MENJADI IBU SUSU-MU

MENJADI IBU SUSU-MU
MALL


__ADS_3

Sesuai janji yang Demian berikan kemarin. Saat istrinya meminta ke mall. Kalau boleh jujur, Demian sangat berat mengijinkan istrinya yang hanya pergi dengan bodyguardnya. Demian ingin sekali menemani istrinya , sayang seribu sayang. Dia malah disibukkan karena kerjaan kantor yang menumpuk. Menjadi CEO di perusahaannya sendiri memang harus ekstra sabar dan sadar diri.


Apalagi ia dan Diego sama-sama berlibur. Meski tak jadi seminggu dan hanya tiga hari saja saat kemarin di Cappadocia. Membuat pekerjaan di kantor menumpuk. Jadwal meeting yang kemarin sempat di undur dan semua pertemuan harus di undur. Kini harus di lakukan.


Demian menyugar rambutnya dengan kasar. Merasa frustasi dengan semua tumpukkan berkas yang harus ia cek dan tanda tangani. Meski ada Diego, dia harus turun tangan juga. Untuk mempercepat pekerjaan yang sudah tertunda itu.


"Buset!. Ini beneran Diego?. Buanyak banget. Bisa-bisa pulang malam ini!." Gerutunya dengan menatap tumpukkan map yang berada di depannya.


Diego yang berada tidak jauh dari sang tuan bos hanya senyum meledek. ' Tau rasa kau, Bos. Selama ini aku, yang kau jadikan alat untuk mempermudah pekerjaanmu. Sekarang, giliran bos yang harus mengerjakannya sendiri. Ya meski aku bantu sedikit. Hahay.' Ucap Diego dalam hati.


Diego tak berani melontarkan kata-katanya tadi. Takut kena amuk lebih tepatnya.


Demian yang melihat sang asisten senyum-senyum sendiri itu. Langsung melempar pulpen yang sedari tadi ia pegang.


Tuk!


"AWw!. Bos.. anda kenapa sih. Sakit tauk." Keluh Diego dengan mengusap kepalanya yang terkena lemparan pulpen tadi.


"Loe ngejek gue ya. Kenapa loe senyum-senyum gitu!." Tukas Demian kesal melihat wajah sang asisten yang mesam-mesem tak karuan.


"Tumben amat bos. Pakai loe - gue. Biasanya juga aku-kamu. Bos lagi PMS ya ,atau tidak dapat jatah dari istri bos?. Kaaa-sii-haaaannn." Ejek Diego.


Diego merasa heran. Bosnya semenjak istrinya itu hamil. Malah lebih sensitif. Ke absurdannya juga bertambah.


Poin plusnya. Selama berkomunikasi. Sebenarnya Demian jarang sekali menggunakkan kata 'Loe dan Gue'. Itu sama sekali bukan kebiasaan Demian. Jadi wajar saja, jika saat ini Diego merasa heran. Meski agak dingin dan kaku terhadap orang lain. Tapi, Demian memiliki sikap yang sopan jika berbicara dengan lawannya. Hari ini sungguh aneh.


"Enak saja. Istri gue selalu ngasih jatah ya. Maka,nya loe nikah sana!. Dasar!. Mau jadi bujang lapuk loe!!." Cerocos Demian.


"Ya Allah... Bos. Santai aja kali. Tapi, kalau untuk nikah sih kayaknya entaran deh. Soalnya,kan saya ini asisten bos. Bagaimana saya mau nyari istri. Yang ada, saya malah di cariin Tuan bos, untuk bos repoti." Ucap Diego seperti sedang mengeluarkan semua unek-uneknya.


Demian memang menganggap Diego seperti saudara sendiri. Asisten rangkap sahabat itu terlihat lebih sibuk,dibanding ia sendiri. Mendengar keluhan Diego, ia merasa bersalah sendiri . 'Apa selama ini aku salah. Membebankan semuanya kepada Diego?. Pantas saja. Dia jomblo sampai sekarang.' Bathinnya.


Diego bingung, mengapa bosnya tiba-tiba diam. Merasa ia salah bicara. "Ma-maafkan saya bos..." Ucapnya.


"Santai saja Diego. Aku hanya merasa bersalah sama kau. Mungkin sehabis pekerjaan yang menumpuk ini. Kau bisa ambil cuti selama seminggu. Aku akan memberikanmu waktu untuk merefresh diri dan mencari gadis yang ingin kau jadikan istri."


