MENJADI IBU SUSU-MU

MENJADI IBU SUSU-MU
MENYESAL


__ADS_3

Siapa yang tidak menyesal?. Jika hati kita salah menaruh dendam. Memendam rasa sakit dengan orang yang salah. Jelas itu semua tidak dibenarkan. Tapi, namanya juga manusia. Tempatnya dosa bukan tempatnya rasa yang paling benar.


Hal itu juga dirasakan oleh Giorgio Abraham. Kedatangannya yang tiba-tiba. Kesengajaannya serta niat buruknya sudah membuat hati seorang yang tidak seharusnya menerima tampungan kesalah pahaman ini menjadi murka. Seperti Demian Dominique, Gio yakin. Suami mana yang tidak marah saat istrinya di colong atau lebih tepatnya di culik dijadikan sandera.


Jelas marah lah pikirnya saat ini. Menyesal pun sudah terlambat. Apa dia harus meminta maaf atau sebaliknya. Sangat dilema.


Gio yang sudah mengetahui setitik fakta yang sebenarnya melalui surat wasiat yang ditulis oleh Daddynya sendiri. Kini benar-benar di Landa perasaan gunda gulana. Hati yang berat akan dendam yang salah, kini berubah rasa penyesalan.


Terlanjur malu sih, jika sudah seperti ini. Iya nggak sih para pembaca?.


Sudah datang dengan teror peledakan di mension Dominique pada waktu itu. Menggondol istri orang dijadikan sandera. CK,ck sungguh nasib Gio.


Termakan oleh hasutan Paman kurang akhlaknya. Gio yang masih berada di dalam ruangan kerjanya pun. Melipat kembali dan memasukkan lembaran surat wasiat dari Daddy,nya tersebut. Dimana ia akan membaca surat itu kapan saja. Jika hati mulai merindukkan Daddy Mommy nya lewat sepenggal cerita ,yang Daddy nya tulis.


"Paman Yusa. Aku sangat berterima kasih karena Paman sudah mau repot-repot mengunjungiku kesini. Aku tak tahu harus apa setelah ini. Rasa nya aku ingin menenggelamkan diriku. Karena sudah sangat salah paham dengan orang yang di anggap sahabat oleh Daddy.ku." Ucap Gio dengan kepala menunduk merasa sangat bersalah.


Dia yang kurang kasih sayang dari orang terdekatnya. Dia juga yang selalu menerima penekanan akan sikap keras Paman kandungnya sendiri. Benar-benar di landa kehampaan saat ini.


Yusa menggenggam tangan Gio. Membuat Gio mendongakkan kepalanya, menatap pria paruh baya yang ada di hadapannya. "Tuan Gio, sebaiknya anda menemui Tuan Varro Dominique. Dia adalah orang yang baik. Meski dulu dikenal juga akan kekejaman saat berada di dunia gelap seperti mafia. Tapi, Tuan Varro tetap manusiawi dengan bisa membedakan mana lawan dan mana kawan. Saya mohon pertimbangkan apa yang saya ucapkan ini, Tuan. Sebelum terlambat. Karena anda lah, genderang perang telah di bunyikan." Ujar Yusa panjang lebar dengan menggenggam erat telapak tangan pria muda didepannya.


Deg!


'Genderang perang.' Bathin Gio.

__ADS_1


Gio tersadarkan dengan dua kata itu. Di dalam benaknya saat ini adalah mengirim sinyal damai dan akan memulangkan sandera dengan selamat. Toh, memang Barbara tidak dia apa-pakan. Waktu penculikan juga belum ada 24 jam. Jadi, dia pikir inilah kesempatan memutus rasa kesalah pahaman ini.


Yusa yang melihat pemuda di depannya diam. Berfikir bahwa Gio adalah pemuda yang mempunyai pikiran yang logis dan masih mempunyai hati seperti ibunya dulu, Sion Sinar. Yusa yakin, Gio sebentar lagi akan menemui sahabat ayahnya itu.


"Baiklah Paman Yusa. Terima kasih sekali lagi. Aku akan menjamin keselamatanmu, Paman. Tenang saja." Tukas Gio lalu beranjak meninggalkan Yusa sendirian di ruang kerjanya.


🔹🔹🔹🔹 Kediaman Dominique 🔹🔹🔹


"Sudahlah anak seperti Gio tak akan melukai istrimu. Percaya sama Daddy. Besok istrimu itu akan ia kembalikan lagi dengan keadaan selamat tanpa lecet." Ucap Daddy Varro yakin.


"CK!. Kemarin saja saat kita menerima bom. Daddy bilang dia anak beginilah itulah. Sekarang malah membelanya. Dasar!." Sahut Demian dengan bibir mencebik.


PUG!!


Lemparan korek api mengenai kepala Demian. Demian pun meringis merasakan sakit saat bekas timpukan itu terasa panas di kulit kepalanya. "Sakit Dad!. Daddy ini seperti bapak tiriku saja!. Tidak sayang anak!." Cerocos Demian.


"Anakmu juga Dad!." Timpal Demian.


"Terserah." Seloroh Varro yang sudah mulai malas meladeni ke absurd-an anaknya itu. Sangat persis dengan istrinya Zahira.


"Gimana Dadd. Pasukan kemarin?. Yang sudah kita siapkan itu. Apa kita jadi mengepung rumahnya?!."


"Tidak usah. Santai saja. Daddy yakin, menantu Daddy disana juga di perlakukan dengan baik. Daddy sangat yakin dan yakin."

__ADS_1


"Daddy seyakin itu?!. Aku sih Tidak."


"Kamu tahu siapa Gio?. Dia anak sahabat Daddy, Mian!."


"What?!!."


Seketika bola mata Demian membulat lebar. 'Anak sahabat Daddy?'. Bathinnya.


"Serius Dadd?!." Tanya nya lagi dengan masih penasaran dengan apa yang ia dengar.


Varro pun hanya mengangguk pelan. Varro sudah tahu respon apa yang akan anaknya itu berikan. Jika sudah mengetahui fakta yang sebenarnya.


"Tapi, mengapa dia sampai nekat cari masalah denganku Dadd!."


"Itu, karena mantan kekasihmu dulu. Haha... Yang sangat mur@h@n itu. Siapa namanya , Daddy lupa ..."


"Bu-bunga.. Dad."


" Nah itu Bunga. Bunga bangkai lebih tepatnya. Karena kelakuannya mirip b@ngk@1. Menjijikkan. Hihh."


Membuat Varro berdigik ngeri saat ia pernah memergoki mantan kekasih anaknya itu sedang 3some dengan kolega bisnisnya di sebuah hotel Ibu Kota.


'Amit-amit ya Allah... Untung menantuku wanita baik-baik. Bukan seperti kupu-kupu malam.' Kata Varro dalam hati merasa sangat bersyukur memiliki Barbara.

__ADS_1


.


.


__ADS_2