
Saat Revan kembali ke hotel dia dibuat terkejut dengan kerumunan orang-orang di depan kamar hotelnya, Revan dengan sigap memakai topeng Ultraman untuk menutupi dirinya sendiri agar tidak mudah dikenali.
"Ada apa disini?" tanya Revan kepada seseorang yang di duga pengunjung hotel menanyakan apa yang terjadi.
Pengunjung hotel itu tertawa melihat Revan yang memakai topeng Ultraman. "Haha, teman sepertinya masa kecilmu kurang bahagia." ucap pengunjung hotel yang masih muda itu sambil tertawa terbahak-bahak.
"Begitulah, jadi apa yang terjadi disini?" Revan hanya membalas sekedarnya saja dan kembali bertanya.
"Ah, kamu tahu seseorang berani menyekap seorang anak dari orang terpercaya pemimpin mafia Epsona." balas pria itu memberitahu situasinya.
"Orang itu cukup berani melakukan hal itu, apakah dia tidak takut membuat mafia Epsona marah?" tambahnya sambil menggeleng tak berdaya.
Revan mengerti bahwa Geri berhasil ditemukan oleh orang lain entah bagaimanapun caranya, untuk memastikan identitasnya tak terbongkar Revan berencana mengakhiri hidup Geri jika ada kesempatan.
"Minggir! jangan halangi jalan!" teriak seseorang dari pintu masuk lantai empat hotel.
Semua orang menoleh untuk melihat apa yang terjadi, mereka semua langsung memberikan jalan ketika melihat sekelompok orang yang ternyata anggota mafia Epsona yang dipimpin orang terpercaya ketua mafia Epsona sendiri yang tidak lain ayah Geri.
"Siapa yang berani menyekap anakku? katakan siapa orangnya? atau kalian akan mendapatkan balasannya!" teriak pria paruh baya itu dengan lantang sambil terus berjalan hingga sampai di depan Geri yang saat ini sedang beristirahat sambil menunggu ayahnya datang.
"Ayah!" Geri seperti melihat penyelamatannya.
Geri yang terus ketakutan dan gemetaran langsung rileks ketika ayahnya sampai dengan membawa seorang pendekar kuat disampingnya, rumornya pendekar itu sudah menguasai tenaga dalam tahap tiga dan dikatakan setengah langkah akan menguasai tenaga dalam tahap empat yang legendaris.
Disisi lain Revan bersyukur bahwa orang-orang di hotel tidak mengenali wajahnya, karena Revan selalu berhati-hati dan jarang berkomunikasi dengan orang-orang hotel semenjak kejadian di hotel sebelumnya.
Revan bahkan selalu memanipulasi admin yang mengawasi cctv agar selalu menghapus cctv yang merekam dirinya, hal itu dilakukan agar wajahnya tidak terekspos di dunia sosial atau digital, meskipun ada beberapa orang yang sempat melihat wajahnya.
"Apa katamu? tidak ada cctv yang merekam pelakunya?" tanya pria paruh baya itu geram ketika mendengar penjelasan admin cctv hotel.
"Maaf bos, kami tidak tahu apa penyebabnya, tapi memang benar cctv itu hilang." jawab admin itu dengan terbata-bata dan takut.
Dor!
Dor!
Dor!
Karena marah pria paruh baya itu menembak admin cctv itu tepat di kepalanya hingga tiga kali tembakan, hasilnya semua orang berlarian menyelamatkan diri dari amukan sang mafia tersebut.
Tak butuh waktu lama lantai empat yang awalnya ramai orang kini terlihat senggang dan hanya menyisakan anggota mafia Epsona saja.
__ADS_1
"Ayah, bagaimana ini dukun itu berkeliaran, aku sangat takut." ujar Geri merengek kepada ayahnya.
"Apakah kamu mengenali dukun itu?" tanya sang ayah penasaran, nama ayahnya itu Borias Adiguna seseorang pebisnis ulung dan aset penting mafia Epsona.
Geri segera mendeskripsikan Revan yang dia ingat betul kepada ayahnya tanpa terlewat sedikitpun, Revan yang kini menyamar menjadi anggota mafia Epsona dibuat terkejut dengan daya ingat Geri yang begitu kuat.
Revan berhasil menyamar karena secara kebetulan dua orang pengawal Borias memakai topeng emas, jadi Revan memanfaatkan kekacauan yang ditimbulkan Borias untuk membunuh dan mengganti posisi salah satu pengawal bertopeng tersebut.
"Hm...," dengus pria tua disamping Borias sambil memandang para pengawal atau bawahannya, lebih tepatnya memerhatikan Revan yang memakai topeng Ultraman.
Bang!
Tanpa basa-basi pria tua itu langsung menyerang Revan hingga menciptakan ledakan yang memekakkan telinga akibat benturan antara kaki pria tua dengan penghalang udara yang Revan kerahkan secara reflek.
"Tuan kenapa kamu menyerangku?" tanya Revan sambil berlutut kepada pria tua tersebut.
Borias, Geri, dan pengawal lainnya juga heran dengan tindakan pria tua itu yang tiba-tiba menyerang orang.
"Jangan berpura-pura lagi anak muda, aku sangat mengenal betul aura keberadaan pengawal tuan Borias, lagipula mana ada pengawal yang sekuat dirimu, orang sekuat dirimu seharusnya menjadi anggota ekslusif mafia Epsona bukan pengawal biasa." balas pria tua yang bernama Yen itu dengan dingin sambil menatap tajam Revan.
