Menikahlah Denganku !

Menikahlah Denganku !
Season 2 : Putri kecil


__ADS_3

Ellena telah tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik dan anggun. Memiliki wajah oval dan tubuh tinggi nan ramping membuatnya terkesan menawan. Ia duduk di bangku SMP, dan memilih sekolah yang memiliki fasilitas lengkap. Banyak perempuan cantik dan berkelas di sana, tapi Ellena tetap menjadi primadona di antara yang lainnya.


Baiknya, Ellena bukanlah perempuan yang menyombongkan miliknya. Hidup dengan bergelimang harta tak membuatnya menjadi perempuan angkuh dan sombong. Ia justru terkesan lembut, dan sangat mewarisi sifat alami sang mama.


"Pagi ma. " Ellen mengecup pipi Luna ketika baru sampai di meja makan.


"Pagi sayang," Luna tersenyum ke arah putrinya." Mau mama siapkan rotinya ?" Imbuh Luna begitu menatap anak gadisnya.


"Tidak perlu ma, Ellen kan sudah besar. Ellen bisa siapkan ini sendiri." Ellen menarik dua lembar roti. Mengolesinya dengan selai cokelat, lalu menaburi dengan keju serut yang sudah Luna siapkan.


Putri kecil, yang terlahir setelah pernikahannya dengan Bastian, bos yang tak pernah ia tebak bakal menjadi suami dan ayah dari anak-anaknya. Cinta memang terkadang buta, tidak pernah memilah antara kasta dan derajat. Tidak peduli betapa luasnya laut membentang memisahkan jarak mereka.


"Papa belum pulang ma ?" Tanya Ellen di sela-sela makannya.


"Nanti siang sayang." ucap Luna dengan senyuman merona.


"Oh..."Ellen mengangguk, menyertakan bibir yang membulat sempurna .


Sepuluh menit mereka bungkam, menikmati hidangan kecil di pagi mereka. Nasi dan satu gelas susu cukup mengenyangkan dan menjadi energi tersendiri yang mendobrak semangat mereka.


"Ellen berangkat ya ma..." Ellen bangkit dari kursinya. Ia meraih jemari Luna untuk berpamitan, mengecupnya dengan sopan lalu meninggalkan sekilas kecupan di pipi sang mama.


Ellen memang terbiasa hidup manja, dan selalu mamanya yang memenuhi kebutuhan pribadinya. Namun, semua tidak membuat Ellen menjadi gadis yang selalu bergantung, bahkan bertingkah layaknya putri dari seorang bangsawan.


Gadis itu melangkah masuk ke dalam mobil. Melambaikan tangan ketika Luna turut mengantarnya sampai ke ambang pintu utama.

__ADS_1


Jarak sekolah dengan rumahnya tidaklah terlalu jauh. Hanya membutuhkan beberapa waktu untuk membuatnya sampai di sekolah. Ellen melangkah turun, lalu mengucap rasa terima kasih kepada sopir pribadinya.


"El.." panggil seseorang begitu Ellen turun dari mobil. Tampak, seorang pria dan perempuan sedang berlarian kecil kearahnya.


"Ashlan, Auryn ?" Ellen memiringkan kepala. Menengok pada sumber suara yang sedang menarik perhatiannya. Mereka berdua adalah sahabat baik Ellen sejak SD. Bahkan Ashlan sampai memendam rasa, tapi tak kunjung di sadari oleh Ellen.


"Papa lo belum balik El ? Kok sama sopir mulu.." Celetuk Auryn begitu mereka sampai di hadapan Ellen. Bukan hal aneh lagi untuk mereka saling berkata dengan bahasa mereka. Kadang, terkesan kasar tapi tetap menjadi hal wajar untuk ketiganya. Apalagi Auryn, ia memang sulit untuk di suruh lebih diam. Selalu merasa lelah, jika rahangnya tidak bergerak beberapa menit.


"Nanti siang. Awas aja gue aduin loh, " ancam Ellen seraya tertawa ringan.


Ketiganya melangkah masuk, melewati lorong panjang yang menghubungkan antar ruangan. Sekolah Ellen merupakan sekolah bergengsi di kotanya. Terletak di pusat kota, dengan bangunan yang megah, nan menyejukkan mata.


"El, ke kantin dulu ya, " Ashlan meraih jemari tangan Ellen, membuat gadis kecil itu tercengang beberapa detik. Merasakan ada hal aneh yang menyengat hati. Menjalar semakin dalam mengenalkan pada kalbu.


