
Revan dan tim dokter dari rumah sakit dan pasukan pemburu iblis terus sibuk mengurus korban Belzebup yang ternyata lebih dari 50 korban kritis, 12 meninggal, dan 30 luka ringan.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Revan frustrasi melihat begitu banyak korban kepada dirinya sendiri.
"Kakek juga tidak tahu nak, malam tadi kakek sedang menonton bola sambil minum kopi, namun tiba-tiba rumah kakek dihancurkan dan kakek mendengar beberapa suara seperti suara sebuah pertarungan sebelum kakek pingsan karena terkena runtuhan atap." jawab kakek tua yang ditandu oleh dua tenaga medis, ketika tidak sengaja mendengar keluhan Revan tersebut.
Revan hanya diam melihat kakek yang ditandu itu menuju mobil ambulance, dan menyadari bahwa semua orang tidak menyadari bahwa kejadian ini berhubungan dengan pertarungan antara pemburu iblis dengan iblis Belzebup.
"Ternyata mereka tidak menyadari bahwa tragedi ini berhubungan dengan iblis." gumam Revan sedih.
"Itu wajar, karena iblis selalu membunuh manusia yang dia temui, sementara orang yang melihat sedikit tentang tragedi ini kami minta agar dirahasiakan untuk kenyamanan dan kepentingan masyarakat." ujar seseorang yang tiba-tiba ada disamping Revan sambil menghidupkan rokok.
"Begitu rupanya." Revan mengerti, namun dia masih sedih dengan para warga komplek yang tidak tahu apa-apa mengenai tragedi yang mereka alami.
"Ternyata kamu." Revan tersenyum kecut ketika melihat orang yang berbicara dengannya ternyata pemburu iblis muda yang bertarung dengan Belzebup tadi malam.
"Yo salam kenal." respon pemuda itu dengan senyum ramah sambil melambaikan tangan kepada Revan.
Pemuda itu memperkenalkan dirinya sebagai Renex murid utama master Lapin seorang pemburu iblis terkuat nomor dua dari organisasi Fajar Nusa yang merupakan organisasi besar di negara Wakanda yang fokus melindungi manusia dari para dukun jahat (pengguna kekuatan iblis) dan iblis yang berhasil keluar dari dunia bawah.
"Renex, perkenalkan namaku Revan seorang mahasiswa miskin." balas Revan memperkenalkan dirinya dengan enteng dan tidak merasa canggung sedikitpun.
"Teman kami harap kamu juga tidak menceritakan apa yang terjadi hari kepada masyarakat luas, demi keamanan dan kenyamanan masyarakat." pinta Renex kemudian.
Revan mengerti dengan permintaan Renex kepadanya, lagipula siapa yang akan percaya kepadanya jika dia menceritakan hal itu kepada orang lain walaupun pasti ada orang yang percaya dengan pernyataannya.
"Kamu tenang saja, aku tidak cukup bodoh untuk memberi orang bahan untuk membullyku di kampus." jawab Revan apa adanya sambil tersenyum ramah kepada Renex.
Revan sering di bully di kampus karena dirinya yang miskin dan juga berwajah kusam akibat pekerjaan paruh waktunya yang selalu dibawah teriknya matahari pagi atau sore.
"Terimakasih atas pengertiannya, Revan." ucap Renex berterimakasih kepada Revan dan menghilang dari pekatnya malam.
"Cepat sekali, aku penasaran tenaga dalamnya sudah tahap keberapa?" batin Revan kagum dengan kecepatan yang dimiliki Renex.
__ADS_1
Tenaga dalam memiliki empat tahapan, tahap pertama adalah memperkuat tubuh, tahap kedua memperkuat persepsi dan gerakan reflek, tahap ketiga memanipulasi udara, dan tahap keempat penghancur. Tahap-tahapan itu masih dapat ditingkatkan lagi, contohnya tahap pertama memperkuat tubuh dimana orang akan terus memperkuat tubuhnya selama yaang dia bisa. Kecepatan, kekuatan, dan pertahanan termasuk kategori tahap pertama.
"Syukurlah dia baik-baik saja." batin Revan senang karena Anita baik-baik saja dan hanya terlalu syok saja melihat fenomena diluar nalar manusia tepat di depannya, terlebih melihat ibunya yang masih kritis.
"Baiklah, sekarang saatnya pergi." ujar Revan sambil menenteng tasnya.
Revan pergi meninggalkan Anita yang menangis sambil memegang tangan ibunya yang dalam keadaan kritis, Revan tidak peduli sama sekali dengan tangisan Anita.
"Kamu pasti bertanya-tanya kenapa kekuatan telekinesis yang kuberikan tidak berfungsi saat diserang Belzebup?" tanya sebuah suara yang tiba-tiba ada di pikiran Revan yang saat itu sedang berpikir keras kenapa kekuatan iblisnya tidak muncul disaat dia diserang.
"Belzebup? kamu mengenali iblis itu Luci?" tanya Revan setelah bingung beberapa saat dan segera mengetahui suara siapa yang sedang berbicara dengannya.
"Tentu saja, Belzebup adalah iblis tingkat tinggi yang sangat kebelet keluar dari dunia bawah untuk membuat onar di dunia manusia daripada menggoda dan menyesatkan beberapa manusia yang haus akan kekuatan dan kekuasaan." balas Luci dengan nada suram dan mengintimidasi.
