MENJADI IBU SUSU-MU

MENJADI IBU SUSU-MU
KECOLONGAN


__ADS_3

Seusai membeli baju dan menonton. Barbara kini sedang menyelusuri lorong makanan. Dia ingin membeli kebutuhan rumah. Seperti makanan pokok, camilan dan anek minuman. Serta bahan-bahan dan aneka bumbu dapur.


Barbara yang berpakaian serba merah itu pun terlihat mencolok. Kecantikan yang memang sudah melekat di wajahnya ditambah ramah dan sopan terhadap semua orang. Menambah poin plus untuk seorang Barbara Annovra.


Sepuluh pengawal yang mengikutinya juga membentuk sebuah formasi. Dua di sisi kanan dan kiri. Depan juga ada tiga, serta belakang ada tiga orang. Mereka ditugaskan menjaga agar sang Nyonya Demian Dominique tidak tersentuh meski itu lalat sekalipun


Barbara hanya manut dan sudah menjadi konsekuensinya. Menjadi istri dan menantu konglomerat. Setahu Barbara begitu, takut-takut musuh dalam dunia bisnis melampiaskan sesuatu yang buruk kepadanya.


Dia memang belum tahu siapa keluarga Dominique sebenarnya. Menurut Barbara intinya mereka baik, citra mereka juga hangat dan terpandang dikalangan semua orang.


"Kalian. Jika ada yang diinginkan. Ambil saja. Kita ambil troli tiga!. Satu untuk aku. Dua untuk kalian. Ambillah apapun yang kalian butuhkan. Jangan hanya mengikutiku tapi tak membeli apapun!. Okay?!." Titah Barbara dengan jari membentuk huruf O.


"Udah ayo!. Atau mau aku ambilkan..."


"Ja-jangan Nyonya. Biar kami sendiri yang mengambil." Jawab salah seorang pengawal terbata.


"Bagus!. Ayo!. Let's Go!." Sahut Barbara merasa senang. Dengan tangan mengepal ia ayunkan ke udara.


"Nyonya! Tolong jangan berlari. Anda sedang hamil!." Tegur Algojo sedikit menaikkan suaranya.


Cittt.


Barbara yang mendapat teguran dari Algojo pun memberhentikan diri. Dan menepuk jidatnya pelan. "Kenapa ibu bisa lupa ya, jika ibu sedang membawa kamu. Maafin ibu ya ,sayang..." Ucap Barbara mengusap perutnya.


Seketika semua pengawal yang ada disekitar Barbara mengulum senyum. Merasa gemas dengan tingkah gadis kecil yang ada di depannya. Meski Barbara seperti nyonya Demian. Tapi, dipandangan mereka. Seperti menjaga seorang gadis kecil yang lucu.


Kejadian itu pun tak luput dari pandangan semua pengunjung mall yang ada di lorong, yang sama dengan mereka. Pandangan mereka mengikuti arah tatap para pria berbadan kekar yang membentuk formasi melingkar, seperti benar-benar melindungi sang nyonya Demian.


Pengunjung pun merasa kagum. Akan siapa gadis yang mereka lindungi. Dilihat dari sekilas saja. Membuat mereka merasa kalau gadis berambut merah itu adalah gadis yang baik. Aura positif yang dibawa Barbara membuat sekitarnya merasa hangat dan nyaman. Ingin berlama-lama rasanya. Jika didekat gadis tersebut.


.


.


Kenapa Barbara disebut gadis sih?!.


Padahal kan dia sudah menikah?!.


Entahlah ini authornya :V


.

__ADS_1


.


"Ehmm... baik kakak Algojo!. Terimaksih sudah mengingatkanku. Aku sampai lupa, kalau aku ini calon ibu." Tukas Barbara sembari tersenyum lebar.


'Kakak?!.' Bathin Algojo terkejut mendengar panggilan dari sang nyonya Demian.


"Kenapa kalian diam?. Ayo kita belanja. Terus kita lanjut makan. Aku sudah sangat lapar ni." Keluh Barbara bergegas menyelesaikan sesi belanjanya.


Akhirnya tanpa berlama-lama. Sepuluh pengawal nyonya Demian pun mengambil barang yang dibutuhkan. Dan sesekali sang nyonya menambahkan beberapa camilan,dan membuat mereka hanya diam dengan tingkah sang nyonya. Dimana menurut mereka sudah terlalu banyak dan terlanjur malu. Nyonya,nya itu sangat baik menurut mereka.


"Terimakasih Nyonya atas semuanya." Ucap Algojo mewakili.


"Itu rezeki kalian. Jangan sungkan kepadaku. Anggap saja aku ini adik kalian. Jagalah aku seperti adik atau anak perempuan kalian. Jangan anggap aku seperti nyonya. Kita itu sama. Sama-sama makan nasi dan jangan terlalu formal jika bicara denganku. Mengerti kakak-kakak semua?." Sergah Barbara menggebu-menggebu.


