
Saat aku terbangun, aku berada di sebuah tempat yang pengap dan sempit, tanganku terikat rantai yang terhubung dinding di belakangku, saat itu aku berada di sebuah tempat tidur yang terbuat dari kayu yang mengakibatkan tubuhku sakit-sakitan karena tidur disana.
"Ini dimana? penjara?" tanyaku dalam hati sambil melihat ke kiri dan ke kanan, aku hanya melihat dinding yang bercat putih, aku melihat teralis besi di depanku.
"Kamu akhirnya sadar (menguap)." ucap seseorang yang berada di sudut samping kiriku, dia menguap dan meregangkan tangannya keatas.
Aku tidak menyadari dan merasakan keberadaannya sebelumnya, hal itu membuatku hampir jantungan karena kukira dia hantu.
"Kamu siapa? hantu atau manusia?" tanyaku kepadanya, orang itu melihatku dengan mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali.
"Tentu saja manusia, namaku Gin Hariyadi, kamu bisa memanggilku Gin saja." ucapnya memperkenalkan dirinya sendiri meskipun aku tidak bertanya.
"Ternyata manusia, kukira hantu tadi." ucapku sambil bersandar dan menguap, mataku terasa berat.
"Gan..,"
"Gin, namaku Gin." potongnya ketika aku memanggil namanya.
"Iya ya, Gin kenapa kita seperti dipenjara?" tanyaku kepadanya.
"Kamu tidak tahu? benarkah?" tanya Gin kepadaku, aku menggeleng kepala tanda bahwa aku benar-benar tidak tahu alasan kenapa aku dipenjara.
"Aku mana tahu alasanmu dipenjara, kamu saja tidak tahu kenapa dirimu dipenjara, apalagi aku yang tidak tahu apa-apa mengenai dirimu , hadeh." ucapnya menjawab pertanyaanku yang tidak menjawab apa yang kutanyakan kepadanya.
"Lalu kenapa kamu dipenjara?" tanyaku akhirnya.
"Aku dipenjara karena mencuri sebuah tongkat untuk ku jual di pengepul barang, kata mereka tongkat yang kucuri adalah tongkat iblis yang sangat berbahaya, benar-benar sebuah lelucon." jawabnya dengan santainya.
Saat itulah seseorang datang dengan dikawal oleh dua orang dengan memakai seragam yang sangat mirip dengan seragam sipir penjara yang sering kulihat di tv atau di aplikasi KamuTV yang membahas atau memberitakan tentang berita kriminal yang terjadi di negara Wakanda.
"Halo perkenalkan namaku Yuta ketua Divisi Pemburu Gaib negara Wakanda, salam kenal kalian berdua." ucap orang yang paling depan memperkenalkan dirinya kepada kami berdua yang ada di penjara.
"Divisi Pemburu Gaib? apa itu, aneh sekali."
"Apakah itu divisi yang menangani hal gaib, seperti dukun atau hantu?" tanyaku dengan nada bercanda.
"Benar sekali, tugas Divisi Pemburu Gaib memang berhubungan dengan dukun atau hantu, dan kalian berdua akan dihukum mati karena kalian berdua berhubungan dengan perdukunan." ucapnya dengan senyum psikopat, aku merinding melihat senyum jahat itu.
"Apa maksudmu? kami bahkan tidak tahu apa itu dukun, apalagi memiliki hubungan dengan dukun, jangan bercanda!" teriak Gin tidak terima dengan pernyataan orang yang bernama Yuta tersebut.
__ADS_1
"Benarkah? Lalu kenapa kamu mencuri tongkat iblis tujuh kekuatan di gudang penyimpanan Divisi Pemburu Gaib kami?" tanya Yuta kepada Gin.
Gun terdiam mendengar pertanyaan Yuta tersebut, dia terlihat seperti orang yang kehabisan kata-kata.
"Itu karena aku ingin menjualnya." jawab Gin dengan ragu-ragu.
"Hee, bukan karena wanita itu?" Yuta tersenyum dan menunjuk seseorang wanita yang berada di penjara depan penjara kami, aku tidak menyadari di penjara itu ada seseorang karena gelap.
"Namanya Mako, dia adalah seorang dukun yang menjalin kontrak dengan iblis bunglon demi mendapatkan kekayaan." Yuta memperkenalkan wanita itu kepada kami, saat penjara itu diterangi lampu aku terkejut wanita itu terlihat memiliki tubuh setengah bunglon.
"Apa itu?" tanyaku dengan ketakutan, Gin juga ketakutan melihat wanita itu.
"Dia iblis, dia yang menyuruhku mencuri tongkat itu, ampuni aku." ujar Gin ketakutan dan mengungkapkan fakta yang membuatku kebingungan.
"Iblis?" tanyaku dalam hati.
"Bukan, dia bukan iblis, dia adalah dukun yang menjalin kontrak dengan iblis bunglon demi kekayaan." ucap Yuta dengan acuh, lalu menghampiri wanita bunglon itu yang terus menatap tajam kepadanya, seperti ingin menerkam orang yang bernama Yuta tersebut.
Buk!
Aku terkejut sekali pukul wanita bunglon yang beringas itu langsung mati, aku tidak pernah mengira orang yang bernama Yuta itu sangat kuat dan kejam.
"Karena dia iblis." jawab Gin dengan takut-takut.
"Karena kamu orang jahat." jawabku apa adanya dengan apa yang kupikirkan tentangnya.
