MENJADI IBU SUSU-MU

MENJADI IBU SUSU-MU
TANGAN KANAN 'BONE ABRAHAM'


__ADS_3

Senja datang di iringi lantunan ayat suci, tanda adzan maghrib akan berkumandang. Barbara yang sedari tadi hanya diam di ranjang king size milik Gio tanpa bergerak turun untuk sekedar melihat-lihat . Sekarang merasa kalau tubuhnya sudah sangat lengket. karena memang sudah menunjukkan pukul 17.25 WIB.


Gio yang telah berada di luar ruangan dikejutkan dengan kedatangan Barbara. Barbara yang tengah menerawang sekeliling rumah mewah Gio dengan ornamen bentuk naga itu.


"Ehmm .. Tuan." Lirih Barbara memanggil Gio yang memang sedari tadi berdiri di tepian anak tangga.


Gio pun menoleh. Menunggu Barbara mengucapkan kata-katanya lagi. "Saya numpang mandi, boleh?." Tanya Barbara dengan ekspresi menggemaskan.


Bibir ceri dengan kepala yang di condongkan ke depan seperti orang sedang membisikkan sesuatu kepada lawan bicaranya.


Gio menahan senyumnya. Agar tak terlihat salah tingkah akan menggemaskannya perilaku Barbara. Gio langsung mengangguk mantap. "Boleh, ada banyak baju khusus wanita di almariku. Kau bisa ambil se-suka mu." Jawabnya.


Barbara mengulas senyum manisnya. Merasa hari ini dia akan bertemu air. Air yang akan membuatnya segar. "Terima kasih Tuan...???."


"Gio .. namaku Gio." Potong Gio cepat, kemarin belum memperkenalkan dirinya kepada wanita berambut merah itu.


Barbara mengangguk pelan dan mulut membentuk huruf 'O'. "Baiklah... Saya mandi dulu!." Sergah Barbara langsung membalikkan badan bergegas masuk ke kamar Gio lagi.


Gio yang memang tinggal sendirian di rumah mewah itu. Merasa sedikit terhibur dengan wanita yang ia jadikan sandera. Sandera sehat, bukan sandera yang dia sakiti. Melihat kelembutan dan merasakan aura positif dari wanita berambut merah itu. Menjadikan Gio berubah pikiran. Dia juga tak mau menyalah gunakan kekuasaannya hanya untuk membalas dendam kepada rivalnya.


Gio menatap punggung Barbara yang mulai menghilang dibalik pintu. Helaan nafas terdengar kasar. Mencoba duduk di anak tangga paling ujung bagian atas itu. Berpegangan pada penyanggah besi anak tangga dan menyandarkan punggungnya. Meluruskan satu kaki dan memangku tangan satunya.

__ADS_1


Tiba-tiba saat dirinya melamunkan sesuatu. Ada dua anak buahnya melaporkan sesuatu. Bahwa ada seseorang yang sudah menunggunya di bawah.


Merasa tak punya janji dengan seseorang. Giorgio Abraham pun enggan untuk turun. Dia memilih untuk berdiam diri dengan ke mageran yang telah menyerangnya.


Cuaca mendung, suasana syahdu. Membuat Gio merasa malas untuk melakukan aktivitas yang menurutnya menguras banyak energi.


Tuk


Tuk


Tuk


Suara ketukan sepatu melangkah menuju arah Gio saat ini. Melangkah dari anak tangga ke anak tangga yang lain.Gio yang sedang bersantai di ujung tangga atas pun hanya diam sembari memejamkan mata. Mengacuhkan sesiapa yang datang.


Tepukan pelan mendarat di bahu Gio. Mendaratkan b©k©n9nya ke arah anak tangga tepat di bawah anak tangga yang duduki Gio. Gio yang masih setia menutup mata itu hanya diam tak terpengaruh sedikit pun.


"Tuan. Saya kesini akan memberitahukan sesuatu kepada Tuan."


Helaan nafas terdengar cukup panjang.


"Saya bekerja bersama dengan paman anda Bone Abraham sudah puluhan tahun. Saya juga melihat bagaimana saat anda masih bayi. Ditimang, disayang oleh kedua orang tua anda. Perlu anda tahu, selama ini. Anda di jadikan alat untuk menuntaskan balas dendam paman anda sendiri. Setelah kematian kedua orangtua anda. Dimana anda waktu itu berusia tujuh tahun. Saya disini, sudah merasa muak dengan apa yang paman anda titahkan kepada saya. Hidup saya terlalu bergantung hingga dikekang oleh paman anda yang serakah itu. Sebagai tangan kanan Bone Abraham. Saya hanya ingin ,memberitahu bahwa Varro Dominique bukan orang yang telah melenyapkan Kedua orangtua anda. Tuan. Ini fakta."

__ADS_1


Jderr!


Mata yang tadi memejam kini terbuka sempurna. Merasa cerita dari tangan kanan pamannya itu menarik. Akhirnya Gio bangkit mengajak tangan kanan Bone Abraham itu masuk ke ruang kerjanya yang ada di lantai satu.


"Kita keruangan kerjaku. Jangan disini. Aku akan mendengarkan semua yang kau tau!." Ucap Gio dengan langkah menuruni beberapa anak tangga.


Tangan kanan Bone Abraham yang bernama Yusa, itu pun menurut. Mengikuti langkah keponakan sang bosnya.


Kriettt


Daun pintu terbuka lebar. Ruangan gelap beraroma bunga tulip itu pun di masuki dua manusia sama-sama berbadan kekar. Namun beda usia.


"Duduk..!" Titah Gio kepada Yusa.


"Terima kasih, Tuan." Ucap Yusa yang duduk dihadapan Gio.


Pria paruh baya yang sedikit dipenuhi rambut berwarna putih itu pun menatap sang keponakan tuannya dengan mantap. Merasa yakin, jika ini saatnya dia menyerahkan bukti bahwa Varro Dominique bukan orang yang telah mencelakai kedua orangtuanya. Melainkan pamannya sendiri.


Satu amplop coklat ia julurkan ke hadapan Gio. Membuat Gio mengerutkan dahi. Lalu menatap Yusa dan amplop secara bergantian.


"Buka tuan. Ini adalah surat wasiat yang ditinggalkan oleh orangtua anda sebelum meregang nyawa." Tukas Yusa dengan penuh ke hati-hatian.

__ADS_1


Tanpa ba-bi-bu. Gio membuka perekat amplop yang sedikit menguning itu. Dengan hati-hati Gio membaca bagian atas surat itu.


"Anakku Giorgio Abraham"


__ADS_2