
"Tebrikler efendim. Eşiniz hamile. Eşiniz yedi haftalık hamile." kata seorang dokter wanita, memeriksa Barbara yang belum membuka mat itu.
("Selamat Tuan. Istri anda sedang mengandung. Usia kandungan istri anda memasuki tujuh minggu.")
Mengandung?.
'Istriku berarti Hamil?!.' Bathin Demian.
Demian mencerna setiap kata yang di ucapkan sang dokter wanita didepannya itu. Haru menyelimuti perasaan Demian saat ini. Dia mengecup kening Barbara yang masih setia memejamkan mata itu. Menggenggam tangan ibu susunya itu dengan menciumi punggung tangannya berkali-kali. Tanpa menghiraukan ada dokter dan dua perawat yang masih berada di ruangan tersebut.
Dokter itu juga mengatakan jika istrinya hanya kelelahan. Syukur,nya kandungan sang istri kuat. Demian mengusap perut Barbara pelan. "Anak Ayah. Jaga Ibu,mu ya. Kamu hebat. Tak pernah merepotkan Ibu dengan kehadiranmu. Tapi,mengapa kau tiba-tiba membuat Ibu mu pingsan. Maafkan Ayah yang baru tahu akan kehadiranmu di perut Ibu. Cup!." Ucap Demian pelan lalu mengecup perut Barbara.
.
.
Brak. Pintu kamar rawat inap Barbara di buka dengan cukup keras. Memperlihatkan seorang wanita paruh baya yang tak lain,ia adalah Mommy Zahira. Mommy yang sudah mengkhawatirkan keadaan menantu comel,nya itu.
"Gimana kabar menantu Mommy,Mian?". Tanya Zahira kepada putra sulungnya.
Demian yang masih posisi sedikit membungkuk itu. Menoleh ke arah sumber suara. "Dia baik Mommy. Mommy tenang saja." Katanya.
"Bagaimana bisa terjadi seperti ini!. Mian?!. Apa kau membuat menantu Mommy lelah?! dengan mandi setiap saat?!. Hah?!." Cecar sang Mommy kepada Demian.
Demian hanya diam. Demian mengacuhkan Mommynya yang sedang meluapkan kekesalan terhadap dirinya kini. Memang tidak bisa di pungkiri. ia-lah yang menyebabkan sang istri kelelahan. Tapi,kini ia harus lebih mengontrol diri. Karena ibu susunya sedang mengandung darah dagingnya.
Dokter wanita dan dua orang perawat itu pamit mengundurkan diri. Setelah memberi wejangan dan anjuran yang harus di lakukan sebagai calon ayah.
"Mom. Tolong pelankan suara Mommy. Kasihan kakak ipar. Mungkin dia sakit,Mom. Atau mungkin Kak Mian melakukan KDRT?!." Sahut Luna dengan konyol.
"Enak saja!!. Sembarangan kalau ngomong!. Mulutmu banyak cabe tuh,makanya pedas kalau ngomong!!." Timpal Demian kesal dengan si bungsu.
"Diego mana,Lun?." tanya Demian kepada adik bungsunya.
Luna yang ditanya merasa seperti salah tingkah. "Anu .. Anu .. Kak... Kak Diego sedang keluar dengan Kak Daren. Membeli sesuatu."
Demian memperhatikan adik perempuannya seperti salah tingkah saat menanyakan sang asisten dan menatap dengan curiga. Senyum smirk pun ia tarik dari sudut bibirnya. Memandang remeh adiknya. Seperti sudah tau penyebab adiknya itu salah tingkah.
__ADS_1
Luna menyadari tatapan kakaknya itu segera mendekati sang Mommy. Bersembunyi di punggung Mommy,nya.
"Mian. Barbara kenapa Mian?!." tanya Mommy lagi.
"Mommy akan menjadi Eyang nanti. Doakan istriku dan cucu Mommy sehat,ya." jawab Demian.
"Cu-Cu-Cucu?!." pekik Mommy dengan keras.
Semua yang ada di dalam ruangan itu pun menutup telinga. Mendengar pekikan sang Mommy. "Mom!!. Pelankan suaramu!. Nanti kau membangunkan istriku!." Tegur Demian dengan nada sedikit meninggi.
Plak!. Mommy memukul bahu putra sulungnya keras. "Kurang ajar kau sama Mommy,mu ini. Bicara yang sopan!." balas Mommy kesal.
Daddy dan Luna yang mendengar perdebatan itu pun hanya saling tatap dan mengedikkan bahu. Tapi mereka ikut senang. Karena akan menjadi Eyang Opa dan Tante untuk calon penerus Demian Dominique nanti.
.
.
🔹3 jam berlalu🔹
Barbara pun mulai membuka kedua mata,nya. Pingsan yang membuatnya menutup mata selama tiga jam itu akhirnya sadar juga. Cahaya lampu berwarna putih cerah,serta ruangan bernuansa serba putih dan bau obat yang menyeruak. Barbara mencari sosok laki-laki tampannya. Lalu memanggilnya. "Mas..." lirih Barbara.