"Haha, itu karena tongkat yang kamu curi adalah senjata milik dukun terkuat 200 tahun lalu, tongkat itu akan memberi kekuatan dukun itu kepada orang yang terpilih." ujarnya dengan wajah datar, namun terlihat mengerikan bagiku.
"Kenapa kami membunuhnya? itu karena tugas kami Divisi Pemburu Gaib, mengerti?" tanyanya kepada kami.
"Mengerti!" jawab kami berdua secara bersamaan, orang itu tersenyum kepada kami dan mengeluarkan pistol, lalu mengarahkan pistol itu kearah Gin.
"K-kenapa?" tanya Gin dengan ketakutan ketika pistol itu menyentuh dahinya, aku juga ketakutan melihatnya.
"Kenapa? itu karena kamu membantu seorang dukun dan menyebabkan orang tak bersalah harus dihukum karenanya." ucap Yuta dengan dingin, lalu menarik kokang pistol dan bersiap menembak.
"M-maafkan aku, kumohon m-maafkan aku, ampuni nyawaku, aku hanya disuruh oleh iblis itu, jika tidak menuruti keinginan iblis itu dia akan membunuhku, kumohon maafkan aku." Gin langsung berlutut memohon maaf dan ampunan kepada Yuta.
"Kumohon maafkanlah kesalahannya, aku yakin dia tidak bermaksud melakukan kesalahan itu, lagipula bukankah diancam oleh iblis itu?" aku membantu Gin meminta maaf dan ampunan.
__ADS_1
Yuta melihatku dan tersenyum misterius, lalu mengarahkan pistol itu kepadaku dan berucap.
"Dia adalah orang yang menyebabkan kamu akan dieksekusi oleh kami, apakah kamu masih mau meminta pengampunan untuknya sekarang?" tanya Yuta kepadaku, aku cukup terkejut mendengar apa yang Yuta katakan, kenapa aku mau dieksekusi oleh mereka, itu membuatku bertanya-tanya.
"Apa? apa maksudmu? kenapa aku dieksekusi? apakah karena aku mengatakan polisi beban negara atau karena aku masih perjaka?" tanyaku kepadanya dengan sedikit lawakan, aku berharap dia akan mengampuniku karena aku membuatnya tertawa, namun aku terkejut dia hanya menampilkan wajah datar dan tanpa ekspresi sama sekali.
"Sepertinya aku akan mati disini." batinku pasrah ketika leluconku tidak membuatnya berubah ekspresi dan malah datar saja.
"Itu karena tongkat itu memilihmu sebagai pewarisnya, artinya kamu berpotensi memiliki kekuatan dukun terkuat yang hidup 200 tahun lalu." jawab Yuta dan membuatku kaget, sejak kapan aku dipilih oleh sebuah tongkat.
"Sejak...," aku ingin bertanya, namun dia terus mengatakan sesuatu.
"Kami tidak ingin mengambil resiko, kami takut kamu sama jahatnya dengan dukun itu, makanya kami memutuskan mengeksekusimu sebelum kamu dapat mengontrol kekuatan itu, jelas?" ujarnya dan diakhiri pertanyaan kepadaku.
"Bagaimana kalian bisa tahu aku sejahat dukun itu? kalian tidak bisa menilai seseorang hanya dari tampilan luarnya saja, lagipula bukankah aku terlihat pria baik-baik?" ucapku tak habis pikir dengan pikiran mereka yang menilaiku dari tampilan luarnya saja, terlebih bukankah aku terlihat pria yang baik-baik?
"Kami tidak ingin mengambil resiko, makanya kami akan mengeksekusi kamu." ujar Yuta dengan acuh, lalu kembali mengarahkan pistol kepada Gin.
"Ada kata-kata terakhir?" tanya Yuta kepadanya, Gin terlihat menangis dan terus memohon ampun.
"Kumohon setidaknya ampuni dia, dia tidak bersalah, dia mencoba bertahan hidup dari iblis wanita itu, kalian seharusnya mengerti." ujarku kembali membantu Gin agar terlepas dari eksekusi Yuta yang tidak masuk akal.
"Kamu masih memohon untuknya? orang yang membuatmu dieksekusi karena kebodohannya mencuri tongkat itu dan membuatmu tak sengaja dipilih tingkat itu?" ujarnya dengan mengerutkan kening tanda tak habis pikir dengan jalan pikiranku.
"Itu bukan kesalahannya, aku yang salah, seharusnya aku tidak menyentuh tongkat sialan itu." jawabku apa adanya.
"Kumohon setidaknya ampunilah dia." aku kembali memohon ampunan untuk Gin kepada Yuta.
Yuta mengambil tangan Gin dan menyerahkan pistol itu kepadanya, lalu mengarahkan pistol ditangan Gin kearahku.
"Bunuh dia, maka kami akan mengampuni nyawamu." ujar Yuta kepada Gin, aku terkejut.
"T-tapi?" tanya Gin dengan tangan gemetaran.
"Bunuh dia sebelum hitungan ke-5, atau kami tidak akan mengampuni nyawamu." ucap Yuta dingin kepada Gin yang terlihat lemas dengan tangan gemetaran.
"Satu..., dua..., tiga...," Yuta mulai menghitung, Gin menatapku dengan tatapan maaf, lalu menarik pelatuk untuk menembakku.
Dor!
__ADS_1
Sebuah suara tembakan terdengar menyakitkan ditelinga, aku tidak pernah menyangka orang yang coba kubantu tidak ragu menembakku hanya demi kebebasannya. Aku sedih, marah, dan kecewa, namun apa daya inilah resiko orang baik, karena ada kalanya orang yang kita bantu adalah orang yang menusuk kita dari belakang.