MENJADI IBU SUSU-MU

MENJADI IBU SUSU-MU
BABY '2D'


__ADS_3

"Sayang.. Kamu bisa jambak rambut aku. Kamu bisa cakar aku juga sayang . Asal kamu bisa kuat saat mengejan." Ucap Demian sedikit cemas saat melihat istrinya sedang mengalami kontraksi.


Barbara tidak menjawab. Dia terus melafalkan kalimat Allah. Meringis ,sesekali juga mengeratkan giginya.


"Ya Allah... Ya Allah... Aaaa... Maa-maasss... Sakittt!!!." Jerit Barbara saat mulas di perutnya semakin sering tak jarak lagi.


Barbara mencengkram lengan suaminya. Menancapkan kuku-kuku cantiknya di kulit suaminya itu. Demian sedikit meringis namun tak menghiraukan itu. Demian hanya fokus dengan istrinya, yang menjerit ,mencurahkan semua rasa sakit saat kontraksi di perutnya menyerang.


"Sa-sayang kamu kuat ya. Kamu ibu hebat. Aku sayang kamu dan bayi kita." Bisik Demian ke telinga Barbara dengan lembut.


"Anak-anak Ayah dan ibu. Jangan buat Ibu mu merasa sakit kelamaan ya. Kalau mau keluar. Ayo sayang, Ayah tunggu." Sambungnya lagi dengan mengusap perut istrinya yang memang sangat besar itu.


Tiba-tiba Barbara menjerit kencang saat ada sesuatu yang ingin keluar. "MAS!! .. se-per-tinya anak kita mau keluar!!." Jeritnya dengan sedikit terbata.


Hah??


Demian panik, langsung menekan tombol nurse dan teriak memanggil bidan yang ada di rumah sakit tersebut.


"Dokter!. Bidan!. Tolong istri saya !!!!. Anak saya mau keluar!." Teriak Demian kencang saat istrinya mulai menggeliat tak karuan.


Drap, drap , drap. Suara langkah kaki yang berlari memasuki ruang tindakan bersalin. Bidan yang sudah siap dengan semua alat itu segera menyuruh Barbara membuka kedua kakinya. Mengecek berapa pembukaan pasiennya sekarang. Tapi, tanpa disangka justru ada rambut yang timbul dari lembah Barbara.


"Bu.. Ketika mulas ayo ngejan dengan kuat ya. Bayi anda sudah mau keluar , bahkan belum saya beri aba-aba. Pintar sekali anak anda ,Bu. Ayo dorong lagi, atur nafas pelan-pelan." Ucap Ibu bidan sembari mengintruksi Barbara untuk mengejan saat mulas datang.


"Aaaaaa... huffttt ... huffffhh.... Aaaa


. Sakit Bu!!!!." Teriak Barbara saat mulas itu datang lagi.


"Sayang kamu kuat." Sahut Demian saat rambutnya di jambak keras. Membuat Demian yang tampan kini tak berbentuk apapun dengan rambut yang acak-acakan itu.


"Ayo Bu. Kepalanya sudah mulai keluar !."


"Aaaaaaaaaaaa!!!!!!...." Teriak Barbara lagi.


"Owek Owek Owek !!!."

__ADS_1


Suara tangisan bayi membuat sesisi ruangan menjadi ramai. Ini baru satu bayi yang keluar belum yang kedua keluar.


"Alhamdulillah ,Bu. Bayi yang sudah keluar. Sekarang ibu tarik nafas dan hembuskan. Kita ngejan satu lagi. Oke?. " Ujar Bu bidan dengan senyum lembut membuat Barbara yang mulai mulas mengikuti instruksinya.


"Yahh .. Terus Bu.. Ini kepala bayinya sudah mau keluar. Akan saya tarik. Ibu ngejak dengan kuat sekali lagi. Bismillah ..!!! . Ayo!!.."


"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!.." Teriakan panjang Barbara saat bayi keduanya berhasil keluar dari lembahnya itu.


"Alhamdulillah..!." Ucap mereka yang ada di dalam ruangan secara bersamaan.


Cup!


"Terima kasih sayang. Terima kasih. Kamu ibu yang hebat. Aku sayang kamu sayang. Ya Allah Alhamdulillah


..." Tangis haru Demian saat melihat kedua anak kembarnya lahir dengan selamat tanpa kurang apapun.


Barbara meneteskan air matanya yang sudah tidak bisa ia tahan lagi. Ketika mendengar seruan tangisan kedua anaknya. Anak yang menjadi obat perjuangannya saat proses melahirkan tadi.


"Bu.. Saya jahit dulu ya. Karena ini ada robek sedikit." Ucap Bu bidan tersebut.


