
"Aku tidak bisa membiarkan Gio melampaui batas, Dad. Dia sudah salah sangka dan salah paham akan apa yang terjadi pada kedua orang tuanya." Ucap Demian yang kini sedang berada di ruang kerja di dalam mension mewah milik Dominique.
"Daddy tau. Tapi,kita tidak bisa mengubah pemikiran seseorang ,untuk menggunakkan hati ke hati. Tidak ada gunanya untuk saat ini. Pikiran dia sudah tercuci oleh ucapan buruk tentang keluarga kita." Jelas Daddy dengan menyandarkan punggungnya ke kursi kerjanya.
"Daddy sangat tau watak anak itu. Anak yang dulu dibesarkan oleh Ele Abraham dan Sion Sinar dengan penuh kelembutan. Kini harus menjadi anak yang berwatak keras dan bersifat kejam. Apa yang sebenarnya yang mempengaruhi Gio sampai terhasut dengan pemikiran kotor tentang keluarga kita. Daddy sampai sekarang hanya bisa menyayangkan hal itu,Mian." Sambung Varro sang Daddy dengan wajah sendu.
Anak yang digadang-gadang sebagai pewaris keluarga yang baik serta memiliki Budi pekerti yang luhur itu. Sekarang memiliki sifat berbanding terbalik. Gegara salah asuhan. Asuhan yang diberikan oleh sang pamannya sendiri. Bone Abraham adik almarhum Ele Abraham.
Wajah yang tampan tak membuat hatinya juga ikut serta tampan. Justru sebaliknya. Giorgio Abraham yang sekarang lebih dikenal di dunia gelap akan kekuasaannya yang memang tak terhingga. Dari penjualan narkob@, transaksi persenjataan ilegal dan penjualan w@n1t@. Terdengar sangat keji, memang.
Kini Varro dan Demian sedang mencari cara agar perbuatan Gio tak sampai melukai orang-orang yang mereka sayangi. Seperti halnya, Barbara yang kini dijadikan sasaran oleh Gio sebagai kelemahan seorang Mian anak mantan mafia terdahulu , Varro Dominique.
Mulut bisa berkata untuk 'tidak'. Namun siapa sangka hati justru meng-iya-kan. Meng-iyakan setiap perbuatan buruk yang akan mereka lemparkan kepada seseorang yang tidak bersalah.
"Kumpulkan semua anak buah kita. Algojo yang biasa menangani ini semua. Hubungi dia!. Daddy yakin. Mereka akan membuka tangan. Siap menerima permintaan tolong untuk membantu kita."
"Dulu.. Daddy pikir, Gio adalah manusia yang pandai. Justru dia adalah manusia paling b©d0h. Setelah apa yang ia lakukan. Melakukan hal sepele, hanya untuk membalaskan sesuatu yang tidak pernah ia yang anggap musuh itu lakukan!." Geram Daddy Varro sembari menggertakkan giginya.
Demian yang melihat wajah sang Daddy merah padam karena geram dengan hal itu pun. Hanya diam sambil memikirkan rencana selanjutnya. Dia tak mau gegabah. Ledakan kemarin, cukup membuat seisi mension menjadi kacau. Untung pelemparan bahan peledak itu,tidak kedalam . Hanya dekat hutan buatan samping rumah saja. Bisa dikatakan aman karena jarak dari ruang utama sangatlah jauh.
Ceklik!.Dua jari bergesek membentuk seperti jentikan.
"Kita pasang umpan saja, Dad!." Seru Demian terdengar agak konyol.
"Maksud kamu apa, Mian?." Tanya Daddy heran dengan ucapan konyol sang putra sulungnya itu.
"Hehehe... Nanti Daddy juga akan tahu. Apa yang akan aku lakukan. Pastinya ini seru. Kita bermain-main dulu dengannya. Kucing di kasih ikan asin pasti akan mendekat. Jadi.... Yaa... Tenang saja deh Daddy." Gelak tawa Demian terdengar seperti sedang mengejek seorang Gio yang 'katanya' dia adalah seorang yang kejam.