"Bos!. Mencari gadis yang akan kita jadikan istri. Bukan perkara mudah, seperti mencari gorengan terus kita beli."


"Ehmm.. Iya juga sih. Tapi, mengapa aku begitu mudah mendapatkan Barbara?."


"Itu mah ,dasarnya udah jodoh. Bos."


"Jodoh orang ganteng ya.."


"Narsis."

__ADS_1


Percakapan mereka berdua sedikit membuat ringan kepala. Kepala yang dipenuhi dengan banyaknya tulisan yang terangkum di dalam map.


.


.


🔹🔹 Mall🔹🔹


Beda tempat, beda juga suasananya. Kini nyonya Dominique tersebut sedang berada di sebuah mall besar yang ada di Jakarta. Barbara yang ditemani sepuluh anak buah yang memang berjarak agak jauh darinya. Kini melangkah girang. Mata yang berbinar menatap semua koleksi barang-barang. Mulai dari yang brand terkenal sampai barang KW .


Algojo pria berbadan kekar serta memiliki paras seperti orang timur itu. Kini sedang mengawal sang nyonya Demian Dominique. Algojo yang memiliki badan kekar ,otot bisep dan wajah yang terlalu tampan untuk profesi sebagai bodyguard itu pun. Memang terlihat lebih tampan ketimbang pengawal yang lain. Algojo lebih dominan menonjol. Barbara heran, kenapa tampan-tampan mau jadi bodyguard. Kan bisa juga jadi polisi, TNI atau apalah ya.


Entahlah.


Barbara yang memakai dress berwarna maroon panjang selutut. Menampilkan kedua jenjang mulusnya dengan rambut merah yang tergerai bebas sepinggang. Dilengkapi sepatu flat berwarna merah senada dengan dress dan juga tas slempangnya. Membuat siapapun yang melihat pasti akan terpesona dengan kecantikannya. Sungguh merah-merah semua tema hari ini.


Barbara oh Barbara.


Menelusuri setiap toko yang ada di mall. Kini kaki jenjangnya berhenti tepat di toko khusus pria. Pikirannya langsung kepada sang suami dan juga ayah, yang lama tidak ia tengok.


Ingin sekali Barbara menemui kedua orangtuanya dan mengabari bahwa ia sedang mengandung cucu mereka.


"Ah.. ini pasti bagus untuk mas Demian." Kata Barbara mengambil satu kaos polo bermerk terkenal itu.


Barbara juga mengambil beberapa set baju lainnya untuk ayah, dua kakaknya serta keponakannya. Lebih mengejutkan lagi saat Barbara memanggil Algojo dan sembilan anak buah suaminya itu memilih apa yang mereka butuhkan.


Mau tak mau akhirnya Algojo memanggil semua teman sejawatnya. Mereka yang sudah berkumpul hanya saling tatap. Merasa ini sebuah kesalahan. Mengapa mereka harus memilih baju yang menurut mereka, harga perbaju sama dengan setengah gaji mereka.


Barbara yang awalnya sedang memilih baju untuk keluarganya pun akhirnya berhenti. Menoleh kearah semua anak buah suaminya. Merasa kalau mereka enggan memilih. Barbara akhirnya membuka suara.


"Pilihlah masing-masing lima set beserta **********. Tidak usah ragu. Ini rezeki kalian semua. Saya tunggu disini. Silahkan kalian memilih se-selera kalian." Ucap Barbara dengan lembut dan penuh penekanan.


Barbara pun kini memilih duduk di salah satu sofa yang ada didalam toko tersebut.


Merasa tenaganya lebih cepat capek semenjak hamil. Jadi ia memberi jedah untuk dirinya sendiri. Barbara sangat antusias membelikan baju untuk semua anak buahnya yang ikut. Dia juga merasa senang karena hari ini bisa melihat mereka yang ikut tersenyum.


Barbara kini menjadi nyonya Demian Dominique. Tak menjadikan ia lupa darimana asalnya. Nafkah yang diberikan suaminya selama menikah hampir jalan tiga bulan ini. Sangat membuat Barbara kaget sekaligus takjub. Mengapa suaminya sangat kaya. Uang bulanan sama dengan uang buat beli rumah didesa.


Author juga pingin seperti Barbara nie. Hahahaha :V


Tak khayal jika ia mau membelanjakan semua anak buah suaminya. Ia merasa ini juga rejeki mereka semua. Doanya suaminya selalu sehat dan selamat dimanapun ia berada.