"Auww.. sssst.." Ringis Barbara pelan. Saat jarum bentuk pancing ikan itu masuk ke daging lembah nya. Menjahit dengan jahir tiga simpul, agar lembahnya bisa rapat kembali sedia kala.


"Bu, Pelan-pelan. Istri saya kesakitan itu!." Tegur Demian tiba-tiba saat melihat ekspresi istrinya meringis saat di jahit.


Bu bidan hanya tersenyum. Bidan itu merasa lucu dengan suami pasiennya. "Tenang ,Pak. Ini juga untuk masa depan Bapak." Sahut Bu bidan membuat Barbara yang mendengar menjadi merah wajahnya saat ini.


Demian akhirnya diam. Merasa malu sendiri. Di pikir-pikir juga ada benarnya. ' Kan kalau istriku rapet lagi. Aku juga yang untung. Aisshhh. Kenapa aku malah sensitif seperti ini sih!.' Bathinnya.


Kedua bayi berjenis kelamin mereka, pun sudah dibawa ke ruangan rawat saat ini. Kedua bayi itu di letakkan di box bayi masing-masing dan ditutupi kelambu bagian atas box. Agar tidak ada nyamuk atau sesuatu yang mengusik bayi itu.


Suster menghampiri Demian dan Barbara yang masih ada ruang tindakan bersalin tadi. "Pak. Silahkan di adzankan dulu bayi,nya. Mereka sudah ada di kamar perawatan." Ucap Suster itu.


"Baik Suster."


"Sayang, Aku tinggal dulu ya. Aku mau ke anak-anak kita dulu. Mau mengadzankan mereka berdua." Pamit Demian dibalas anggukan oleh Barbara yang kini sedang di Lap badannya oleh suster saat ini.

__ADS_1


Melahirkan , dijahit , Maa syaa Allah begitu besar pengorbanan seorang Ibu.


Saat Barbara sudah di jahit dan di lap, dan diganti dengan baju yang memang sudah ia bawa dari rumah bersama tas berisi perlengkapan ia dan kedua bayinya itu. Kini Barbara di pindahkan ke ruang rawat VVIP. Sesuai dengan permintaan sang suami.


Ketika Barbara menuju ruang rawatnya. Semua keluarga nya berlari kecil untuk segera melihat keadaan cucu menantu, menantu , dan cucu serta cicit mereka itu. Mereka begitu heboh. Saat mendengar Barbara akan melahirkan. Ditanggal yang sama saat Uncle nya itu menikah. Daren dan Salsa.


Zahira melihat brankar yang membawa Barbara keluar dari ruang tindakan bersalin, ia langsung berteriak tanpa mau tahu kalau dia sedang berada di rumah sakit.


"Sayang!." Teriak Zahira.


"Kamu bisa diam tidak ! Zahira!." Tegur Nazareth, Mommy Mertua Zahira, Nenek Demian.


"Ishh Mommy!. Aku kan lagi manggil menantu comelku. Masa tidak boleh!." Balas Zahira tak mau di peringati mama mertuanya.


"Kamu ini!. Kita itu ada di rumah sakit!. Jagalah suaramu agar pelan sedikit. Berisik saja! . Membuat orang yang sedang sakit malah nambah sakit!." Omel Nazareth kepada menantunya itu.


Mereka yang ada di belakang dua wanita generasi itu pun hanya menggelengkan kepala. Sudah hal biasa. Jika menantu dan mertua itu dipertemukan. Pasti akan ricuh.


🔹🔹🔹


"Woww.. Maa syaa Allah cucuku tampan sekali." Puji Zahira saat melihat kedua cucunya sangat tampan.


"Iya dong. Seperti Ayahnya." Sahut Demian dengan bangga saat anak-anaknya di puji.


"Dih!. Narsis Bos!." Timpal Diego yang sedari tadi berdiri didekat pintu masuk dengan bersedekap tangan.


"Cih!. Asisten l@kn∆t. Kapan kau sampai?. Hah!." seloroh Demian sebal saat melihat asistennya itu selalu ada di manapun ia berada.


"Saya selalu sampai saat Bos, akan memerlukan bantuan saya." Jawab Diego dengan cengengesannya.


"Mian. Namanya siapa ini Cicit ,Nenek." Sela Nazareth menengahi cekcok antar bos dan asisten itu.


Demian langsung menoleh ke arah Barbara dengan senyum. Dan di balas dengan anggukan dan senyum manisnya.


"Devan Ibrahim Dominique dan Dafi Isa Dominique." Seru Demian sedikit lantang, merasa bangga menyebutkan nama anak-anaknya.

__ADS_1


"Woww!! Keponakan Tante. Double 'D' !!." pekik Luna dengan girang.


__ADS_2