
Rami menemani Revan yang sedang menunggu taksi sambil sesekali mengajak ngobrol Revan untuk mengisi waktu luang menunggu taksi online pesanan Revan datang.
"Kamu kuliah atau kerja?" tanya Revan basa-basi sambil terus memainkan ponselnya mencari beberapa informasi yang akan berguna untuknya.
"Aku mahasiswa semester lima di universitas Wakanda Forest, program studi pertanian." jawab Rami dengan senyum ramah. "Revan sendiri?" tanya Rami kemudian.
"Aku juga semester lima studi Informasi di universitas Bangyu, provinsi Bangyu." jawab Revan apa adanya, karena memang dia akan masuk semester lima setelah libur semester.
Taksi yang ditunggu-tunggu akhirnya menampakkan dirinya dan segera berhenti di depan Revan dan Rami yang asyik mengobrol ria di pinggir jalan bandara.
"Kepada mas Revan?" tanya supir taksi sambil mengecek aplikasi Grab di handphone.
"Saya sendiri." jawab Revan apa adanya sambil membuka pintu taksi dan masuk kedalam mobil sebelum diizinkan sang supir.
"Baik, sesuai aplikasi." ujar supir itu canggung dan segera membawa mobilnya menuju hotel tujuan yang Revan tetapkan di aplikasi Grab.
"Kuharap kita bisa bertemu lagi dimasa depan." ucap Rami dengan senyum sambil melambaikan tangannya kepada Revan yang terus sibuk melihat handphone. Revan hanya mengangguk kepala merespons Rami yang melambaikan tangan kepadanya.
Revan akhirnya sampai di hotel tujuan setelah satu jam lamanya di jalan akibat kemacetan panjang yang sudah menjadi rutinitas sehari-hari para pengendara di ibukota negara Wakanda tersebut.
Revan menyadari bahwa dompetnya hilang ketika hendak membayar taksi online, hal itu tentu membuat Revan harus menggunakan mata iblisnya agar supir itu pergi tanpa di bayar sama sekali.
"Wanita itu...," Revan menyadari bahwa kehilangan dompetnya ada kaitannya dengan Rami wanita yang dia temui di bandara.
Sementara disisi lain Rami sang pencopet sangat senang mendapati bahwa Revan ternyata orang kaya, itu terbukti dari isi dompetnya yang berisi setidaknya satu juta dolar.
"Widih, orang idiot itu banyak juga duitnya, haha." ucap Rami tertawa sambil menghitung uang yang dia dapatkan dari dompet Revan.
"Gak sia-sia aku mengobrol dengan pria jelek itu selama hampir 30 menit." tambahnya sambil membuang dompet Revan yang berisi berbagai identitas Revan, termasuk KTP (Kartu Tanda Penduduk) dan KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) dan juga sebuah foto keluarga ketika reuni dengan kedua kakaknya.
__ADS_1
Rami segera memasuki sebuah rumah yang berdinding kayu dan dikelilingi berbagai sampah rumah tangga setelah membuang dompet Revan ke sembarang arah, Rami tidak khawatir jika ada orang yang melihat dompet -dompet yang dia buang itu, karena rumahnya berada ditempat terpencil dan tidak memiliki tetangga, karena rumah Rami berada di tempat pembuangan sampah rumah tangga.
"Rami darimana saja kamu?" tanya seorang wanita muda sambil meletakkan panci di meja makan ketika melihat Rami masuk kedalam rumah.
Wanita muda ini sangat cantik dengan bentuk tubuh yang sempurna dan proporsional, serta memiliki lesung pipi yang begitu menawan, wajahnya sangat cantik dan mirip-mirip dengan Rami.
"Kak Reni, kapan kamu pulang?" tanya Rami spontan memeluk kakaknya tersebut yang ternyata bernama Reni. Kedua wanita cantik itu melakukan pelukan yang sedikit lebih lama untuk melepas kerinduan yang terpendam selama mereka berpisah dua setengah tahun yang lalu, karena Reni pergi keluar negeri untuk menuntut ilmu di salah satu universitas ternama negara Amesam.
"Baru saja, mari kita makan dulu." jawab Reni sambil mengajak Rami makan terlebih dahulu.
"Apa? kak Reni diusir dari universitas bodoh negara Amesam itu hanya karena menolak cinta seorang pria?" tanya Rami geram ketika mendengar alasan apa yang melatarbelakangi kakaknya yang cantik dan pintar itu kembali sebelum menyelesaikan studinya di luar negeri.
"Hm," angguk Reni mengiyakan, tampak jelas kekecewaan dan kesedihan dari raut wajah Reni ketika mengangguk membenarkan.
Ok.., lanjut.
Mata Revan terlihat begitu mengerikan karena seperti mata panda dan juga memiliki kantong mata yang begitu mencolok, akibat tidak tidur semalaman.
"Aku akan mencari wanita jhalang itu, lalu membunuhnya setelah tubuhnya puas kunikmati." ujar Revan dengan mata membara penuh nafsu birahi dan niat jahat terhadap Rami yang telah membuatnya tidak tidur semalaman.
