
Waktu shubuh sudah berlalu. Demian yang sedang merapikan alat sholatnya pun berdiri dan segera menyimpannya ke tempat semula. Hari ini Istrinya akan di antarkan pulang. Lebih tepatnya sih sandera di serahkan setelah di colong.
Halah terserah wes. Ribet.
Demian menuruni anak tangga kediaman rumah utama alias rumah kedua orangtuanya itu dengan sedikit tergesa-gesa. Bagaimana tidak tergesa sehari tidak melihat istrinya serasa setahun.
Halah Alay ni Demian.
"Kamu sudah bangun, Mian?." Tanya Mommy Zahira melihat putar sulungnya duduk di kursi ruang makan tersebut.
"Sudah Mom. Ini aku di depan Mommy sekarang. Bukan bayanganku loh ini . Asli Lo!!." Sambar Demian.
Pug!!
Lemparan kain lap mengenai wajah Demian. Sontak membuat Zahira sang Monmy tertawa lepas. Merasa puas mengerjai sang anak.
Hahahaha...
Tawa sang Mommy membuat Demian sedikit merasa jengkel. Sangat menyebalkan bukan. Mempunyai Mommy yang randum bin absurd.
"Sebahagia mu ,Momm." Demian mencebik.
Tawa Mommy Zahira yang terdengar seisi rumah itu. Menimbulkan penasaran akan apa yang terjadi sebenarnya. Membuat Daren, Luna dan Daddy ikut bergabung di ruang makan.
Padahal jam masih menunjukkan jam setengah enam. Tapi semua sudah dibuat geleng-geleng kepala akan ulah Mommynya.
__ADS_1
"CK,CK Mommy!. Nanti kesedak tahu rasa. Tawa tuh yang elegan sedikit. Tawa seperti hantu 👻 saja." Celetuk Luna tiba-tiba dengan memegang ponsel ditangannya.
Zahira menoleh ke arah Luna. Memandangnya dengan raut wajah masam. Saat dikatai hantu 👻. "Kurang asem kau!. Dasar anak Varro konslet semua!." Sewot Mommy Zahira mengatai bahwa suaminya lah penyebab anaknya seperti itu.
"Dih!. Kok aku sih. Mom. Dari tadi juga Daddy diam." Bela Daddy Varro yang di kambing hitamkan.
"Bagaimana dengan Kakak Ipar, Kak?." Tanya Daren mengalihkan perdebatan antara Daddy dan Mommynya.
"Gio sudah memberi sinyal damai dan akan mengantarkan istriku pulang nanti ." Jawab Demian nampak sendu.
"Udah! nggak usah drama sedih gitu. Wong uda dibilang hanya salah paham saja tuh si Gio. Main ambil istri orang saja. Ingin ku tembak tuh pala anak itu. Lama-lama. Dasar anak Ele! Bikin Emosi!." Gerutu Zahira dengan tangan mengepal meninju udara.
Semua yang di ruang makan hanya saling tatap. Melihat tingkah Mommy Zahira dan mendengar ucapannya. Mommy nya benar-benar langka.
Zahira adalah mantan sniper handal dikalangan duni mafia dulu. Maka nya dia bisa bertemu dengan Varro dan bisa sampai sekarang ya itu. Sudah jodoh!.
.
.
.
🕢 Jam dinding sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Terdengar suara desir mesin mobil terparkir tepat di halaman rumah utama Dominique. Sekitar ada empat mobil model Alphard yang terparkir.
Daddy, Mommy , Demian , Daren dan Luna sudah berada di depan pintu untuk menyambut Barbara dan ingin bertemu dengan sosok yang bernama Gio tersebut.
__ADS_1
Satu mobil Alphard berwarna putih, pintunya terbuka.
Memperlihatkan kaki jenjang nan mulus menapakkan tanah. Membuat sang empunya rumah menebak. Bahwa yang turun itu adalah sang menantu kesayangan mereka. Barbara Annovra.
Ketika Barbara turun, ia langsung di sambut oleh sang suami Demian dengan pelukan. "Syukurlah Sayang..Kau baik-baik saja." Ucap Demian sedikit haru melihat sang istri ada di pelukannya ini.
"Mass.. Aku di culik orang baik. Tenang saja." Balas Barbara sedikit memenangkan hati suaminya dan mata melirik Gio yang berada di sampingnya.
Demian yang masih memeluk Barbara pun langsung melirik ke arah Gio dengan sinis. Gio yang dilirik Demian pun hanya tersenyum kikuk. Merasa malu dan juga bersalah.
"Sudah ayo masuk!. Untuk anak buahku. Biarlah mereka berkumpul di ruangan sebelah utara. Disana ada banyak anak buahku juga. Biarlah mereka sama istirahat sejenak. Syukur-syukur saling kenal." Seru Daddy Varro.
Di angguki semua orang . Tak terkecuali sang Mommy yang masih saja menatap sinis seperti Demian saat ini. 'Mengingatkannya dengan Ele Abraham. Muka Gio sangat persis dengan Daddynya . Sangat menyebalkan.' Bathin Zahira.
Semua anak buah Demian keluar dari tempatnya beristirahat. Dia kaget melihat lima anak buah Gio yang pernah mereka lihat saat penculikan sang Nyonya Demian itu.
Segeralah ke sepuluh orang itu maju. " Heh!.. Loe kan yang waktu itu nyulik Nyonya, gue!!!!." Sentak Somay yang masih tak terima dengan kejadian satu hari lalu.
Anak buah Gio yang ditunjuk pun hanya diam dan menunduk. "Ma-maafkan kami. Sungguh kami hanya menjalankan kesalah pahaman Tuan Gio. Tapi, sungguh ini sudah kelar. Jadi bisakah kita sebagai dan sesama anak buah bisa berteman?." Ujar Gigih salah satu anak buah Gio dengan terbata.
"Sudahlah. Lebih baik kita berdamai, May. Toh ,Nyonya sudah dipulangkan dengan selamat." Sela Bimbi menengahi Somay yang masih sedikit tak terima dengan anak buah Gio itu.
"Ya.. Mari ikut kami, ke ruangan yang dikhususkan untuk kami beristirahat." Ajak Algojo tiba-tiba nimbrung.
Anak buah Gio yang di ajak ke ruangan tersebut pun, akhirnya mengekori anak buah Demian. Meski canggung tapi bisa teratasi dengan tenangnya perilaku mereka.
__ADS_1
Sungguh menyenangkan bukan jika kita berbaikan. Ketimbang bersiteru berkepanjangan.