
Disebuah halaman yang sangat luas berdiri sebuah rumah megah bak istana, di balkon rumah tersebut terlihat seorang kakek tua sedang menikmati kopi ditemani seorang pemuda bertopeng yang menutupi setengah wajahnya, pemuda itu seperti sedang memberikan sebuah informasi.
"Hm, jadi sejauh ini belum ada tanda-tanda bahwa pelaku hipnotis terungkap?" tanya kakek itu yang ternyata no 2 sepuh kepada sang pemuda yang tidak lain no 2.
"Benar guru, para korbannya hanya mengetahui mereka kehilangan uang mereka tanpa tahu penyebabnya." jawab no 2 dengan tenang namun dingin.
"Mendengar ceritamu, aku jadi penasaran apa yang mengawali isu hipnosis itu mencuat?" tanya no 2 dengan sedikit berpikir.
No 2 sepuh mendapatkan beberapa berita tentang hilangnya uang di bank milik nasabah, karena dirasa ada hubungannya dengan praktek dukun maka no 2 mengutus beberapa Pemburu iblis untuk menyelidikinya, siapa sangka itu memang benar walaupun pelakunya belum tertangkap oleh para pemburu iblis.
"Salah satu korban memiliki saksi, dimana saksi itu mengatakan bahwa korban seperti orang linglung ketika bertemu dengan seorang pria tak dikenal dan secara sukarela korban melakukan transfer kepada pria tersebut, ini menjadi awal bahwa hilangnya beberapa uang tabungan masyarakat berkaitan dengan hipnotis." jelas no 2 apa adanya.
"Ternyata memang dukun." dengus no 2 dengan marah.
"Dia berulang kali bertanya hal yang sama, sepertinya guru tidak bisa lepas dari penyakit tua, yaitu pikun." batin no 2 kesal karena sang guru terus menanyakan hal yang sama berulang-ulang hingga enam kali.
"Guru, aku permisi untuk kembali melakukan penyelidikan." no 2 mohon undur diri ketika sang guru menghirup kopinya.
No 2 cukup berpengalaman, karena setiap kali menyesap kopi sang guru pasti akan bertanya kembali, daripada menunggu sang guru selesai menyesap kopi no 2 lebih memilih pamit undur diri ketika sang guru sedang menyesap kopinya.
Bush..., no 2 menghilang dalam sekejap ketika sang guru atau no 2 sepuh mengangguk mengizinkan.
"Dasar murid lemah, dilontarkan pertanyaan sama berulang-ulang dia tidak tahan dan memilih pergi." dengus no 2 sepuh yang ternyata dari awal tidak pernah pikun, sang guru hanya menggoda no 2 saja.
No 2 sepuh tertawa terbahak-bahak ketika mengingat ekspresi kekesalan no 2 ketika dia melontarkan pertanyaan yang sama berulang-ulang.
Toko cahaya abadi.
Toko cahaya abadi jika dilihat dari luar orang hanya tahu toko itu menjual berbagai bahan bangunan, namun ketika mereka masuk ke suatu ruangan rahasia di dalam toko abadi maka mereka akan sulit percaya karena toko cahaya abadi menyimpan berbagai senjata api baik senjata api ringan ataupun senjata api berat.
__ADS_1
"Berapa pistol ini?" tanya Revan yang sedang berada di ruangan rahasia toko cahaya abadi hanya untuk membeli senjata.
Revan memegang pistol revolver berwarna putih mengkilap dengan kapasitas 9 peluruh dan termasuk pistol yang berdaya tembak besar dan merusak.
"Harganya hanya 1 juta dolar Wakanda." jawab pemilik toko sambil tersenyum kecil.
"Satu juta dolar?" Revan terkejut mendengar harga setinggi itu, karena harga motor baru saja sekitar 140 ribu dolar atau 200 ribu dolar.
"Benar, karena pistol ini adalah barang yang sulit dicari dan juga menjualnya penuh dengan resiko." balas penjual sedikit tidak senang.
"Jika kamu tidak mampu membelinya, maka pergilah dari tokoku." ujar penjual dengan kasar sambil melambaikan tangan mengusir Revan.
"Haha, aku jadi membelinya, aku hanya sedikit terkejut dengan harganya, janganlah marah paman, haha." ujar Revan dengan tertawa kaku.
