikan gadis mungil yang telah beranjak dewasa itu. Senyuman manisnya kian melebar, saat kakinya telah sampai dianak tangga paling bawah. Bastian melangkah maju dan membungkuk serta menyematkan cincin dijari manis Luna, yang telah sah menjadi istrinya. Semua yang hadir memberi kan tepuk tangan dan siulan.
Brakkkk
"sorry, sorry, gue ngga liat!"
"shiiit!! Lo punya ma.." Deven tercengang.
Ia memperhatikan garis wajah wanita berambut sebahu itu.
"sorry..." wanita itu mengulang kata-katanya.
"its OK, gue juga kurang hati-hati" Deven tersenyum.
__ADS_1
Deven mulai tertarik dengan gadis itu, menurutnya ia sangat ideal. Cantik, anggun dan sopan. Selama acara, ia terus memperhatikan gadis itu, yang membuatnyq sulit berbaur.
"eh..." Deven menarik tangan Gadis itu.
"iya?"
"eh, sorry! Ini... Gue Deven?" Deven mengulurkan tangan.
"gue, Shafeera " jawabnya seraya tersenyum tanpa menyambut uluran tangan Deven.
"Carissa udah dateng?" Bisik Luna yang tidak melihat Carissa sedari awal acara tadi.
"noh" Putri memberi kode dengan matanya.
Wajah Luna tampak khawatir, ia takut jika rencana sahabatnya itu akan merugikan dirinya sendiri. Ia takut, jika justru dia yang kembali terjebak dalam lubang cinta yang salah.
__ADS_1
"sudahlah, kamu jangan terlalu memikirkan dia." Bastian menasehati.
Putri pun satu pemikiran dengan Luna, ia khawatir dan takut jika sahabatnya yang akan merasakan sakit hati untuk kedua kalinya.
--
"bu Luna sama Bastian kan udah suami istri sekarang. Nanti, biar mereka tinggal sama saya dulu ya." Pinta Bu Sandra.
Bu Wati tersenyum. "ngga apa-apa Bu, yang penting Luna nya nyaman, ibu juga tidak keberatan."
"aduh bu. Dari dia masih kuliah, saya pingin sekali kalo Luna tinggal dirumah. Tapi, dia nya yang nolak. Katanya ngga enak," Jawab Bu Sandra sambil tertawa.
Kedua pihak keluarga mulai mebaur, bercanda dan tertawa bersama. Tidak ada perbedaan yang tampak mata, walaupun secara finansial, Luna tidaklah lahir dari keluarga kaya harta. Namun, ia lahir dari keluarga yang kaya akan kebaikan. Ia tulus, sama seperti ibunya. Ia baik, sama pula seperti ibunya. Bahkan, rasa sungkan dan tidak enakannya sudah jelas turun temurun dari ibunya.
Kini, Aditya dan sang istri meminta Ratna juga Bu Dewi untuk tinggal dirumah mereka.
__ADS_1