MENJALIN KONTRAK DENGAN IBLIS

MENJALIN KONTRAK DENGAN IBLIS
Tetua Yen dan seorang mahasiswi


__ADS_3

Tetua Yen dan Boris yang dikawal 4 orang itu tersenyum kecil kepada Revan yang menunjukkan senyum psikopat menyambut kedatangan mereka berdua, lalu tanpa basa-basi tetua Yen menendang kepala Revan hingga terbentur dinding penjara.


"Tundukkan matamu!" ucap tetua Yen setelah menendang Revan, namun Revan tidak menurut dan hanya tersenyum.


"Cuih, aku akan membunuhmu." ucap Revan setelah meludahi tetua Yen hingga wajah tetua Yen basah oleh ludah yang bercampur darah.


"Bajingan!" teriak Boris sambil memukul Revan dengan tongkat yang selalu dia bawa sebagai alat bantu berjalan meskipun kenyataannya Boris sendiri masih sehat.


Bug!


Bug!


Bug!


Revan dipukul hingga setengah sadar sebelum tetua Yen menghentikan Boris agar tidak memukul Revan lagi, lalu tetua Yen jongkok dan menatap wajah Revan yang setengah sadar.


"Siapa namamu?" tanya tetua Yen.


Revan tidak menjawab, Revan tidak dapat melihat dengan jelas tetua Yen, bahkan Revan tidak mendengar dengan jelas pertanyaan tetua Yen. Boris kembali ingin memukul, namun tetua Yen menghentikannya dengan kode tangan.


"Kita datang kesini untuk wanita itu, jangan menyiakan waktu hanya untuk seorang dukun yang lemah." ujar tetua Yen sambil menunjuk Febi yang menatap tajam penuh kemarahan kepada tetua Yen.


"Tetua Yen kamu adalah orang yang tidak tahu diuntung, kami menyelamatkanmu dan juga keluargamu ketika terpuruk, tapi ini balas budimu kepada kami?" tanya Febi dengan meraung penuh kemarahan kepada tetua Yen.


"Jangan tidak sopan kepada tetua Yen, jhalang!" teriak Boris menegur Febi agar berlaku sopan kepada tetua Yen, sementara tetua Yen hanya terdiam dengan raut wajah sedih dan bersalah.


Tetua Yen mengingat kembali dimasa dia dan istrinya beserta dua orang anaknya yang harus mengais sampah hanya demi mencari makanan yang bisa mereka makan hanya untuk mengganjal perut.


"Terimakasih nak, terimakasih atas makanannya." ujar istri tetua Yen kepada Febi yang memberinya sekantong roti, dimana Febi saat ini masih menjadi mahasiswi.


"Sama-sama Bu." balas Febi dengan tersenyum ramah sambil mengelus bahu istri tetua Yen yang saat itu menangis tersedu-sedu sambil memegang tangannya.


Febi memasukan beberapa lembar uang yang memiliki nominal 10 dolar ke dalam kantong baju salah satu anak tetua Yen, lalu pergi setelah mengusap kepalanya dengan lembut.


"Gadis baik, terimakasih, kami akan selalu mengingat kebaikanmu ini, terimakasih." ujar tetua Yen berterimakasih kepada Febi yang semakin menjauh, Febi hanya tersenyum mendengar ucapan terimakasih tetua Yen tersebut.


Dor!


"Ugh..., kurang ajar!" teriak tetua Yen lirih dengan mata melotot melihat Boris yang menembaknya.


Boris menembak tetua Yen yang terdiam terpaku dan terjebak dalam masa lalu ketika dia pertama kali bertemu dengan Febi yang masih sebagai mahasiswi, tetua Yen tidak menyangka dia akan ditembak tepat di kepala samping kirinya oleh Boris orang yang dia lindungi, sementara empat pengawal hanya bisa menjauhkan todongan pistol Boris dari tetua Yen setelah kaget beberapa detik.

__ADS_1


"Pak Boris kenapa kamu menembak tetua Yen?" tanya salah satu pengawal sambil memegang tangan Boris yang masih memegang pistol.


"Apa yang kamu lakukan Boris?" tanya tetua Yen dengan marah, seandainya tetua Yen tidak reflek menghindar mungkin kepalanya akan bolong oleh timah panas dari pistol Boris, meskipun begitu peluru itu tetap menggores kepala tetua Yen.


Dor!


Dor!


Dor!


Tanpa basa-basi Boris menembak bagian dada kiri tetua Yen hingga membuat tetua Yen tidak sempat menghindar, tetua Yen terbilang beruntung karena masih sempat menahan laju peluru agar tidak melukai jantung dengan mengalirkan energi tenaga dalamnya.


Sementara empat pengawalnya yang juga ditembak langsung tewas akibat tembakan itu, setelah kejadian itu Boris melepas dan membuang pistolnya.


"Apa yang terjadi?" tanya Boris dengan terpukul dan merasa sangat bersalah kepada tetua Yen.


"Apa yang terjadi katamu?" tanya tetua Yen dengan marah dan bersiap membunuh Boris karena marah, namun sebuah tawa menghentikannya.


"Haha, apakah kamu suka hadiahku, pak tua?" tanya Revan sambil tertawa puas melihat tetua Yen yang tak berdaya.


Febi yang dari awal hingga akhir hanya bisa terdiam, dia tidak pernah menyangka Boris yang ingin memukulnya karena tidak sopan kepada tetua Yen malah menembak tetua Yen hingga membuat tetua Yen tak berdaya karena harus menahan laju peluru di jantungnya.


