MENJALIN KONTRAK DENGAN IBLIS

MENJALIN KONTRAK DENGAN IBLIS
Murid no 2


__ADS_3

Revan sadar setelah 5 jam tidur akibat kelelahan menggarap pelayan cantik, saat sadar Revan menyadari bahwa dia telah memperkosa seorang pelayan hotel akibat terlalu mabuk tuak atau bir. Pelayan cantik yang bernama Rani itu meringkuk berbalut selimut dengan ketakutan disudut kamar, penampilannya terlihat acak-acakan dan begitu menyedihkan.


"Apa yang terjadi? maksudku maaf atas apa terjadi tadi malam." Revan berusaha mengelak, namun dia harus sadar diri bahwa dia telah melakukan kejahatan.


"Maafkan aku, itu sebuah kecelakaan, aku tidak bermaksud melecehkanmu." ujar Revan meminta maaf sambil mencoba mendekati Rani.


Rani menggeleng ketakutan ketika Revan bergerak mendekatinya, dia bahkan mengacungkan pecahan gelas ditangannya bermaksud mengancam Revan.


"Jangan mendekat, monster!" teriak Rani dengan tatapan kebencian.


"Kamu adalah seorang iblis! kamu iblis! kamu bukan manusia!" ujar Rani dengan ketakutan sambil mengayunkan tangannya mengancam Revan dengan pecahan kaca.


Revan hanya bisa memegang kepalanya sambil mengacak-acak rambutnya tanda penyesalan, disaat itulah Luci mulai menghasut Revan.


"Revan kamu harus membunuhnya, jika tidak dia akan melaporkanmu ke polisi." hasut Luci kepada Revan yang dalam keadaan tertekan dan penyesalan.


"Itu... tidak mungkin!" ucap Revan membalas hasutan Luci.


"Haha, kamu telah memperkosa seorang perempuan, kamu akan dipenjara jika kamu tidak membereskannya." ujar Luci dengan lembut dan pelan.


"Jika kamu dipenjara, kamu tidak akan bisa lagi membalas dendam ibu dan kedua kakakmu itu." Luci mulai menekan mental Revan yang terus menolak hasutannya dengan cara menggeleng kepala.


Revan terus berusaha tetap tenang, tapi hasutan Luci membuatnya mulai berpikiran buruk untuk mengakhiri hidup Rani wanita pertama yang merenggut keperjakaannya.


"Apa lagi yang kamu tunggu, bunuh wanita itu atau kamu akan dipenjara." hasut Luci dengan suara pelan layaknya suara hati yang terdalam Revan.


Revan berusaha menenangkan Rani yang meringkuk ketakutan dan menawarkan untuk berdamai dengan cara menikahinya, namun Rani tidak berbicara.


Trap..., trap..., trap!


Suara langkah kaki yang diperkirakan lebih dari dua orang terdengar dari luar dan berhenti tepat di pintu kamar Revan, lalu terdengar suara dobrakan.


"Kamu sudah melapor polisi?" tanya Revan dengan marah, Revan kini mulai kehilangan kendali atas dirinya sendiri.


Wanita itu menolak berbicara, namun dia kaget setengah mati karena Revan mampu mengangkat semua benda yang ada dalam kamar dengan hanya melambaikan tangannya.

__ADS_1


"Dukun..., kamu dukun, kamu seorang manusia yang bersekutu dengan iblis!" teriak Rani dengan ketakutan sambil mengayunkan tangannya mengusir Revan yang tersenyum jahat kepadanya.


Terjadi ledakan di kamar hotel nomor 47 yang Revan tempati ketika beberapa satpam dan polisi berhasil mendobrak pintu kamar Revan, para satpam dan polisi terkejut melihat Rani yang tertimpa lemari dan dalam keadaan tubuh berselimut tanpa pakaian.


Para satpam dan polisi segera membawa Rani kerumah sakit dan mengusut kasus tersebut, namun sayang CCTV di luar kamar nomor 47 dalam keadaan rusak selama dua hari penuh, sementara data Revan juga tiba-tiba menghilang dari meja resepsionis.


"Bagaimana menurutmu kapten?" tanya salah seorang polisi muda kepada kaptennya yang terlihat paruh baya dengan sebatang rokoknya.


"Sepertinya pihak hotel dan pelaku memiliki hubungan yang rumit." jawab kapten polisi dengan tenang dan acuh tak acuh.


Kapten polisi itu mencurigai pihak hotel berusaha menutupi sang pelaku, namun dia tidak peduli karena pimpinan hotel telah membayarnya untuk menutupi kasus tersebut.


"Baiklah, kamu tanya-tanya saja kepada beberapa staff hotel, siapa tahu kecurigaanku terbukti benar." perintah kapten sambil duduk di kursi dengan kaki menyilang, lalu menghisap rokoknya seperti tanpa beban sedikitpun.


Dirumah sakit.


Seorang pria memakai topeng yang menutupi setengah wajahnya datang ke kamar Rani dan segera menghampiri dan memegang tangan Rani yang begitu lemas.


"Apa yang terjadi kepadamu, sayang?" tanya pria tersebut sambil menangis pilu.


Pria itu adalah suami Rani yang bernama Waharja, mereka baru menikah selama dua tahun dan memiliki anak yang baru berumur 1 tahun, Waharja beberapa Minggu lalu adalah seorang pria kaya dan berkuasa, namun karena sebuah pengkhianatan Waharja kehilangan semua harta dan kekuasaan yang dia miliki.


"Iblis? siapa iblis itu sayang?" tanya Waharja sambil mengelus tangan istrinya tersebut.