Revan menggunakan telekinesis untuk mengambil cangkir yang berisi bir dan meneguknya dalam sekali tegukan, lalu membanting cangkir itu hingga menghancurkan dinding.
"Tuan apa yang... terjadi?" tanya pelayan yang kebetulan lewat dan mendengar ledakan di kamar Revan, namun dia terkejut melihat kondisi kamar yang hancur dengan pecahan belasan botol bir atau anggur yang berserakan dilantai, hal itu tentu saja akibat dari kekuatan telekinesis Revan yang tidak terkontrol.
"Tuan?" pelayan cantik itu ragu, namun dia tetap berusaha mendekati Revan yang sangat marah besar tersebut.
Revan langsung terkesima melihat begitu cantiknya pelayan tersebut, tubuhnya yang terlihat sempurna dengan wajah putih mulus, berbalut pakaian pelayan membuat nafsu birahi Revan langsung meluap-luap, terlebih pelayan itu memamerkan dadanya yang sedikit terbuka dan pahanya yang terlihat karena memakai rok kecil.
"Halo cantik, temani aku pagi ini, nanti akan ku bayar lebih." tawar Revan dengan nafsuan sambil mengelus tangan pelayan itu yang mencoba membangunkannya dari kondisi linglung.
__ADS_1
"Apa maksudmu tuan, lepaskan aku, atau aku akan memanggil satpam!" teriak pelayan cemas dan berusaha lepas dari cengkraman Revan.
"Ayolah cantik, sekali ini saja, aku akan memuaskanmu dan membayar dengan puluhan milyar untuk pelayanan itu." bisik Revan yang langsung menggigit telinga pelayan itu.
"Lepaskan, hiks." pelayan itu mulai menangis dan menyesal menggangu Revan, apalagi Revan terus menggerayangi tubuhnya.
Pelayan itu terus mencoba memberontak dan meminta tolong, namun apa daya Revan yang mabuk tidak peduli dan segera merobek pakaiannya, Iblis Luci yang melihat nafsu liar Revan dari dunia bawah ikut menggoda Revan agar segera melepaskan hasratnya tersebut.
"Lakukan Revan, apalagi yang kamu tunggu, hehehe." bisik Luci kepada Revan, Luci sangat senang jika ada manusia yang melakukan perzinahan baik suka sama suka atau pemaksaan, karena baginya itu adalah sebuah kesenangan dan hiburan.
"Tolong..., tolong..., tuan tolong lepaskan aku, hiks." pelayan memohon sambil menutupi tubuhnya yang terekspos akibat robekan Revan yang begitu ganas.
"Haha, salah sendiri kenapa memancing nafsu pria, jika tidak ingin diperkosa maka seharusnya kamu menjaga diri, setidaknya dimulai dari berpakaian." sindir Luci yang melihat dari dunia bawah.
Luci bahkan bergerak cepat untuk membisikkan nafsu birahi agar Revan memperkosa dan membunuh pelayan itu sesudahnya, karena bagi Luci kematian wanita yang direnggut kesuciannya adalah hal yang menyenangkan dan menjadi bahan untuk membuat pemerkosanya jatuh lebih dalam ke jalan penuh dosa.
"Lakukan! nikmati tubuh wanita cantik itu, Jangan ragu Revan." bisik Luci dengan suara pelan dan menggoda.
Revan yang sudah mabuk berat dan penuh nafsu semakin bernafsu ketika melihat wajah polos pelayan itu yang ketakutan begitu cantik, Revan tanpa basa-basi dan menunggu lagi langsung menerkam pelayan itu dan mulai memaksakan pelayan itu untuk berhubungan intim walaupun terus dilawan.
Beberapa jam kemudian Revan terjatuh lemas dalam kebahagiaan setelah puas berhubungan intim dengan pelayan cantik, sementara pelayan cantik itu sudah lemas tak berdaya sambil menangis sesenggukan penuh penyesalan dan kesedihan.
Pelayan itu tidak menyangka dihari kedelapan dia bekerja sebagai pelayan baru di hotel harus menerima perlakuan pemerkosaan dari pelanggan hotel itu sendiri, tentunya dia merasa menjadi wanita yang paling kotor akibat kejadian tersebut dan bersalah kepada suami serta anak mereka.
"Haha, bagus Revan." Luci sangat bersemangat.
Luci kini tinggal menunggu Revan sadar dari mabuknya dan menyadari bahwa dia telah merenggut kesucian seorang pelayan cantik, setelah itu dia akan mulai menghasut Revan agar membunuh pelayan itu untuk menutupi tindakan pemerkosaannya.
"Sebuah rencana yang bagus, hehehe." ucap Luci untuk sekian kalinya ketika berhasil menggoda manusia untuk berzina, Luci terlihat berpengalaman mengenai menghasut seseorang untuk berzina dan membunuh.
__ADS_1