"Karena kamu memang ingin membelinya, maka khusus untukmu aku akan memberimu sedikit diskon, jadi kamu bisa membelinya dengan harga 999.000 dolar saja." ujar penjual memberi diskon menanggapi Revan yang jadi membeli.
"Haha, paman sangat baik, memberikan diskon yang begitu murah hati." respon Revan sedikit kesal.
"Aku sudah siap, sekarang waktunya memulai rencana." gumam Revan senang sambil menenteng dua tas berukuran besar dan juga tas gunung di punggungnya, semua tas itu berisi senjata api lengkap dengan pelurunya.
"Uangku hanya tersisa 10 ribu dolar saja? ini tidak cukup untuk memperpanjang kamar hotel." batin Revan sambil memeriksa saldo rekeningnya ketika menunggu taksi.
Revan yang sakit kepala memikirkan masalah uang tiba-tiba berbinar ketika melihat seorang pria paruh baya yang sendirian di suatu tiang listrik dan terlihat seorang yang berasal dari keluarga kaya raya.
"Halo kakek, kenapa sendirian saja, kakek tidak takut dihipnotis orang seperti yang ada diberita-berita?" sapa Revan menghampiri sang kakek yang terlihat masih segar bugar walaupun sudah sangat tua.
"Haha, anak muda kakek hanya sedang menunggu cucu kakek." balas sang kakek dengan suara seraknya.
Revan yang berniat menggunakan mata iblis untuk mempengaruhi sang kakek atau menghipnotis agar mendapat transfer uang dari sang kakek tiba-tiba mendengar suara Luci yang melarangnya.
__ADS_1
"Kenapa?" balas Revan dalam hati.
Luci membalas bahwa sang kakek bukanlah orang sembarangan yang mudah dipengaruhi oleh mata iblis, Luci juga menyarankan agar Revan segera menjauhi sang kakek demi keamanan Revan sendiri.
"Anak muda, kenapa kamu menatapku seperti itu? uhuk, uhuk." tanya sang kakek ketika mendapati Revan yang terpaku menatapnya.
"Ah... tidak kakek, aku hanya tiba-tiba teringat sesuatu yang harus segera aku selesaikan." balas Revan sambil tersenyum ramah.
"Baik kakek, aku undur diri." Revan berpamitan dengan sang kakek. Meskipun tidak mengerti kenapa Luci melarangnya, Revan tetap menurut karena baginya keamanan lebih penting daripada uang.
Disebuah ruangan yang gelap gulita dan kedap suara terlihat sesosok manusia yang terikat dan matanya ditutupi seutas kain, orang itu tidak lain adalah Geri yang Revan sekap disebuah lemari di kamar hotelnya.
"Ah....," Geri yang pingsan akhirnya sadar dan langsung merasakan pusing di kepalanya.
"Sakit sekali..., kenapa disini gelap? aku dimana?" Geri kebingungan karena tidak dapat melihat apapun selain kegelapan.
Geri yang tadinya hanya merasakan pusing langsung panik ketika mengingat bahwa dirinya berhadapan dengan seorang dukun (Revan), Geri dapat merasakan bahwa dia belum mati dan hanya disekap saja.
"To-tolong...., tolong!" teriak Geri meminta pertolongan sambil berusaha melepas ikatan ditangannya.
Geri menendang-nendang tak tentu arah berharap dapat menemukan jalan keluar, namun Geri dibuat terkejut karena dia merasa menendang sebuah dinding.
Bang..., bang..., bang.
"Sepertinya aku disekap disuatu ruangan sempit, apakah ini di WC?" Geri menebak dia ada dimana setelah berusaha keras mengenali situasi dan kondisi tempat dia disekap.
"Jika di WC seharusnya dingin, tapi kenapa aku merasa panas dan pengap?" tanya Geri lagi menebak dia dimana.
"Ah..., lupakan, itu tidak penting..., tolong!" Geri kembali teriak meminta tolong dan terus menendang dan memukul tak tentu arah.
__ADS_1
Suara ribut di kamar hotel Revan akibat Geri yang berusaha meminta tolong menarik perhatian penghuni kamar disebelah kanan dan kirinya, karena merasa curiga pemilik kamar di sebelah kanan kamar Revan memutuskan melaporkan keanehan di kamar Revan tersebut.
Sementara Revan yang sedang jalan kembali ke hotel, Geri sudah membuat kemajuan untuk menyelamatkan diri karena berhasil menarik perhatian penghuni kamar disebalah kanan dan kiri.