Menikahlah Denganku !

Menikahlah Denganku !
*EPISODE 22*


__ADS_3

 Maaf ya guyss, karena episode 21 terlewat,maka untuk episode 22 di saya double 🤗


Carissa menangis, sepanjang perjalanan ke rumahnya ia terus memikirkan kata-kata Tsania. Walaupun dari kejauhan namun itu sangat mudah ditangkap, karena Tsania berbicara dengan terus berteriak. Sementara Deven tidak menolak ataupun bereaksi apapun. Tidak terlihat jika ia menolak apa yang Tsania katakan. Ia terus saja membopong dan membawa wanita itu kedalam rumah. "mereka memang sangat licik. Mereka terlalu dekat selama ini, harusnya aku sadar itu!! Bodoh!!" Carissa memukul setir, ia tak sadar jika didepannya terdapat tikungan yang tajam, hingga ia reflek membanting setir lalu menabrak bangunan yang ada disekitaran situ.


**


Tuttt.... Tutttt...


" gimana Put, bisa? " Marvel tampak cemas.


Tidak ada yang bisa dihubungi baik Luna ataupun Bastian. Nomernya tak ada yang aktif, WhatsApp yamg dikirim putri pun tidak ada yang berlambang centang dua. Mereka sangat khawatir, melihat Carissa yang terbaring tak berdaya didalam ruang ICU. Ya,Carissa kritis karena kecelakaan tunggal yang ia alami semalam. Tiada yang tahu penyebab utamanya, polisi yang datang ke TKP hanya berasumsi ini karena kelalaian pengendara. "Mungkin, ia ngantuk. Ini membuat dia tidak melihat jika ada jalan yang menikung. Hingga menyebabkan, kecelakaan terjadi." Begitulah jawaban polisi jika ada yang menanyakan kronologi kecelakaan. Baik Putri ataupun Marvel, tampak gelisah dan menunggu didepan Ruang ICU. Ada dokter yang sedang menanganinya.


**


" sialll! Kenapa gue bisa ketiduran!! Luna kamu dimana sih? " omel Bastian saat mengetahui jika Luna sudah tidak ada di dalam rumahnya. Ia pergi meninggalkan pesan.


"**Bas, makasih ya untuk penjagaanmu semalaman, aku tahu kamu sangat khawatir padaku. Aku tahu jika kamu tidak benar-benar pulang. Tapi sorry, untuk sementara aku ingin sendiri, aku ingin tenang. Aku akan pulang ke kampung hingga aku bisa melupakan semua."


 


Aluna**

__ADS_1


 


"nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan."


 


Puluhan kali Bastian mencoba menghubungi, puluhan kali pula suarq operator menjawab, nomor Luna tidak aktif. Ia benar\-benar tidak ingin diganggu saat ini.


 


Bastian baru menyadari, jika Marvel dan Putri menelfonnya berkali-kali. Ada pesan yang masuk juga, mereka hanya menanyakan keberadaan Bastian.


" Hallo, Vel? Ada apa?, sorry, tapi gue ketiduran." Sapa Bastian sambil bergegas buru-buru mengejar Luna.


Tut... Tuttt...


Telfon diputuskan oleh sepihak oleh Marvel, tanpa babibu ataupun ucapan untuk menyudahi. Marvel setengah berlari untuk menemui dokter yang baru saja keluar dari kamar ICU.


 


"*apa lagi ini? Hah*!!" Bastian sangat terpukul, ia menendang mobil yang terparkir disebelah nya. Ia sangat terpukul, ujian yang berturut\-turut. Belum kelar urusan Luna, kini harus menerima kenyataan jika sahabat yang sekaligus asisten pribadinya itu terpuruk tak berdaya di rumah sakit. "*Luna, kenapa kamu pergi di waktu yang salah*?" batin Bastian yang kemudian menjalankan kendaraan ke rumah sakit. Ia memacu dengan kecepatan tinggi.

__ADS_1


--


Tok.. Tok... Tokk..


"Buk?" Luna telah berdiri didepan pintu rumah ibunya dikampung, ia mengetuk pintu dan menyadarkan kopernya di dekat dia berdiri.


"iya, sebentar!" terdengar sautan dari dalam rumah, yang Luna sadari jika itu suara ratna.


Krekkk


Pintu dibuka oleh perempuan manis yang mulai beranjak dewasa, ia melongo menatap Luna.


"Mbak Luna?" Sapa Ratna langsung merangkul erat kakaknya.


Ratna menangis bahagia, rasa rindunya kepada Luna kini terobati. Begitu juga Luna, dan sang ibu tentunya.


Semalam penuh, mereka bercanda melepas rindu, tiada detik untuk merasakan kantuk,hanya senang, bahagia dan tawa-tawa ringan yang terdengar dari gubuk kecil yang mereka tempati. Tiada suara ponsel yang mengganggu, sunyi dan hanya semilir-semilir kerinduan yang mulai terobati.


 


Suara ayam mulai berkokok, udara pagi yang sangat dingin. Luna mengajak Ratna untuk lari pagi mengelilingi kampung halaman mereka. Olahraga sekalian melepas penat dengan suasana kota. Desa Luna masih sangat asri, banyak pepohonan yang tumbuh bebas, rumput\-rumput liar, penduduk sekitar pun masih sangat ramah. Matahari mulai meninggi Luna dan Ratna memutuskan untuk kembali ke rumah.

__ADS_1


 


__ADS_2