"Oh begitu, rupanya iblis itu adalah iblis peringkat atas." respon Revan sedikit kaget dan tidak pernah menyangka akan bertemu dengan salah satu iblis tingkat atas di dunia manusia.
"Lalu kenapa kekuatan telekinesis yang kamu berikan tidak berfungsi ketika Belzebup menyerangku? jangan katakan kamu lebih lemah darinya." tanya Revan penasaran dengan alasan kenapa kekuatan iblisnya tidak keluar saat diserang Belzebup.
"Haha, alasan kekuatan telekinesis tidak muncul, itu karena aku tidak ingin kamu mengekspos dirimu dihadapan para pemburu iblis terlalu cepat, karena itu sangat berbahaya bagimu." balas Luci setelah tertawa terbahak-bahak.
"Fajar Nusa, organisasi yang bergerak untuk menangani para dukun dan juga iblis yang berkeliaran di dunia manusia, khususnya negara Wakanda ini adalah musuh yang tidak boleh kamu singgung, kamu mengerti manusia?" ujar Luci memperingati Revan agar tidak mengekspos dirinya di hadapan para pemburu iblis.
"Saranku jika kamu bisa menghindari penggunaan telekinesis, maka hindarilah dan jangan terlalu sering menggunakan telekinesis." saran Luci kemudian.
"Aku mengerti, tapi bukankah kamu bisa membantuku untuk menahan diri seperti apa yang kamu lakukan kepadaku tadi malam?" Revan mengerti dan sedikit heran disaat yang sama.
Menurut Revan nasehat Luci tidak berarti, karena Luci sendiri bisa membuat kekuatan telekinesisnya tidak berfungsi ketika dia kelewat batas dalam penggunaannya.
"Haha, itu karena kekuatan telekinesis ini belum sepenuhnya milikmu." balas Luci sambil tertawa yang perlahan menghilang dari pikiran Revan.
Empat hari kemudian.
Revan saat ini sudah di ibukota negara Wakanda untuk membalas dendam kepada kelompok mafia Epsona yang telah mengkhianati kakak keduanya Reza dan membunuh kakak pertamanya Horus dan ibunya.
__ADS_1
"Aku harus menyelesaikan balas dendam ini sebelum semester baru dimulai, setelah itu aku akan melepas kontrak dengan iblis ini." batin Revan sambil turun dari pesawat Lion Air yang dia tumpangi.
"Aku lupa kekuatan ini akan selalu melekat dalam diriku, kecuali aku merelakan mata dan tubuhku kepada iblis itu." Revan tersadar dari angan-angan kosongnya untuk lepas kontrak dengan iblis.
"Tidak apa, aku akan menggunakan kekuatan iblis ini untuk mencapai berbagai prestasi, lagipula aku hanya perlu mengorbankan 10 ekor kambing." batin Revan menghibur dirinya sendiri.
Revan sebenarnya sudah merasakan bahwa jalan yang dia pilih untuk mendapatkan kekuatan dengan menjalin kontrak dengan iblis adalah langkah yang salah dan tergesa-gesa setelah sadar dampak yang ditimbulkannya akibat kontrak tersebut, namun dia tidak bisa mundur atau menyesalinya apapun alasannya.
"Apakah kamu menyesal?" tanya Luci melalui pikiran Revan.
"Tidak!" balas Revan singkat.
"Dan jangan sering muncul di pikiranku, suaramu terlalu berisik." tegur Revan yang merasa risih dengan keberadaan Luci di pikirannya.
Luci tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban sekaligus teguran Revan kepadanya, namun dia tetap menuruti keinginan Revan agar tidak terlalu sering muncul di pikirannya.
Revan berniat menunggu taksi online yang dia pesan di aplikasi Grab di luar bandara sambil mencari beberapa informasi tentang mafia Epsona di layar ponselnya.
"Hai ganteng, sendirian aja kakak temani ya?" tiba-tiba seorang gadis muda yang seumuran dengannya menyapa.
Revan yang sudah berumur 21 tahun lebih itu langsung tertarik dan terkagum-kagum dengan kecantikan wanita muda tersebut, namun dia menggunakan mata iblis.
Nama: Sami Putri Cahaya
Umur: 19 tahun
pekerjaan: penodong dan penipu
status: memiliki pacar/tidak perawan
Beberapa informasi penting yang sudah Revan tetapkan di mata iblisnya untuk menghemat waktunya dalam membaca informasi yang berjibun ketika sedang menggunakan mata iblisnya dalam memahami siapa saja yang harus dia pahami baik musuh atau kawan.
"Sayang disayang mata iblis ini tidak dapat memberitahu tentang niat atau apa yang diinginkan lawan bicaraku, jika tidak aku akan tahu wanita ini mencoba menipuku atau memang tulus menyukaiku karena ketampanan yang kumiliki." batin Revan pede dan mulai masuk mode waspada.
__ADS_1
Revan sebenarnya tertarik dengan Rami ini, namun mengingat pekerjaan yang Rami geluti Revan mau tidak mau harus waspada, walaupun dia sangat pede dengan ketampanan dan kharisma yang dia miliki.
"Adik terlalu memuji, aku sebenarnya lebih tampan dari ini." balas Revan kemudian dengan senyum, walaupun gerak-geriknya waspada dengan keberadaan Rami.