"Ehem!!!." dehemen keras berasal dari sang Daddy.
Demian pun langsung melepas kecupan itu. Dia menatap sang istri dengan mata berkaca-kaca. Membuat dahi Barbara mengerut. Memperhatikan bola mata sang suami yang siap mengeluarkan cairan bening itu.
Barbara mengusap pipi suaminya. Lalu bertanya "Aku kenapa mas. Dan kamu kenapa mau menangis seperti itu?. Apa yang terjadi?." Tanya Barbara bingung.
Demian tidak menjawab namun mengelus pelan perut sang istri berulang kali. Barbara bingung dengan ekspresi dan lirikan suami,nya. 'Kenapa dengan perutku ya Allah. Apa aku hamil?.' Bathinnya menerka-nerka dengan hati yang haru.
"Terima kasih, Sayang. Kamu sudah menghadirkan dia untukku."
"Aku?." tunjuk Barbara dengan posisi yang masih terbaring di brankar.
"Ya.. Kamu sayang. Disini ada Junior kita." Tunjuknya ke perut Barbara.
__ADS_1
Tes!. Barbara meneteskan air mata. Air mata bahagia karena penuturan suaminya. 'Aku Hamil?. Aku mengandung?!. Ya Allah Alhamdulillah .. Hiks.. Hiks...' Bathinnya mengucap syukur.
"Uda sayang .. Jangan menangis sayang. .. Nanti bayi kita ikut nangis lo,didalam sini." Ucap Demian dengan menunjuk perut sang istri.
Puk!. Tepukan keras di layangkan sang Mommy. "Kalau mau bermesraan lihat tempat. Mian!." Kesal sang Mommy melihat sang anak malah dengan asiknya bermesraan, tanpa menghiraukan ada manusia lain selain dirinya.
"Biarkan saja Mommy sayang. Putra kita sedang mengekspresikan kebahagiaannya sekarang." Bela Daddy Varro.
"Tapi kan....."
"Hushh!. Ayo mendingan Mommy, Daddy, dan aku jangan ganggu Kak Mian dulu dengan Kak Bara."
"Kenapa?!. Mommy kan ingin dekat menantu Mommy,Luna!." Sergah Mommy.
"Mommy!. Please kasih waktu buat mereka berdua. Nanti kita juga akan bersama. Sebentar lagi kita balik ke penginapan. Toh ,kak Bara sudah membaik dan ternyata dia sedang mengandung calon ponakanku,calon cucu pertama Mommy. Tak perlu di khawatirkan. Ada Kak Mian,Mommy." Ucap Luna dengan panjang kali lebar agar Mommynya itu mengerti.
Mommy pun menoleh ke arah keduanya. Teringat dulu,saat menyambut Demian hadir perutnya. Jadi,apa yang dikatakan Luna ada benarnya. Mungkin mereka butuh ruang untuk mengekspresikan kebahagiaannya.
"Baiklah.. Mommy mau ngasih selamat dulu kepada menantu comel dulu." Segeralah sang Mommy menghampiri Barbara yang sedang berbaring di atas brankar
Barbara menoleh ke arah sang ibu mertua, yang bagai ibu kandung itu. Barbara tersenyum dengan mata berkaca-kaca.
Grep!. Mereka kini berpelukan. "Mom. Terima kasih untuk semuanya. Mommy.. Sangat baik kepada Bara. Tetap sayangi Bara seperti anak kandung Mommy ya." Celetuk Bara tiba-tiba, saat kepalanya berada di bahu wanita paruh baya itu. Memeluk erat sang wanita paruh baya itu.
"Sayangku.. Menantu Mommy yang comel. Alhamdulillah.. Mommy sangat menyayangimu. Mommy tak mau kamu merasa kurang di kasih sayang, dan berfikiran yang bukan-bukan. Kita semua sayang sama kamu Barbara Annovra. Dan terima kasih. Kamu sudang mengandung,dan akan melahirkan seorang cucu untuk kami. Mommy dan Daddy. Jaga kesehatanmu, pikirkan yang baik-baik ya sayangku. Mommy sayang kalian." Balas sang Mommy dengan mengusap punggung menantunya.
Emang benar perasaan ibu hamil itu sangat sensitif ya. Emosi yang berubah-ubah. Dan memang harus sabar ketika ibu hamil sedang dalam mode mellow atau apapun itu. Mommy Zahira tau apa yang di rasakan sang menantu. Hormon naik dan emosi pun,kadang ikut naik.
Mommy melepas pelukannya. "Besok kita pulang,Mian. Mommy tidak mau terjadi sesuatu kepada menantu dan cucu Mommy!." Seloroh Mommy.
Daddy, Luna , dan Demian sekalipun. Membenarkan ucapan sang Mommy.
Rencana satu Minggu lebih baik dibatalkan. Demi penerus Dominique.
,🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹 Yeayyy!! akhirnya hamil🔹🔹🔹🔹
__ADS_1
🔹🔹🔹Aku selipin gambar ya.🔹🔹🔹🔹🔹