Semua anak buah mengangguk. Merasa mendapat jackpot. Kapan lagi bisa memilih baju brand terkenal. Bukan memanfaatkan situasi. Tapi, ini sudah rezeki.


"Istri Bos sangat baik ya." Sahut salah seorang anak buah Demian.

__ADS_1


"Iya.. Tak kalah baiknya dengan Bos." tukas yang lain.


"Semoga nyonya dan tuan bos selalu bahagia." Timpal mereka lagi.


Semua mengangguk dan mengaminkan doa rekan sejawatnya itu. Kebaikan keluarga Dominique sangat berpengaruh. Seperti saat ini, pengaduan mereka mendapat jaminan keselamatan dan jaminan kesehatan serta keselamatan untuk keluarga mereka masing-masing.


Algojo yang mendengar percakapan mereka pun ikut mengaminkan dalam hati. Merasa apa yang dikatakan rekan sejawatnya itu benar dan fakta.


"Sudah semua." Tanya Barbara saat melihat seluruh anak buah yang lebih tepat kita sebut pengawal itu, membawa masing-masing tas berisikan set baju pilihannya.


Mereka semua mengangguk mantap.


"Ayo kita ke kasir. Terus temani saya nonton ya. Saya mau nonton film Bollywood yang lagi booming ni." Seloroh Barbara santai dengan senyum merekah.


"Gimana ?. Mau kan?." tanya Barbara lagi memandang kesepuluh pengawalnya.


Mereka ragu-ragu lagi. Saling tatap. "Tidak usah ragu. Anggap ini bonus kalian semua. Kapan lagi bisa nonton film. Film action pula. Temani saya. Pesan minuman dan cemilan sesuka kalian nanti." Tukas Barbara membuat semua melongo.


Saat semua belanjaan sudah masuk ke papper bag masing-masing. Tak lupa Barbara memberikan black cardnya sebagai alat berbayarnya. Seketika pihak kasir terkejut.


Black Card merupakan salah satu jenis kartu kredit yang hanya dimiliki oleh kalangan atas. Tidak sembarang orang bisa memiliki Black Card. Sebab, untuk memiliki kartu ini diperlukan biaya tahunan yang sangat tinggi dan memiliki persyaratan pengeluaran yang sangat tinggi.


"Terima kasih mbak.. Oh ya ini buat mbak. Karena sudah melayani kami dengan baik." Ucap Barbara dengan lembut sembari memberikan uang tip untuk pihak kasir dan karyawan toko tersebut.


Mereka yang melihat banyaknya uang merah merasa dibuat melongo.


"Ini rezeki kalian. Silahkan ambil. Saya pamit dulu. Bye." lanjut Barbara lagi.


"Terimaksih nyonya. Ya Allah .. semoga nyonya banyak rezeki. Dan dimudahkan segala urusannya." Teriak salah satu kasir mendoakan Barbara.


Kasir itu pun memanggil semua teman kerjanya yang ada di toko untuk menerima bagian tip yang memang sudah ia bagi rata dengan adil.


Saat keluar dari toko tersebut. Mereka langsung mengikuti langkah sang nyonya Demian menuju lantai tiga bagian mall tersebut. Dimana ada sebuah bioskop kecil disitu.


"Mbak .. tiket VVIP sebelas!." Pinta Barbara saat berada di loket tiket.


"Baik!." Mbaknya menjawab tapi mata terus memandang sepuluh orang yang berada di belakang Barbara.


"Ayo! Let's GO!!!." Seru Barbara girang. Merasa hari ini hari yang penuh kebahagiaan.


Mereka tak menjawab seruan sang nyonya. Tapi, mereka hanya mengikuti kemanapun sang nyonya melangkah.


Aura positif yang dibawa istri dari tuan bosnya itu menular ke semua orang. Termasuk pengawal yang kini bertugas menjaga sang nyonya.


Senyum mereka yang aslinya sangat pelit untuk di tunjukkan ke sembarang orang. Kini malah terlepas dengan sendirinya. Melihat tingkah gadis berambut merah yang sudah berstatuskan istri tuan bosnya itu seperti anak kecil. Mereka pun ikut merasakan kebahagiaan dan senyum sendiri tanpa di paksa.

__ADS_1


.


.


__ADS_2