
"Put, gimana keadaan Carissa?" Deven menghadang Putri.
Deven tetaplah Deven, dia masih sama liciknya, menanyakan Carissa hanya semata-mata ingin mencari tahu soal Luna.
"lo ngga usah muna deh dev," Putri kembali mengayun kakinya.
"ok! Dimana Luna?" kata Deven lagi.
"paham gue. Lo tu emang ngga punya hati. Brengsek lo " putri menunjuk tepat didepan mata Deven .
"hahaha! Putri putri. Lo dari awal juga tahu, siapa yang sebenarnya gue suka. Lo tau semua putri, jadi buat apa sekarang lo marah? Lo mau bilang lo sayang sahabat lo, hahaha!" Deven tertawa sambil pergi meninggalkan Putri.
Putri memang mengetahui jika Deven tidak tulus mencintai Carissa. Ia tak sengaja mendengar percakapan Deven dan Tsania kala itu, ada rasa ingin membongkar semua drama yang mereka buat. Namun, setiap Putri melihat kebahagian yang terpancar dari sorot mata Carissa, ia selalu memikirkan lagi dan lagi. Ia juga pernah melabrak Deven secara terang-terangan namun Deven dengan santai menjawab, jika yang akan merasa kecewa adalah Carissa. Putri hanya bisa memendamnya seorang diri.
__ADS_1
"masih berani dia kesini?" Marvel yang tiba-tiba muncul membuat Putri kaku. Ia segera menghapus kristal-kristal kecil yang sudah memenuhi matanya.
"hei sayang, kamu kenapa?" tanya Marvel khawatir.
"emm? Ngga. Ngga papa kok." jawab Putri Bingung. "kita jadi kan ke rumah sakit? Aku mau nemenin Carissa malam ini, kasian dia." ia mencoba mengalihkan arqh pembicaraan.
"a? Iya. Jadi dong! Kita kesana sekarang aja, udah beres juga kan kerjaan kamu?" jawab Marvel antusias.
**
Untuk sementara Cafe yang didirikan Luna itu, di handle oleh Bastian. Karena Luna tidak dan sama sekali untuk sedikitpun memberi kabar.
"bagaimana Bas, lo udah bisa untuk ambil cuti?" Aditya mendatangi Bastian ke kantor.
__ADS_1
"yah, sore ini kita bisa berangkat." jawab Bastian santai.
Mereka berdua, sudah berjanji untuk menemui Luna ke kampung halaman. Hanya Aditya, Bastian dan Pricilla yang membawa anaknya, Kiara. Sedangkan Putri dan Marvel bertugas menjaga Carissa yang masih koma.
**
" Mbak, sampean yakin nggak akan balik ke Jakarta?" Tanya Ratna sambil mengambil nasi goreng kepiring nya.
"ngga tau Rat, tapi untuk sementara mbak belum kepikiran buat kesana lagi." Jawab Luna santai.
"Mbak, apa ngga kasihan sama Mas Bastian? Dia kan udah nolongin Ratna sama ibu selama ini" Ratna kembali bertanya.
"Iya nduk, kasian nak Bastian. Gimanapun kan dia wes bantuin kita. Apapun alasan e Luna, ngga baik kalo Luna hilang kontak sama temen-temen Luna. Sekarang ibuk tanya, masalah Luna sama siapa? Mas Adit kan? Terus kenapa Bastian sama yang lain jadi korban? Kan kasian nduk! Dipikir meneh yo keputusane " Nasihat Ibu Luna.
__ADS_1
Luna menyuap nasi yang sudah ada ti tangannya dan mengunyahnya dengan lambat. Terlihat, ia merenungi setiap kata yang ibunya ucapkan. Kemudian, ia berpamit menyudahi makan dengan alasan ada urusan dan melangkah ke luar rumah.