__ADS_1
Daddy Varro memandang sang anak pun hanya membatin. 'Benar-benar gila. Kenapa bisa.. Zahira,menurunkan ke-absurd-annya kepada Mian.'
Helaan nafas terdengar.
.
.
.
.
🔹🔹🔹🔹
"Tuan.. Bisakah kau menolong,ku?." Tanya wanita berpakaian seksi itu dengan menyodorkan dompetnya, kepada sang pria berbadan kekar yang tak lain adalah Gio.
"Tuan... Tolong saya. Saya hanya ingin membenarkan br@ saya yang turun." Ucap wanita seksi yang tak merasa malu itu.
Glek!
Gio menelan saliva. Saat wanita seksi yang didepannya kini membenarkan br@,nya. Tepat didepan kedua bola matanya dan dengan tak menghiraukan tatapan lapar Gio dan dua anak buah Gio yang berada tepat di samping kanan kirinya.
"Sudahhh..." Wanita seksi itu mendesis lembut.
"Terimahh kasihh .. karenahh tuanhh sudahh mauhh memegangiihhh dompetkuhh...." Ucap wanita seksi itu lagi dengan suara yang terdengar seperti d3s@h@n bagi Gio dan kedua anak buahnya itu.
Sesak dan ingin keluar. Itu yang dirasakan Gio saat burung tanpa sayapnya meronta ingin di lepaskan.
__ADS_1
Gio mulai kehilangan akalnya, saat wanita s3ksi yang sekarang ada didepannya. Seraya memanggil dan melambai untuk disentuhnya. Tubuhnya dan semua yang ada pada wanita s3ksi itu.
"Sayahhh... Pergihh duluhh ya. Tuanhhh-Tuanhhh.." Pamit wanita s3ksi itu kepada Gio dan dua pengawal lainnya.
Tanpa ba-bi-bu. Gio langsung mencekal tangan wanita s3ksi itu dengan cepat. Hingga wanita itu menarik sudut bibirnya. Senyum kemenangan ia tampakkan dan hanya ia yang tahu itu. Usahanya berhasil,membuat Gio merasa tergoda dengan tubuhnya.
"Ya.. Tuanhhh...?." D3s@hny@ pelan tepat saat ia menoleh ke arah Gio. Karena satu tangannya sudah di cekal.
'Uhh.. Buah semangka yang besar. Jika Bos tidak mau. Aku juga mau.' Bathin salah satu anak buah Gio. Yang masih menatap lapar pada dua gundukan buah semangka yang menyembul itu.
.
.
🔹🔹🔹Kembali ke ruang kerja🔹🔹
Hahahahahaha...
Demian tawa terbahak-bahak melihat tatapan lapar dari Gio. Cctv hotel yang ia retas menampilkan kegiatan Gio saat itu juga. Sistem IT yang di miliki keluarga Big Dominique memang best!. Kini Daddy Varro tahu, apa rencana Demian sang putra sulungnya itu.
Demian dan Varro kini tengah menatap laptop yang memang sudah dinyalakan sedari awal membahas perencanaan itu. Sungguh menyenangkan bagi Demian melihat Gio seperti pria mesum yang haus belaian.
.
.
"Lihat Dad. Kucingnya akan memakan ikan asin yang aku berikan!. Haha..." Ucap Demian dengan tangan memegangi perutnya yang memang sudah mulai kram karena banyak tertawa.
__ADS_1
Daddy Varro hanya tersenyum tipis dan mulai beranjak meninggalkan sang putra sulungnya itu. Dia akan mengikuti apapun rencana sang sulung. Terpenting, masalah bisa lebih cepat selesai. Jangan bertele-tele. Prinsipnya sedari dulu.