
Tok
Tok
Tok
Daun pintu diketuk sedikit keras oleh pemilik kamar. Dimana didalam kamar tersebut ada seorang wanita yang ia culik tadi siang.
Ceklek!.
Terbuka-lah daun pintu besar berwarna emas berukiran naga itu 🐲.
Memperlihatkan wanita berambut merah dengan dress merah muda motif bunga-bunga itu. Dengan rambut yang tergerai hingga ke panggul. Sungguh pemandangan yang adem untuk dilihat.
"Iya Tuan Gio. Ada perlu apa?." Tanya Barbara seakan ini adalah rumahnya.
Gio mengernyitkan dahi. Merasa lucu dengan pertanyaan wanita yang ada di depannya kini. "Kau lupa, Nona. Ini kamarku!." Balas Gio dengan tegas.
__ADS_1
Barbara yang mendengar balasan Gio hanya menyangir kuda. Entah apa yang ia pikirkan sekarang. Saking nyamannya atau bagaimana. Tidak seperti sandera pada umumnya. Jadi ia merasa tidak terlalu tegang sekarang, apalagi di hadapkan dengan pemilik rumah mewah ini . Giorgio Abraham.
"Masuklah, Tuan. Tapi, saya mau keluar. Tak etis rasanya. Bukan mahram satu ruangan." Seloroh Barbara sembari melangkahkan kaki jenjangnya melewati pintu Gio.
"Aku sebenarnya ingin berbicara denganmu. Wahai istri Demian." Sergah Gio menatap wanita yang ada di depannya.
"Nama saya, Barbara Annovra. Tuan." Sahut Barbara. Setelah hampir semalaman di jadikan sandera, ia baru memperkenalkan diri. Dasar!.
"Hmmm." Jawab Gio.
"Kita di pinggir kolam ikan saja. Aku ingin berbicara soalku dan Demian suamimu."
Mendengar Gio menyebut suaminya. Membuat Barbara tertarik. Emang Gio itu punya masalah apa dengan suaminya. Hingga repot membawa dirinya tinggal di rumah mewahnya.
Barbara hanyak mengangguk tanda setuju dan segera mengekori Gio menuju kolam ikan.
🎏 🐟
__ADS_1
Barbara duduk di kursi santai milik Gio. Lalu Gio memilih duduk di tepi kolan sembari memberi makan ikan. Tak lupa ia juga meminta maid Indah untuk menyiapkan minuman dan camilannya.
"Ehmmm.. Barbara. Aku hanya ingin meminta maaf kepadamu dan kepada suami Demian nanti." Ujar Gio menyambar tiba-tiba saat satu tangannya menabur makanan ikan.
Barbara masih diam tidak menginterupsi Gio. Dia ingin mendengar ucapan Gio lagi.
Helaan nafas terdengar.
"Aku sudah sangat salah paham dengan keluarga Dominique. Terkhusus kepada mertua dan suamimu. Sungguh aku kepalang malu akan sifatku yang terlalu ceroboh."
"Aku yang dibesarkan oleh kedua tangan Pamanku. Sejak usia tujuh tahun aku, Daddy dan Mommy mengalami kecelakaan. Saat itu aku benar-benae terpuruk. Kakek dan nenekku juga tidak bisa melawan Pamanku. Saat Pamanku membawa,ku pergi bersamanya ke negara Italia dimana ia tinggal dan tempat Daddy,ku dulu. Sungguh aku malu , Barbara. Aku pernah bersiteru dengan Demian hanya demi seorang wanita mur@h@n. Dia adalah Bunga. Mantan kekasih suami,mu itu. Dimana dia juga adalah teman semasa kecil suami,mu."
'Hanya mantan'. Bathin Barbara.
"Apa aku terlambat jika meminta maaf sekarang?. Apa permintaan maafku akan diterima oleh pihak Dominique?. Terkhusus mertua dan suamimu, Barbara ?." Jelas Gio disertai pertanyaan yang beruntut.
Barbara tersenyum. "Saya yakin. Mereka akan memaafkan anda, Tuan Gio. Kan sudah saya bilang, dari saya membuka mata. Saat melihat anda di kamar menunggui saya sadar akan obat bius yang Tuan beri. Saya sudah melihat bahwa, Tuan adalah orang baik. Sorot mata Tuan memberikan kejujuran tanpa ada keraguan. Hanya saja saat itu Tuan sedang di Landa rasa yang membebankan." Kata Barbara menjelaskan apa yang menurutnya benar dan jujur. Tanpa ada kebohongan.
__ADS_1