
Tiga hari berlalu dengan cepat. Setelah kemarin ada insiden teror. Teror yang sangat membagongkan di layangkan ke kediaman utama Dominique. Barbara dan Demian kini sedang menikmati perannya lagi sebagai seorang pasangan suami istri. Dimana sang suami harus berangkat kerja dan seorang istri meladeni atau melayani kebutuhan sang suami.
Menyiapkan segala keperluan pakaian apa yang harus di pakai dan menyiapkan sarapan mereka. Ya, kini Demian dan Barbara sudah pulang di kediaman rumah kecil yang Demian beli pada waktu itu. Tapi, dengan pengawalan ketat. Barbara yang belum tau siapa suami dan keluarganya itu. Tak mau ambil pusing.
Terpenting ia dan suaminya kini sama-sama sedang menikmati hidup dengan saling menyayangi dan saling percaya satu sama lain. Barbara yang akan memulai sarapan dengan sang suami pun teringat akan permintaan yang sudah ia pendam. Sedari sebelum berangkat ke Cappadocia kemarin.
Ini saatnya ia akan mengatakan kepada sang suami apa yang menjadi keinginannya. " Sayang.. Aku mau makan yang cep-cep ya." Ucap Barbara dengan senyum mengembang.
Demian yang mendengar kata 'cep-cep' itu mengerutkan dahinya. Apa itu makanan 'cep-cep'. Perasaan Demian baru dengar istilah makanan seperti itu.
"Apa itu cep-cep. Sayang?!." Tanya Demian polos. "Aku baru dengar makanan itu loh. Emang ada?!." Tanyanya lagi.
"Ih!!, itu loh yang saat di makan itu bunyinya cep-cep gitu di mulut!." Sewot Barbara ketika Demian tidak mengerti apa yang ia maksut.
"Apa sih sayang?. Sumpah aku nggak tau. Makanan apa yang kamu maksud itu." Demian dengan raut wajah bingung.
"Itu loh mas. Cep-cep."
"Lah iya. Apa itu, Sayang?!."
Barbara hanya senyum senyum sendiri. Membuat Demian heran. "Hehe.. Mangga muda, Mas!." Serunya.
"Astaghfirullah!. Bilang aja kalau mau mangga muda. Kenapa harus bilang cep-cep. Aneh kamu, Yang." Sergah Demian dengan mengatai aneh sang istri. Membuat Barbara tiba-tiba menangis.
__ADS_1
Hiks... Hiks..
Melihat istrinya menangis. Demian panik. Pasalnya dia hari ini harus berangkat kerja untuk pertama kalinya setelah libur hampir satu Minggu kemarin.
"Kamu jahat!." Tuduh Barbara menunjuk suaminya.
Demian melongo saat dikatai jahat. "Aku emang buat salah apa, Sayang?." Tanya Demian heran dengan mengusap rambut sang istri pelan.
"Kamu bilang aku ANEH!!. Ha.....Hiks.." Jawab Barbara dengan tangisan yang semakin kencang.
Beginilah menghadapi ke-sensitifan ibu hamil. Dia yang sudah mengetahui sedikit demi sedikit melalui internet itu. Kini mulai paham. Perasaan yang di alami sang istri adalah pengaruh hormon. Demian lebih memilih bersikap lebih lembut dan pasrah saja ketika sang istri sudah dalam mode merajuk dan ngambek tak karuan.
"Maafkan Mas sayang... Mas nggak bermaksud mengatai sayang itu aneh. Maksud mas, mengapa kamu ingin mangga muda malah bilangnya cep-cep. Kan itu serasa aneh saat mas mendengarnya." Kata Demian pelan dengan penuh kelembutan. Menaruh kepala sang istri di dada bidangnya. Menghapus jejak air mata yang membasahi pipi mulus ibu susunya itu.
"Pokoknya aku mau mangga muda. Terus nanti di colek pakai sambal gula merah yang dikasih campuran cabe dua." Ujar Barbara dengan semangat empat lima. Membayangkan betapa segarnya mangga muda sambal gula merah.
Barbara menggelengkan kepala cepat. Saat ini hanya itu saja,yang ia mau. Entah kedepannya, Kandungan yang memasuki genap dua bulan. Membuat Barbara merasa banyak rasa malas menyerang ketimbang melakukan aktivitas berlebih.
Mereka belum memeriksakan ke dokter kandungan di Indonesia saat ini. Karena memang mereka sudah memeriksakan kemarin di klinik yang terdapat di Cappadocia saja.
Rencana Minggu depan. Barbara dan Demian akan mengunjungi dokter kandungan. Untuk memastikan anak yang ada di dalam rahimnya sehat dan selamat.
"Baik.. Kamu yang baik-baik ya di rumah. Jangan buka pintu ,jika itu bukan seseorang yang kamu kenal. Mas nggak akan lama kok. Pekerjaan hari ini juga, sudah banyak diambil alih oleh Diego. Jadi, mungkin Mas bisa pulang tepat waktu. Soal mangga muda, nanti mas kirim g©j3k untuk ngantar ke sini ,ya?." Tutur Demian panjang kali lebar dengan penjelasan yang lugas.
__ADS_1
"Siap Bos!." Sahut Barbara.
Mereka mengurai pelukan. Segeralah menyelesaikan acara sarapan. Demian dengan sigap membersihkan meja makan. Membantu sang istri membawa piring-piring kotor ke wastafel.
Barbara sangat beruntung. Saat ia diketahui hamil. Suaminya dua kali lipat memberikan extra perhatian dan menumpahkan kasih sayang kepadanya.
.
.
Cup!
Dikecupnya kening istrinya lama. Dan mengelus sebentar perut sang istri. Mensejajarkan antara dirinya dan perut sang istri. " Ayah pergi dulu ke kantor. Kamu jaga ibu dengan baik. Jangan biarkan ibu kerepotan. Jangan rewel ya,sayang. Cup!." Kata Demian seolah-olah sedang berbicara dengan anaknya,yang seakan sudah mengerti.
Hihi
Barbara tertawa geli, merasa gemas dengan suaminya itu. " Iya.. Ayah. Ayah juga hati-hati ya." Balas Barbara menirukan suara layaknya anak kecil. "Dan jaga mata juga hati. Awas jelalatan. Akan ku potong pusakamu nanti." Ancam Barbara tiba-tiba.
Glek!
Demian menelan saliva. Mana berani dia main mata dan masih hati dengan perempuan lain. Mendapat asupan bernutrisi dari gadis berambut merahnya kini pun. Demian sudah banyak bersyukur. Tak akan ia main-main dengan sembarang wanita. Sungguh sangat menjijikan baginya. Cukup satu dan cukup ia jadikan teman seumur sehidup semati.
.
__ADS_1
"Bye.. Sayang. Assallamualaikumm!." Lambai Demian ketika sudah menyalakan mesin mobilnya.
"Bye .. Ayah. Waalaikumsalam!."