"Terlebih kamu kurang teliti karena tidak mengganti topeng yang kamu kenakan." tambah tetua Yen sambil menunjuk topeng Ultraman Revan.
Borias, Geri, dan semua pengawal langsung waspada mendengarnya, karena apa yang dikatakan Yen sangat benar sekali, karena seharusnya orang sekuat Revan tidak mungkin menjadi pengawal biasa.
"Apakah kamu yang menyekap putraku?" tanya Borias dengan marah sambil menunjuk-nunjuk Revan.
"Hehe," Revan hanya tertawa kecil dan tidak menjawab pertanyaan tersebut.
Bush..., bang!
Karena sudah ketahuan Revan mau tidak mau menyerang untuk merenggut nyawa Borias dan juga Geri, namun Yen segera menangkis serangan tersebut.
Bang!
Bang!
Bang!
Setelah beradu pukul beberapa kali Revan berhasil dikirim terbang oleh tendangan kuat Yen hingga Revan menjebol dinding hotel dengan tubuhnya dan langsung jatuh ke bawah.
"Sialan!" teriak Revan sambil menggunakan telekinesis untuk membuat bongkahan dinding yang dia hancurkan terbang melayang di udara.
__ADS_1
Geri langsung berteriak bahwa Revan adalah dukun yang dia maksud ketika melihat Revan menggunakan kekuatan telekinesisnya, Borias yang ragu akhirnya percaya orang yang dilawan tetua Yen adalah dukun yang menyekap putranya.
"Tetua Yen tolong bunuh dukun brengsek itu." perintah Borias kepada tetua Yen, tetua Yen langsung terjun dan melancarkan tendangan ke leher Revan.
Bang!
Revan menangkis tendangan itu dengan kekuatan telekinesisnya, namun siapa yang menduga kekuatan telekinesis tidak sanggup menahan begitu kuatnya energi tenaga dalam milik tetua Yen.
Bush...., bus..., bus... bang!
"Uwek... uhuk, uhuk." Revan terhempas hingga menghancurkan bangunan apapun hingga berhenti ketika sudah terlempar 1 km jauhnya.
"Tenaga dalam yang mengerikan." ujar Luci yang menonton di dunia gaib.
Revan menggerakkan beberapa bongkahan dinding atau beton yang hancur untuk menahan tetua Yen yang menuju kearahnya dengan niat membunuh, namun tetap saja tetua Yen terlalu kuat.
Dimana tetua Yen memanfaatkan udara untuk menghancurkan bongkahan dinding tersebut sekaligus menciptakan pelindung transparan seperti yang Revan miliki, bedanya Revan memadatkan udara dengan kekuatan telekinesisnya sementara tetua Yen memanipulasi udara agar bergabung dan menjadi dinding angin atau udara yang transparan.
Bang! kriek!
Sekali tendangan tetua Yen penghalang udara yang Revan ciptakan retak dan hancur berkeping-keping, tetua Yen langsung memukul kepala Revan setelah penghalang udara yang tak terlihatnya hancur.
"Kurang ajar!" Revan mengumpat sebelum dia tersungkur kebawah akibat tinju tetua Yen hingga Revan dapat merasakan dan mendengar tulang tengkoraknya retak, lalu hancur.
"Kamu masih terlalu dini menghadapi ku, bocah!" ujar tetua Yen dingin sambil menancapkan beberapa tongkat energi di beberapa titik tubuh Revan hingga membuat Revan tak bisa bergerak dan hanya bisa merintih kesakitan.
Revan yang terluka parah dan diambang Kematian akibat tengkorak kepalanya hancur dapat selamat berkat keistimewaan bersekutu dengan iblis, yaitu mendapatkan kemampuan meregenerasi tubuh termasuk tulangnya.
"Kurang ajar, aku akan membunuhmu, sialan!" Raung Revan sambil menatap penuh kebencian kepada tetua Yen.
Tetua Yen dapat merasakan kebencian yang Revan tujukan kepadanya walau terhalang topeng Ultraman, namun dia tidak peduli dan malah merokok sambil menunggu Borias dan Geri turun dari hotel untuk memutuskan hukuman apa yang harus diterima oleh Revan.
Saya akan menuturkan kembali empat tahap tenaga dalam agar kita selalu ingat.
Dimulai dari Tenaga dalam tahap pertama, dimana tahap pertama adalah memperkuat tubuh atau mengalirkan energi tenaga dalam ke seluruh tubuh, tahap kedua memperkuat persepsi dan gerakan reflek, tahap ketiga memanipulasi udara (contohnya tongkat energi yang tetua Yen ciptakan), dan tahap keempat penghancur.
"Tuan Borias silahkan." ucap tetua Yen hormat kepada Borias yang baru datang.
"Tetua Yen terlalu sopan, haha." ucap Borias tertawa canggung.
Ketua Borias mana berani berlaku tidak sopan kepada tetua Yen yang begitu kuat dan mengerikan, hal itu juga berlaku kepada Geri yang selain kagum dia juga takut memandang wajah tetua Yen.
__ADS_1
"Tetua Yen terimakasih..., ka-karena memberi dukun ini pe-pelajaran." ucap Geri gugup dan takut-takut.
Tetua Yen hanya mengangguk sedikit dan kembali fokus kepada Revan yang tidak bisa bergerak akibat tongkat energi (seharusnya tongkat angin, karena memang terbuat dari angin namun untuk mempermudah maka disebut tongkat energi saja).