
Saat sampai di kota, tepatnya di kosan yang sudah dia tempati selama satu tahun karena berkuliah di Universitas Bangyu yang berada dipusat kota Bangyu sangat jauh dari rumah ibunya yang berada dipinggiran kota, Revan menemukan semua pakaian miliknya sudah berada dan berserakan diluar rumah kosannya.
Revan sangat marah melihatnya, Revan yang marah tanpa sadar mengaktifkan mata iblis yang dia dapatkan dari menjalin kontrak dengan iblis Luci.
"Apa ini?" tanya Revan heran.
Revan melihat beberapa tulisan kata di samping baju-bajunya yang berisi Nama, warna pakaian, bahan, tipe pakaian, terakhir dicuci, dan terakhir di gunakan.
"Oh iya, bukankah aku memiliki mata iblis dari si Luci yang bertanduk empat itu." Revan sadar dan tidak lagi kaget dengan kekuatan yang dia dapatkan, Revan malah mencoba mengontrol kekuatan matanya agar hanya melihat beberapa informasi saja.
"Ternyata bisa, haha." respon Revan senang karena informasi yang begitu banyak kini hanya berisi dua informasi saja, yaitu nama dan bahan pakaian saja.
Revan tidak mengambil semua pakaian miliknya itu, Revan lebih memiliki mengambil dua baju dan dua celana, beserta surat ijazah yang dia dapatkan selama menempuh pendidikan di tingkat SD-SMA hampir 12 tahun lamanya.
"Hmz, ternyata kamu masih hidup, kukira sudah mati karena sudah dua minggu lebih tidak pulang kosan." cibir seorang wanita muda yang sangat cantik dan mempesona, wanita itu berpakaian layaknya seorang wanita kaya dengan baju yang didominasi warnah putih cerah.
Wanita itu tidak lain adalah sepupu Revan sendiri dari pihak ibu, Revan mengetahui itu sejak dia dan ibunya pindah dari rumah kakek Cheng akibat ketakutan Nina terhadap kakek Cheng yang bersekutu dengan iblis.
"Adik Anita?" Revan kaget melihat adik sepupunya yang bernama Anita tersebut.
Anita adalah sepupu Revan yang paling cuek kepadanya, namun sifatnya lebih baik dari ibunya yang merupakan pemilik kost. Dimana walau Anita cuek kepada Revan dia masih tetap menghargai Revan sebagai kakak sepupunya, beda dengan sang ibu yang sangat benci kepada Revan dan juga Nina (ibu Revan) sejak awal Revan dan ibunya pindah dari rumah kakek Cheng.
"Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Revan sambil menyimpan surat-surat penting miliknya.
"Kakak mau kemana?" tanya Anita sambil menyilang tangan dan terkesan cuek dan tidak peduli kepada Revan.
"Kakak sudah diusir ibumu, jadi kakak akan pergi dari sini." jawab Revan apa adanya sambil memungut beberapa pakaian yang ingin dia bawa pergi.
Anita tahu bahwa ibunya sudah mengusir Revan dua hari lalu, namun dia tetap penasaran dengan ekspresi Revan ketika diusir, itulah yang menjadi penyebab Anita ada di depan Revan saat ini. Anita sedikit kecewa dengan ekspresi wajah Revan yang biasa saja dan seakan tidak tertekan sedikitpun.
"Kakak akan tinggal dimana?" tanya Anita kepo.
Revan sedikit marah dengan tingkah Anita yang bertanya, namun bersikap angkuh dan acuh tak acuh kepadanya.
"Minimal bantu memungut surat-surat atau pakaian yang ibumu buang, bukan bertanya dan berisik." batin Revan kesal sambil mencengkram bajunya seperti sedang mencengkram leher Anita.
Anita menyadari bahwa Revan kesal kepadanya namun dia tidak peduli bahkan merasa senang bahwa Revan kesal kepadanya. Bagi Anita, Revan tidak pantas menjadi kakak sepupunya karena wajah Revan yang jelek dan kusam dengan baju yang seadanya setiap pergi kuliah.
"Mungkin dipinggir jalan atau kolong jembatan, apa pedulimu?" ujar Revan dengan acuh sambil menggendong tas sandangnya.
"Ouh, begitu." respon Anita datar.
__ADS_1
"Baiklah adik, aku pergi dulu, Jaga dirimu baik-baik dan sampai jumpa." ujar Revan sambil jalan keluar pagar dengan tatapan sinis Anita.
Bang!
Seseorang terhempas dan menabrak Anita yang saat itu menatap Revan dengan sinis, beruntung Revan menciptakan perisai transparan yang terbuat dari udara yang dipadatkan oleh kekuatan telekinesis milik Revan.
Anita terduduk ketakutan dan sangat shock karena hampir tertabrak manusia yang terhempas kepadanya, Anita juga kaget dan shock melihat sesosok orang itu terhenti di udara seperti ada penghalang transparan sebelum jatuh ketanah.