"Iblis itu..., dia adalah pengguna..., uhuk." Rani terbatuk dan mulai kehabisan nafas.


Waharja terlihat cemas melihat Rani yang kesulitan bernafas, segera dia memanggil dokter agar segera memeriksa Rani, namun Rani memegang tangannya agar tidak pergi.


"Sayang... balaskan... dendamku... kepada dukun laknat... itu." ujar Rani terbata-bata dan lemah sambil diiringi tangis sedih Waharja, hingga akhirnya Rani menghembuskan nafas terakhirnya.


"Sayang!!! hiks..., hiks..., tidakkk! sayang, jangan tinggalkan kami sendirian, hiks." tangis Waharja pecah ketika sang istri tercinta meninggal dunia, dokter yang dipanggil akhirnya datang dan berusaha memeriksa kondisi Rani.


"Pergilah! hiks." teriak Waharja, lalu kembali menangis.


Para dokter tidak menghiraukan dan berusaha memeriksa Rani, hal itu membuat Waharja naik pitam dan membuat dokter dan perawat terhempas keluar kamar Rani dengan aura tenaga dalam yang dia miliki.

__ADS_1


"Sudah kukatakan pergi!" ucap Waharja dingin tanpa menoleh kepada dokter dan perawat yang terhempas akibat aura tenaga dalam Waharja, mereka bahkan syok berat dan ada yang termuntah darah akibat benturan dengan dinding.


Waharja kini sangat bersedih dan menangisi kepergian Rani sang istri tercinta, dokter yang keras kepala meneriaki Waharja karena menganggu pengobatan.


"Pak dokter, kami lebih tahu daripada kalian." ujar seorang pria tua yang dikawal beberapa pria kuat yang bertampang sangar dan menakutkan.


"Kalian...," dokter itu mengurungkan niatnya ketika melihat tatapan tidak bersahabat dari beberapa pengawal pria tua tersebut.


Pada akhirnya dokter itu pergi bersama perawatannya meninggalkan ruang bangsal tempat Rani dirawat dan menghembuskan nafas terakhirnya tersebut.


Ok..., skip.


Waharja menatap sedih dan sayu kepada makam Rani sambil menggendong bayi laki-laki mereka yang tidak tahu apa-apa mengenai ibunya yang sudah pergi jauh sejauh-jauhnya dari kehidupan mereka.


"Rani...., aku akan membalas para Pengkhianat itu, karena merekalah kamu harus bekerja sebagai pelayan hotel yang membawa tragedi mengerikan itu." ujar Waharja dingin dengan mata merahnya menahan amarah yang meluap-luap dihatinya.


"Hiks..., aku juga akan membunuh dukun yang telah melakukan ini kepadamu, hiks." ujar Waharja sambil mengusap air mata dengan punggung tangannya, bayi kecil mereka kebingungan, namun dia berusaha mengelap air mata Waharja.


"Hiks...," Waharja merasa terharu melihat tindakan polos bayi kecil mereka yang berusaha menghapus kesedihan yang dia alami.


"Waharja, kami turut berduka atas kematian istrimu." ujar seorang pria paruh baya yang ditemani dua pria paruh baya lainnya, serta dua puluhan orang berpakaian hitam.


"Terimakasih karena telah meluangkan waktumu, tetua Hari, tetua Yusa, dan tetua Lapin." ujar Waharja berterimakasih kepada tiga tetua tersebut.


"Mengenai tawaran kalian, aku akan bergabung ke Fajar Nusa asalkan anak kami dapat perawatan dan pendidikan yang terbaik dari organisasi." ucap Waharja kemudian menerima tawaran dari tiga tetua pasukan pemburu iblis atau tetua Fajar Nusa, wajahnya terlihat penuh tekad walaupun setengahnya ditutupi topeng.


"Tenangkan dirimu terlebih dulu, tidak perlu terburu-buru memutuskan sesuatu untuk saat ini." ujar no 2 atau tetua Lapin dengan kalem dan bijak.


No 2 sangat mengenal Waharja sebelum dia jatuh akibat pengkhianat dan merubah namanya menjadi Waharja, karena Waharja adalah murid terbaiknya. No 2 sangat menginginkan Waharja mengantikan posisinya dalam Fajar Nusa, namun dia tidak ingin Waharja tertekan ketika memutuskan hal tersebut.


"Guru, aku sudah memutuskan bergabung dalam pasukan pemburu iblis Fajar Nusa jauh sebelum aku jatuh seperti sekarang." ujar Waharja dengan serius kepada gurunya tersebut.


"Namun karena suatu hal aku memilih jalan lain demi membantu saudaraku." ujarnya menjelaskan.


"Saat aku jatuh oleh pengkhianat itu, aku tidak memiliki muka untuk bergabung dengan Fajar Nusa, namun sekarang aku tidak peduli itu asalkan putra kami mendapatkan kehidupan yang lebih baik." ujar Waharja menjelaskan kepada sang guru.

__ADS_1


Waharja sangatlah keras kepala, dia bahkan menolak bergabung ke Fajar Nusa ketika dirinya jatuh akibat pengkhianat, akibat keras kepalanya itu membuat Dia sekeluarga hidup dalam kesusahan, namun sekarang dia sadar bahwa kebahagiaan anak mereka jauh lebih penting daripada harga dirinya.


"Jika itu keputusanmu, kami akan menerimamu." balas No 2 dengan senyum bahagia, namun juga sedih karena kematian Rani istri murid tercintanya tersebut.


__ADS_2