Algojo dan sembilan temannya merasa terharu. Mendengar penuturan sang nyonya barunya. Menurutnya, wanita yang ada didepan mereka pantas untuk diberi perlindungan. Juga pantas di beri kebahagiaan. Mereka juga kaget, mengapa sang nyonya malah memanggil 'kakak' tidak nama saja. Kan aneh.


.


.


.


Beberapa menit yang lalu mereka sudah masuk kedalam restoran yang berada di dalam mall tersebut. Makanan nusantara kini menjadi pilihan Barbara. Untuk sepuluh pengawal yang mengikutinya hanya manut-manut saja.


Memesan apapun yang mereka inginkan. Termasuk Barbara sendiri.


Dengan lahap dan melepas beban. Barbara yang duduk sendiri. Juga kesepuluh pengawal yang memang disuruh Barbara duduk dan makan bersama itu. Kini merasa kenyang dan lega. Akhirnya terisi juga perutnya. Hahay..


"Aku ke toilet sebentar ya, Kak." Celetuk Barbara kepada pengawalnya.


Mereka yang memang sudah menyelesaikan makan pun saling tatap dan langsung beranjak dari tempat duduk yang ada di dalam restoran tersebut.


Barbara pun melihat mereka beranjak pun. Hanya mendengkus kesal. Pasalnya, dia hanya ingin ke toilet bukan mau pergi jauh. Tapi respon mereka sangat berlebihan,menurut Barbara.


"Ck,ck. Kakak ini. Aku itu mau ke toilet bukan mau pergi jauh. Kakak semua mau ngikutin aku ke toilet wanita?!." Cerocos Barbara dengan decakan lidahnya.


"Tidak nyonya. Kami hanya menunggu anda diluar saja nanti. Tidak ikut nyonya masuk kedalam." Sahut salah satu pengawal.


"Yah jelas jangan ikut masuk. Mau kalau kakak kena amuk suamiku!. Ada-ada saja.." seloroh Barbara cepat.


Salah satu pengawal yang mendengar sejawatnya itu salah bicara langsung menyikut lengan sang teman. "Kamu bicara apa sih. Apa maksud kau tadi...!!."

__ADS_1


"Ehmm.. Ma-maaf nyonya. Baiklah biar saya yang ikut menunggu di area dekat toilet , Nyonya." Timpal Algojo menengahi.


"Oke.. Baiklah."


...


Tanpa mereka sadari ada lima pasang mata, yang memang sedari tadi mengikuti Barbara dan para pengawalnya memasuki mall hingga restoran. Kini merasa ada kesempatan mendapatkan titah dari sang bos. Lima pasang mata itu yang terdiri lima orang berbadan tidak kalah kekar dengan pengawal nyonya Demian. Mulai menjalankan aksinya.


Pas pandangan Algojo teralihkan oleh banyaknya pengunjung mall yang menghalangi jalannya. Disitulah mereka beraksi memberikan kain bius, terus mereka sumpalkan ke area hidung nyonya Demian.


Ehmmmpptt!!


Kepala Barbara bergerak ke kanan dan kekiri. Memberontak ke segala arah. Kedua tangan ia ayunkan dan mata yang melotot memandanh seraya memanggil Algojo.


Algojo yang kesusahan membelah kerumunan orang itu pun merasa kehilangan jejak sang nyonya.


Belum sempat sang nyonya,nya itu masuk ke toilet. Dari kejauhan ia melihat wanita yang sama persis dengan pakaian yang di gunakan sang nyonya. Dia merasa bahwa ini adalah sebuah petaka.


Algojo berlari mengikuti kemana lima orang berpakaian hitam itu membawa sang nyonya. Tak lupa ia mengabari teman sesama pengawal itu untuk menyelamatkan sang nyonya.


"ALGOJO!. KAMU BAGAIMANA SIH. KENAPA BISA KAMU, KECOLONGAN!!!." Bentak Somay.


"Argh... Kita bisa mati. Kalau bos tau!." Timpal yang lain dengan frustasi.


Bagaimana tidak frustasi. Sang nyonya yang seharusnya dijaga dengan benar. Kini malah dibawa oleh orang suruhan musuh sang tuan.


Petaka apakah yang akan mereka alami nanti.


.


.


🔹🔹🔹🔹


Hahahaha....


Tawa seorang pria menggelegar memenuhi seisi ruangan bernuansa gelap itu. Merasa senang karena usahanya berhasil. Membawa seseorang yang menjadi sisi kelemahan orang yang ia anggap musuh itu.


"Demian.. Bagaimana rasanya. Jika istri yang kau sayang-sayang ini. Jadi milikku. Hah?!." Gumam Gio.


Ya,pria itu adalah Gio, yang memang sudah merencanakan semuanya. Ingin Demian merasakan apa yang ia rasakan. Meski dia tahu, kenyataannya jika ia sudah salah sangka sedari awal kepada keluarga Dominique. Tapi, hati manusia kalau sudah kotor ditambah pikiran yang sudah terdoktrin tidak baik. Jadilah seperti ini. Dikuasai oleh amarah yang tidak jelas.

__ADS_1


.


.


__ADS_2