"Ellen saja nih yang di ajak ? Gue engga ? tega bener dah kalian berdua, " Suara Auryn yang menggema, membuat Ellen segera sadar. Menepis tangan yang masih kuat menggenggam lengannya.


"Sekarang, kamu mau kemana ? " Ashlan menghentikan kembali langkah Ellen yang baru saja ia seret.


"Eh, gimana Ash ? Kamu ? kagak salah tuh, aku-kamu ?" Auryn menyenggol Ashlan dengan lengannya.


"Maksudnya..hmm...Lo El, lo mau kemana ? Gak asyik banget, gak barengan sama kita."


"Iya nih. Gimana sih Ellen," imbuh Auryn membenarkan ucapan Ashlan.


"Ha ha , bukan gitu. Aku harus ke perpus dulu, ada buku yang perlu aku cari."

__ADS_1


"Kutu buku," Ledek Auryn dengan lantang. Gadis itu sudah menarik tubuh Ashlan, menyeretnya kasar untuk membawanya ke kantin. Begitulah tingkah mereka, selalu ada hal yang mencairkan suasana.


Ellen sengaja menolak ajakan Ashlan, karena jantungnya terus saja berdegup sulit untuk doi kendalikan. Gerakan seragam putihnya, terlihat jelas jika dadanya terus terdorong karena rasa yang membuatnya menghindar.


Ellen segera berlalu, melewati lorong panjang dan barisan anak-anak yang bergerombol dan bercengkrama sebelum pelajaran di mulai.


Di sudut lorong, terdapat perpustakaan yang menyatu dengan alam. Berbatas kaca, tapi selalu terkesan hening dan sunyi. Sudah jarang sekali yang berkunjung ke sana, selain ada kebutuhan dan mengisi waktu luang di sela proses belajar mereka.


Ellen merebahkan diri di atas bangku itu. Bangku taman, yang merupakan bagian dari perpustakaan. Tidak ada buku yang Ellen ambil, apalagi ia baca di sana. Hanya wajah sendunya yang terlihat, urat-urat halus yang menggambarkan betapa tulusnya kebaikan yang selalu ia curahkan. Garis-garis lembut, yang terlukis sendu ketika bayang-bayang tentang Ashlan hadir dan mulai mencoret kan warna-warni kehidupan di parasnya.


Kriiing ( Bel masuk berdering )


"Non Ellen, sudah bel." Tegur seorang petugas kebersihan ketika melintas di hadapan Ellen, dan melihat gadis itu masih duduk santai meskipun suara bel telah berdering dengan keras.


"Oh, iya mbak . Terima kasih..." ucap Ellen.


Ia beranjak, meninggalkan rasa canggung di sana. bersama tumpukan buku yang hanya ia lewati. Terhempas jauh, bersama pandangan mata yang sengaja ia lempar sejauh yang di sanggupi olehnya.


Ellen bergegas masuk ke dalam kelas. Duduk di bangku paling depan, bersebrangan dengan pria yang membuatnya salah tingkah. Ashlan, laki-laki tampan yang memang menjadi teman dekatnya sejak lama. Ia adalah orang yang sederajat dengannya. Hatinya baik, tapi tetap senang beradu otot layaknya anak-anak pria pada umumnya. Usia labilnya, membuat ia mudah terprovokasi bahkan terpancing emosinya. Tingkah anak-anak pria yang sengaja menggoda Ellen, adalah jurus paling ampuh untuk mengusik diamnya.


Tiga puluh menit jam pelajaran, terasa berjam-jam untuk Ellen. Ia memang sedang tidak menikmati hari ini, tidak bisa terlihat biasa seperti hari-hari sebelumnya.


"El, kenapa sih bengong saja ?" Auryn sudah berada di depan meja Ellen. Menggebrak mejanya dengan sangat keras, sesaat setelah guru melangkah keluar meninggalkan kelas.


"Ryn !" Ellen segera tersadar. Ia kelabakan, karena tidak menyadari suara bel, dan langkah guru yang telah berlalu beberapa menit yang lalu.

__ADS_1


"Apa sayang ?" ucap Ryn.


"Lo kenapa El ? " Ashlan berdiri di samping bangkunya. Menatap lekat pada gadis yang menjadi pujaan hatinya.


__ADS_2