
10 Tahun Kemudian.
Seorang pemuda yang diperkirakan berusia 20 tahun terbaring di sebuah rumah kosong dengan tubuh yang masih terikat di sebuah kursi kayu, kepalanya terlihat mengeluarkan begitu banyak darah dari luka akibat pukulan benda tumpul.
"Ah... sakit sekali!" teriak pemuda itu dengan mata melotot seakan baru saja lepas dari maut.
"Aku dimana?" tanya pemuda itu menoleh kesana-kemari mencari sesuatu, dia terlihat seperti orang yang kebingungan.
Pemuda itu mencoba pergi dari tempat itu, saat itulah dia menyadari sedang terikat di sebuah kursi kayu dan dalam posisi berbaring, dia berusaha duduk dulu namun kursi yang diikat ditubuhnya membuat dia kesulitan.
Pemuda itu kebingungan apa yang harus dia lakukan, dia terus mencoba melepas diri namun tidak pernah berhasil dan malah hanya membuatnya kelelahan saja.
"Tolong! tolong! tolong!" pada akhirnya pemuda itu teriak meminta pertolongan dan berharap ada orang yang mendengar teriakannya tersebut.
Dirumah sakit.
Namaku Dipo Kertajaya seorang mahasiswa miskin yang berasal dari pedesaan, seorang pemuda yang sedang menjalani kuliah jurusan Manajemen di Universitas Sanjaya Group. Aku bisa kuliah di universitas ternama itu karena mendapat beasiswa Sanjaya Pintar, sebuah beasiswa yang berasal dan dibiayai oleh keluarga terkaya negeri ini sekaligus pemilik universitas, yaitu keluarga Sanjaya.
Hari-hari di universitas sebagai mahasiswa miskin dari pedesaan, aku tentunya menjalani sebuah pembullyan anak orang kaya yang sombong, perlu diketahui pembullyan adalah tradisi yang sudah ada sejak zaman dinosaurus. Dimana biasanya korban pembullyan adalah orang miskin, orang cacat, atau bahkan orang yang melawan sistem pemerintahan... eh maksudku melawan sistem masyarakat.
Karena pembullyan itulah yang menjadi penyebab kenapa aku berakhir di rumah sakit, itu karena Rizki si anak pejabat menyekapku dan menyiksaku di sebuah rumah kosong, lalu memukul kepalaku hingga aku pingsan tak sadarkan diri.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya seorang perawat kepadaku sambil menulis sesuatu di sebuah buku, tidak! Lebih tepatnya berpura-pura menulis sesuatu di sebuah buku.
"Aku baik-baik saja, hanya saja kepalaku masih terasa sakit, Arg sakit sekali." jawabku sambil memegang kepala belakang kanan dimana tongkat bisbol dipukulkan ke kepalaku oleh si anak pejabat bangsat, anak haram, dan gak ada akhlak.
"Cuma itu?" tanya perawat itu melirik sekilas kepadaku, lalu lanjut menulis.
Sebenarnya aku sedikit kesal dengan sikapnya yang sok menulis, padahal hanya bermain-main saja, namun apa daya aku hanyalah pasien miskin yang sangat miskin hingga untuk makan sekali saja aku harus bersusah payah, bahkan tak jarang aku harus mengemis demi sesuap nasi Padang dengan lauk rendang.
Oh iya, selain berkuliah aku bekerja paruh waktu sebagai pengawal sekaligus supir pribadi seorang pria tua kaya raya pemilik beberapa hotel di ibukota ini. Dia juga yang menyelamatkanku dari sekapan, klonologinya saat itu aku teringat ada hp dikantong dan tanpa basa-basi aku meminta tolong pada pak bos ku itu melalui telepon.
"Ah, sepertinya cuma itu saja, anjink." jawabku dengan senyum.
Perawat itu menoleh kepadaku dan menatapku dengan tajam, sebuah tatapan yang bisa membunuhku berkali-kali kalau saja tatapan bisa membunuh seseorang.
__ADS_1
"Maaf aku teringat anjingku yang manis dirumah, wajahnya sangat mirip denganmu." ujarku dengan tersenyum mengejek, perawat itu terlihat semakin marah.
Tok.., tok.., tok.
Pintu kamarku diketok oleh seseorang dan mengalihkan perhatian perawat itu, sekaligus membuatku terhindar dari mulut cerewet seorang wanita yang mungkin akan menyiksa telinga dan batinku.
"Kamu sudah sadar anak muda, syukurlah." ucap pak Yanto dengan senyum mengembang di bibirnya, dia berjalan mendekati kami sambil memberikan buah-buahan.
Pak Yanto adalah pria tua kaya yang mempekerjakan daku sebagai pengawal dan supir pribadinya, dia adalah sumber uang makanku.
"Pak bos tidak perlu repot-repot sampai membawa buah sebegitu banyaknya." ujarku tak enak hati sambil menggigit buah apel tanpa basa-basi, bahkan sebelum buah itu benar-benar diberikan kepadaku.
"Letakkan saja dimeja pak bos." ucapku sambil menunjuk meja di samping bangsal tidurku, pak Yanto dengan senyum bahagia (Terpaksa) meletakkan buah itu ditempat yang kumaksud.
Karena perawat yang memeriksaku masih diam saja di kamarku, aku berinisiatif memperkenalkan mereka berdua. "Pak bos, perkenalkan dia adalah suster anjink, eh maksudku suster Susi." ujarku memperkenalkan perawat itu sambil melirik tanda nama di Oppainya, maksudku di dadanya yang terlihat over dosis.