"Apa itu?" tanya Anita dengan shock dan pingsan setelahnya.
Revan menggunakan kekuatan telekinesis untuk memasukkan Anita kedalam rumah kosan yang sebelumnya dia tempati selama kuliah satu tahun.
Revan menghindari dua orang yang terhempas mengarah kepadanya dan menahan salah satu orang yang terhempas tersebut.
Bang!
Bang!
Bang!
Terjadi bunyi pertarungan yang dahsyat diatas gedung, lalu sesosok jatuh kebawah tepat di depan Revan dan disusul oleh seorang makhluk bertanduk.
Bang!
"Iblis?" tanya Revan dalam hati ketika menyadari bahwa yang dilawan pria muda itu adalah iblis.
Revan sangat yakin betul bahwa pria muda itu melawan iblis yang sangat kuat dan cepat, Revan juga sangat yakin pria muda itu adalah salah satu anggota pemburu iblis yang diceritakan kakek Cheng kepadanya dulu.
Slash!
Iblis itu mencakar udara kearah Revan, akibat cakaran itu tercipta cakar yang terbuat dari angin dan sangat tajam dengan kecepatan diatas manusia normal.
Teng!
Pria muda itu tiba-tiba menahan cakar angin tajam itu sebelum menyentuh Revan yang saat itu juga bersiap menggunakan kekuatannya.
"Cepat sekali? sepertinya dia sudah melatih tenaga dalamnya agar fokus dalam kecepatan." batin Revan kaget.
Bang!
Bang!
__ADS_1
Bang!
Dua makhluk itu bertarung dengan sengit,
ketika serangan diam-diam iblis itu gagal membunuh pria pemburu iblis tersebut. Mereka bertarung di berbagai tempat dan bangunan, dimana manusia mengandalkan kecepatannya sementara iblis mengandalkan kecepatan dan daya serangannya.
"Hei teman, pergilah dari sini jika ingin tetap hidup." ucap pria muda itu kepada Revan sambil menahan serangan cakar iblis yang sangat tajam dan mengerikan tersebut
Bang!
Pria muda itu kembali terhempas akibat tendangan iblis tersebut, btw iblis ini adalah Belzebup yang merupakan salah satu dari tujuh penguasa dunia bawah.
"Matilah kau manusia!" teriak Belzebup melancarkan bola-bola hitam.
Pria itu menangkis semua bola hitam itu dan menghindari serangan langsung Belzebup sambil melancarkan serangan balik dan berhasil melukai Belzebup dengan luka parah.
"Argh, manusia kamu cukup kuat." Belzebup mengakui kehebatan pemuda itu.
Pemuda itu menghilang dan melancarkan tebasan dari belakang Belzebup, namun Belzebup menggunakan auranya untuk menghempaskan pria muda tersebut.
Slash! Belzebup kembali menyerang Revan yang menonton pertarungan mereka.
"Sial!" Pria muda itu dengan kecepatan penuhnya mencoba menangkis serangan Belzebup itu agar tidak melukai Revan.
Crash!
"Argh..., apa yang terjadi?" tanya Revan dalam hati heran, pasalnya Revan sudah mencoba menahan cakar angin tajam itu dengan penghalang transparan kreasi dari kekuatan telekinesis.
"Anak manusia kita akan bertemu lagi suatu saat nanti, aku janji pada saat itu kamu tidak akan bertahan dari satu seranganku ketika aku sudah kembali prima dan berhasil menyesuaikan diri di dunia manusia ini, hahaha!" ujar suara serak dan suram yang berasal dari berbagai arah gedung.
Iblis sangat sulit menyesuaikan diri di kehidupan manusia, selain itu Iblis ketika berhasil menerobos ritual pengorbanan akan kehilangan 70% kekuatannya selama satu tahun, hal ini yang saat ini terjadi kepada Belzebup bahkan sangking sialnya Belzebup hanya mampu mengeluarkan elemen angin dan kegelapan saja dari 9 elemen yang dia kuasai.
"Kamu baik-baik saja?" tanya pria muda itu kepada Revan sambil memeriksa Revan dengan teliti.
Tujuh sampai 10 orang pria datang mengurung area pertarungan antara Pria muda dan Belzebup, lalu empat orang berpakaian layaknya tenaga medis datang dan memeriksa tiga orang pemburu iblis.
"Aku baik." jawab Revan mencoba berdiri walau terasa sangat sakit di dadanya.
Revan Kembali bertanya-tanya kenapa kekuatan iblis telekinesisnya tidak dapat digunakan untuk menangkis serangan cakar angin tajam Belzebup.
Revan pada akhirnya memutuskan membantu para pemburu iblis untuk merawat beberapa pasien yang ternyata bukan hanya tiga orang yang terhempas kearahnya dan Anita, ketika melihat seluruh komplek perumahan tersebut, dimana salah satu korban yang dalam keadaan kritis adalah bibinya (ibu Anita).
__ADS_1