"Apa maksudmu?" tanya tetua Yen dengan menatap tajam Revan.


Tetua Yen dari awal tidak menghentikan tindakan itu dan memilih melihat apa yang akan Boris lakukan, dia dibuat bingung dengan tindakan Boris itu.


"Ugh..." Revan langsung mencekik Boris dan membantingnya hingga membentur dinding penjara, lalu mengurungnya.


"Apa yang kau lakukan kepadaku, sialan!" teriak Boris setelah sadar akibat benturan keras tersebut.


"Diam!" hardik Revan.


Boris dibuat melayang dengan kaki diatas dan kepala dibawah oleh Revan dengan kekuatan telekinesisnya.


"Apa yang ingin kau lakukan, turunkan aku atau kamu akan menerima kemarahan mafia Epsona." oceh Boris ketakutan dengan tindakan Revan tersebut, namun Revan mengacuhkannya.


"Ini yang kulakukan, kau mengerti pak tua?" tanya Revan dengan dingin kepada tetua Yen yang sudah tak bisa melakukan apapun lagi karena jika sembarangan bergerak jantungnya akan terluka oleh peluru pistol yang masih di dalam dadanya.


"Kamu mempengaruhi Boris dengan kekuatan iblis?" tanya tetua Yen.


"Haha, kamu pintar, aku memang mempengaruhinya dengan kekuatan iblis." Revan tertawa dan bersiap mengakhiri hidup tetua Yen yang sudah tak berdaya dan pasrah akan nasibnya.

__ADS_1


"Kamu mempengaruhiku? akan kubunuh kau dukun br3n9sek!" teriak Boris.


"Sudah kukatakan diam!" ujar Revan dingin dan mematahkan leher Boris dalam sekali gerakan tangan.


Setelah itu Revan bersiap membunuh tetua Yen dengan pistol milik Boris yang dia gerakkan dengan kekuatan telekinesisnya, namun sebelum pelatuk ditarik Febi menghentikan.


"Kenapa kakak ipar?" tanya Revan bingung dengan Febi yang menghentikannya untuk membunuh tetua Yen.


Di luar gedung tempat Revan dan Febi disekap terjadi pembantaian besar-besaran yang dilakukan no 2 terhadap puluhan pengawal dan penjaga gedung tersebut.


"Cepat panggil pak Boris dan tetua Yen!" pinta salah satu pengawal dengan cemas kepada pengawal lainnya.


"Baik!" balas salah satu pengawal dan berlalu memasuki gedung untuk memberitahu Boris dan tetua Yen, namun baru saja ingin menghubungi dua orang itu dengan telepon kantor dia tertebas pedang salah satu pemburu iblis.


"Kerja bagus." ujar no 2 dengan jalan santai memasuki gedung sambil menyeret salah satu pengawal yang diperkirakan kapten pengawal gedung tersebut.


"Dimana jalannya?" tanya no 2 dingin, kapten pengawal itu langsung menunjuk salah satu ruangan yang diperkirakan gudang.


"Tuan masuk saja ke gudang tersebut, lalu cari pintu masuk yang tersembunyi di balik beberapa kardus barang." ujar kapten itu dengan tangan bergetar.


"Terimakasih." ucap no 2 sambil melempar pengawal itu hingga keluar gedung, pengawal itu langsung pingsan karena tidak kuat menahan benturan ketika jatuh tersungkur ke lantai.


"Ayo." ajak no 2 kepada 10 orang pemburu iblis lainnya.


Mereka semua masuk kedalam gudang mengikuti no 2 yang lebih dulu masuk dengan terburu-buru. No 2 dan pemburu iblis lainnya dibuat bingung dengan pengawal penjara bawah tanah yang sudah tak bernyawa ketika memasuki penjara bawa tanah, namun mereka tidak peduli dan fokus menyelamatkan orang-orang yang dipenjara.


No 2 yang menyelusuri semua penjara dibuat terkejut dengan kondisi tetua Yen yang sudah botak akibat digunduli oleh Revan menggunakan pisau tajam milik salah satu pengawal.


"Paman Yen apa yang terjadi kepadamu?" tanya no 2 dengan prihatin melihat kondisi tetua Yen yang terluka parah dan digunduli oleh Revan dan Febi.


"Jangan pedulikan aku, cepat selesaikan tugasmu, bocah." balas tetua Yen dengan dingin.


"Jangan lupa bunuh orang itu." tambah tetua Yen sambil menunjuk Boris yang ternyata masih bernafas walaupun lehernya sudah dipatahkan oleh Revan.


"Baik, lalu dimana dukun itu?" tanya no 2 sambil mencari-cari seseorang.


No 2 ingin menggunakan pengguna iblis (Revan) sebagai alasan untuk menghadapi para petinggi Fajar Nusa yang mungkin akan mempertanyakan alasan kenapa dia menyerang kelompok Epsona.


"Dia sudah pergi 30 menit yang lalu, kusarankan jangan mengejarnya jika tidak ingin kecewa." jawab tetua Yen dengan tertunduk sedih.


"Kenapa? apakah dia terlalu kuat?" tanya no 2 dengan acuh.

__ADS_1


"Dia lebih dari itu, mungkin saja kamu tidak akan mampu melawannya jika bertemu." balas tetua Yen, no 2 tentu terkejut mendengarnya.


"Meskipun begitu aku akan tetap mengejarnya untuk menyelamatkan wanita itu." ujar No 2 tegas dan segera pergi mengejar meskipun tetua Yen mencoba menghentikannya.


__ADS_2