"Maaf, wajahmu membuatku teringat dengan ANJINGKU." ucapku meminta maaf kepada suster Susi yang menatapku tajam setajam silet.
Suster Susi mendengus dingin dan keluar kamar dengan membanting pintu dan mengejutkan daku dan Pak bos yang sedang ada di dalam kamar.
"Sepertinya dia terlihat marah." ucap pak bos dengan nada yang terdengar aneh.
Pintu kamarku kembali diketuk seseorang beberapa kali, ketika pintu dibuka terlihat beberapa orang berseragam polisi memasuki kamarku dengan menampilkan senyum jahat, maksudku senyum terbaik yang mereka miliki.
"Ah para beban negara, eh maksudku para pengayom masyarakat." ujarku dengan tersenyum menyambut mereka semua.
"Boleh bicara?" tanya seseorang polisi yang diperkirakan ketua beban negara, maksudku ketua polisi.
"Tidak perlu dibicarakan, aku ingin 20 juta sebagai uang tutup mulut, pak beban.., eh maksudku pak polisi." ujarku dengan menampilkan senyum terbaikku, para beban negara itu juga tersenyum kepadaku.
"Apa? haha, kamu ternyata sadar diri juga anak muda, ini memudahkan pekerjaanku, haha." ucap pak polisi sambil tertawa senang, lalu menatapku. "Tapi sebelum itu...," pak beban negara mulai melobi ku.
Sat set sat set, dalam beberapa menit kemudian kesepakatan akhirnya terjalin begitu saja, aku mendapatkan uang 10 juta sebagai uang tutup mulut, dan tentunya 10 juta sebagai biaya kerja dan tenaga pak beban negara, maksudku pak polisi yang baik hati, supel, mudah senyum, dan pengayom masyarakat.
"Mereka benar-benar polisi yang jujur dan amanah." ucapku sambil mengusap air mata yang jatuh terharu dengan pak beban negara yang begitu pekerja keras untuk mengungkap dan memberiku keadilan.
__ADS_1
"Orang seperti mereka kamu bilang jujur dan amanah?" tanya pak bos dengan nada tak percaya.
"Ayolah pak bos, jangan merusak suasana, haha." aku memeluk bosku itu dan menegurnya karena merusak suasana yang sudah tercipta dengan dramatis.
Setelah basa-basi yang tidak diperlukan dan membuang waktu, pak bos yang baik hati dan tidak suka basa-basi itu akhirnya pamit undur diri karena ada beberapa pekerjaan yang harus dia lakukan.
"Pak bos, dua hari lalu di jalan perempatan gang melati aku melihat perempuan cantik yang jualan, mungkin kamu tertarik kepadanya." ucapku dengan berteriak kepada pak bos yang keluar bangsal rawatku, pak bos terlihat salah tingkah dan senang karena meskipun sakit aku masih membantu pekerjaannya.
###
Saat ini aku sedang diberi kata-kata motivasi oleh perawat yang merawatku pagi tadi, dia terlihat begitu semangat memberiku motivasi sampai-sampai urat lehernya keluar dan membuatku khawatir dia terkena serangan stroke.
Aku yang baik hati memberinya sebuah apel dan memasukannya ke mulut perawat itu secara langsung, karena takut perawat itu menolak karena masih bersemangat memberiku motivasi.
"Ummm, mm...," perawat itu terlihat sangat senang, bahkan dia sangat bersemangat hingga hendak memelukku karena diberikan apel, oleh karena itu aku berinisiatif memukul perutnya agar dia bisa tertidur dan beristirahat.
"Terimakasih motivasinya, beristirahatlah untuk memulihkan diri dan jangan memaksakan diri hanya agar daku bisa sembuh dengan cepat." ucapku sambil menepuk-nepuk punggung perawat itu (Mendorong), perawat itu malah memilih tidur dilantai daripada di kasur empuk bangsalku.
Aku melihat bingung orang-orang yang menatapku heran, oleh karena itu aku menutup pintu dan mulai tidur.
###
Saat ini aku sedang jalan-jalan di kota karena rumah sakit tempatku dirawat mengusirku dengan alasan yang tidak diketahui, kata mereka aku telah memukul seorang perawat padahal itu tidak pernah terjadi, aku difitnah oleh mereka, sungguh malang nasibku.
Wung wung wung!
Sebuah tongkat emas aneh dengan ukiran indah berwarna hijau di kedua ujungnya dan menjalar satu sama lain menuju ke arahku dengan kecepatan tinggi, tongkat itu hampir mengenaiku yang berada 10 langkah dari tempatnya jatuh dan tertanam.
"Itu hampir saja, orang bodoh mana yang melempar tongkat sialan ini?" tanyaku dengan jantung berdebar-debar kencang karena hampir mati.
Aku mendekati tongkat itu setelah 10 langkah berjalan, aku menyentuh tongkat itu dan berniat mencari tahu siapa orang bodoh yang melempar tongkat itu kepadaku.
"Ahhhh!" teriakku kesakitan karena tongkat itu mengeluarkan listrik bertegangan tinggi dan membuatku bergoyang bahagia menikmati sensasi disetrum.
Kesadaranku menghilang secara perlahan, namun aku dapat merasakan kekuatan aneh yang masuk ke dalam tubuhku, kekuatan itu sangat aneh sampai-sampai membuatku ingin muntah darah dan terus berteriak, namun apa daya aku sudah pingsan terlebih dahulu setelah terbatuk-batuk darah.
__ADS_1