
"Jadi, besok pagi-pagi sekali. Aku akan mengantarkan mu pulang. Nona Barbara." Celetuk Gio dengan tangan masih melemparkan pakan ke kolam ikan tersebut.
Barbara manggut-manggut. Seperti mempunyai feel tersendiri. Barbara bisa membedakan mana ketulusan dan mana kebohongan. Inilah yang di rasakan Barbara Gio itu tulus saat mengatakan itu.
"Terima kasih. Karena tidak menjadikan saya sandera, yang anda siksa dan anda bejeg-bejeg. haha..." Sarkas Barbara dengan tawa kecil.
Membuat Gio mendongak, menatap wanita yang ia lihat memang wanita baik serta mempunyai aura positif itu.
"Justru aku lah yang berterima kasih kepadamu. Kamu wanita yang baik. Juga kamu wanita yang tenang. Meski aku orang asing. Bicaramu masih tenang dan tak meronta seperti orang yang benar-benar di culik." Ucap Gio dengan sedikit tak nyambung.
"Halah!. Tuan ngomong apa sih!. Muter-muter."
Lalu keduanya tertawa terbahak-bahak. Merasa lucu sendiri dengan kondisi seperti ini. Malam semakin menunjukkan pernak-perniknya. Seperti bulan dan bintang menghiasi langit malam saat ini 🌃.
"Oh ya, bisa anda teruskan tentang mantan suami saya?." Tanya Barbara dengan serius menatap gio.
Helaan nafas terdengar berat. Seperti orang yang malas untuk menceritakan keseluruhan masa lalu yang sampai membawa dia terjerumus ke salah pahaman saat ini.
Barbara yang melihat Gio menghela nafas pun merasa bahwa masa lalu dia dan suaminya tentang wanita yang bersama Bunga itu sedikit rumit.
"Kamu penasaran, Nona?."
__ADS_1
Barbara langsung mengangguk cepat.
"Bunga adalah teman masa kecil suami mu Demian. Mengapa aku tahu?. Karena bunga sendiri yang cerita. Entah dari sisi Demian bagaimana. Aku belum pernah mendengar ceritanya. Bunga adalah anak dari tetangga Demian dulu di rumah lama. Dia berhubungan dengan Demian sejak usianya terbilang masih kecil, saat usia mereka sama-masa masih anak bau kencur . Beberapa tahun setelahnya. Bunga yang menganggap Demian hanya sebatas teman dan tak lebih dari apapun perasaan walau terbilang mereka sudah dewasa. Beda dengan Demian yang menganggap Bunga seperti kekasihnya, mengklaim Bunga adalah miliknya. Sampai pada perasaanya Demian menyatakan bahwa dia mencintai Bunga...."
Ucapan Gio terjeda.
" Kau tahu, Barbara. Sejujurnya aku tidak tahu menahu tentang Demian lebih detail. Hanya slentingan dari berbagai sudut saja orang menceritakan tentang Demian.
Terkhusus Bunga sendiri. Pada waktu itu. Aku di pertemukan Bunga di sebuah Club' malam yang berada di kota Italia. Entah apa yang ia kerjakan. Tapi, hampir setiap malam aku ke Club'. Pasti ada sosok Bunga. Hingga aku penasaran dan mulai mengenalnya, yang ternyata pada saat itu Demian dan Bunga sudah menjalin hubungan. Meski dari pihak Bunga biasa saja. Bukan ingin menjelekkan Bunga, tapi saat aku mengenalnya.
Aku sempat bermain serong dengannya. Kamu paham lah apa maksud,ku. Aku disitu curiga.
Apa pekerjaan Bunga di Club' sebagai kupu-kupu malam 🦋🌃?.
Pada saat itu pula ,yang bikin aku kaget, dia sudah tidak virgin lagi, Nona." Jelas Gio dengan sedikit menahan malu saat menceritakan hal yang menjijikan itu.
Deg!
Mendengar sudah tidak virgin lagi. 'Apakah mas Demian, yang pertama menjebolnya?.' Bathin Barbara seketika membuat dadanya sedikit sesak. Penasaran akan hal itu.
Melihat perubahan wajah Barbara. Gio langsung melanjutkan cerita yang belum tuntas itu.
__ADS_1
"Bunga adalah simpanan orang-orang kaya. Setahuku, selama mengenal dia. Dia tak pernah bersanding bersama laki-laki yang bernama Demian. Yang sekarang jadi suami mu. Sungguh aku tak bohong!." ✌️ Kedua jari membentuk huruf 'V' tanda bahwa ia tak berbohong.
"Kamu bisa tanyakan sendiri kepada Demian nanti. Untuk perseteruan ku dengan Demian , lah itu gegara Bunga. Aku pulang ke Indonesia untuk mengantar Bunga. Eh malah tuduhan tak beralasan yang ku terima. Justru aku yang kaget dong. Serius! ✌️."
"Rumit dan bikin males intinya!." Seloroh Gio dengan sedikit berdecak lidah.
Barbara pun memberikan respon yang sewajarnya. Dia yakin, itu hanya masalah mantan. Tak akan pernah menjadi masa depan mas Demian yang ia alami saat ini. Bersanding dengan suaminya dan akan mempunyai keturunan yang sehat-sehat dan Sholeh Sholehah dari Demian tentunya. Aamiin.
"Terima kasih sekali lagi kepada anda Tuan. Biarkan ini menjadi masa lalu bagi anda dan suami saya. Saya, tak akan mengungkitnya didepan suami saya. Karena bagi saya, masa depan saya lebih berharga ketimbang mengorek masa lalu suami saya. Yang akan menjadi Boomerang sendiri untuk saya, nanti." Ucap Barbara dengan bijak.
Sontak membuat Gio semakin mengagumi sosok wanita berambut merah itu. Tanpa sadar senyuman pun terbit dari kedua surut bibirnya.
"Permisi, Tuan. Makan malam sudah siap." Ucap maid Indah kepada Gio. Yang tiba-tiba memberhentikan obrolan mereka berdua.
Gio pun mengangguk dan menatap Barbara. "Ayo. Isi perutmu. Agar saat aku mengantarkanmu pulang. Suamimu tak meninjukuu gegara tak memberimu makan dan membuat kurus dirimu." Sarkas Gio.
Xixixixixixi...
Barbara terkikik geli. Merasa perkataan Gio adalah sebuah kekonyolan saat ini.
"Com! Kite makan!." Seru Barbara dengan bahasa Melayu menirukan film duo botak.
__ADS_1
"Betul ... betul...betul!." Balas Gio dengan tawa yang lepas.
Hahahahahaha...