MENJALIN KONTRAK DENGAN IBLIS

MENJALIN KONTRAK DENGAN IBLIS
Geri


__ADS_3

Revan tidak pernah menduga syarat agar dia mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang dia lontarkan kepada wanita malam itu adalah harus berhubungan badan terlebih dulu, karena itu Revan mau tidak mau harus berhubungan badan dengan wanita itu walaupun merasa jijik, terlebih Revan menyadari bahwa wanita itu sudah tidak perawan lagi dan diperkirakan sudah banyak laki-laki yang mencicipi tubuh wanita malam tersebut.


"Ah, ah, ayo tampan, lebih cepat, ah uh ah...," wanita itu mendesah setiap kali Revan menyodoknya dengan brutal.


Revan membutuhkan waktu hampir tiga jam untuk memuaskan hasrat wanita itu, Revan bahkan terlihat lebih menderita dan lemas dibandingkan sang wanita malam.


"Kamu sangat kuat tampan, aku sangat puas, haha." ujar wanita itu dengan genit sambil tertawa puas, Revan hanya senyum kecil menahan rasa jijik karena wajah wanita itu sangat standar ketika pagi hari, itu sangat jauh berbeda pada malam hari.


"Jadi apa yang ingin kamu tanyakan kepadaku, tampan?" tanya wanita itu sambil membuat lingkaran di dada Revan dengan jarinya.


Revan mulai melontarkan berbagai pertanyaan kepada wanita malam itu mengenai mafia Epsona, untungnya wanita itu banyak tahu tentang mafia tersebut dan bahkan mengajak Revan untuk bertemu dengan kenalannya yang kebetulan anak dari salah satu kapten wilayah dan anak buah yang paling dipercaya oleh ketua baru Epsona.


"Bagaimana sayang, kamu mau bertemu dengannya?" tanya wanita malam itu dengan genit dan menggoda.


"Tentu saja, aku sangat ingin bergabung dengan mafia Epsona, tentu saja aku ingin bertemu dengan anak orang penting tersebut." balas Revan dengan bersemangat.


Wanita itu tertawa melihat ekspresi bersemangat Revan, dia bahkan meminta berhubungan kembali sebelum berangkat menemui orang tersebut, Revan mau tidak mau harus memenuhi hasrat wanita hyperseks tersebut.


Tiga jam kemudian.


"Kamu bisa memanggilku Desni, tampan." ujar wanita malam itu sambil keluar dari kamar hotel dengan digandeng Revan.


"Ah, iya, baiklah Desni." balas Revan dengan menahan kesal dan marahnya.


Setelah beberapa lama dan jauhnya perjalanan hingga masuk di berbagai gang sempit mereka berdua akhirnya dapat melihat sekelompok orang dari kejauhan di depan sebuah gubuk kecil yang diperkirakan hanya satu ruang saja, Desni dengan semangat menarik Revan agar cepat menghampiri sekelompok orang tersebut.


"Halo, tampan...," sapa Desni dengan langsung menyosor mencium pria muda gemuk dan berminyak yang diperkirakan orang yang akan mereka temui, pria itu membalas ciuman itu dengan ciuman yang bernafsu sambil meremas dada Desni.


"Ah..., kamu nakal, tampan." desah Desni dengan suara menggoda, pria yang bernama Geri itu tidak peduli dan terus meremas dada Desni, lalu membawanya ke dalam. Revan mau mengikuti, namun dia dihadang oleh orang-orang yang diperkirakan pengawal Geri tersebut.


Dua puluh menit lebih Revan menahan kesabaran sambil mendengar des4h4n keenakan dua orang yang berhubungan badan tersebut, Revan yang sudah terlanjur kesal menunjukkan wajah mengerikannya kepada para pengawal di depan gubuk kecil itu.


"Apa? ada apa dengan wajahmu itu, brengsek." ucap seorang pengawal dengan sok kuat sambil mendekati Revan.

__ADS_1


"Aku akan membunuh kalian semua." ucap Revan dingin.


Pengawal itu berhenti sesaat, beberapa detik kemudian pengawal itu tertawa diikuti tawa pengawal lainnya hingga membuat Revan semakin naik pitam.


"Membunuh kami, hahaha, kamu ingin membunuh kami? haha itu terdengar...," sebelum pria itu selesai berbicara dia terdiam ketika merasakan ancaman dari tatapan mata Revan yang begitu dingin dan menusuk, dia langsung terduduk ketika merasakan energi misterius yang menyerang orang-orang dibelakangnya.


Bush!


Bang!


Revan langsung menggunakan kekuatan telekinesis miliknya untuk membantai semua pengawal tersebut dan hanya menyisakan satu orang saja, orang itu tidak lain adalah pengawal yang sok hebat dihadapannya.


"Kamu..., kamu..., kamu seorang pendekar!" ucap orang itu dengan ketakutan sambil berusaha mundur.


Revan langsung menjambak rambut pengawal itu dan berbisik ditelinga pengawal itu. "Kamu salah..., aku adalah seorang pengguna iblis." ujar Revan dingin sambil mencengkram kepala pengawal tersebut kuat-kuat hingga kepala pengawal itu pecah dibuatnya.


"Sekarang...," Revan menatap pintu gubuk lekat-lekat, Revan dapat mendengar suara des4h4n dari dua orang insan di dalam gubuk tersebut.


"Hei! apa yang....," Geri yang marah langsung terdiam melihat Revan yang sedang mencengkram kepala salah satu anak buahnya yang sudah mati dengan kondisi kepala hancur, Geri semakin ketakutan ketika melihat mayat semua pengawalnya walaupun masih terhalang dinding dan tubuh Revan.


"Ahhhhh!" teriak Desni ketakutan melihat kengerian itu, lalu sedetik kemudian mati karena Revan menggunakan telekinesis untuk membenarkan kepala Desni ke dinding hingga hancur.


"Kamu..., siapa kamu? apa..., apa yang kamu inginkan?" tanya Geri ketakutan sambil memasang kembali celana dan bajunya.


"Kamu...., si tampan di hotel." Geri mengenali Revan ketika melihat wajahnya dengan seksama.


"Kamu mengenalku?" Revan balik bertanya, karena penasaran.


Geri tidak berani mengatakan bahwa dia ingin membunuh Revan karena merenggut pacarnya, terlebih Geri jelas tahu bahwa Revan sebenarnya tidak tahu apa-apa tentang hal tersebut, karena pacarnya sendiri yang berinisiatif mengejar Revan seperti mengejar seorang idola.


"Aku pernah bertemu denganmu di hotel." jawab Geri seadanya sambil mencoba mengambil sesuatu di mejanya.


"Begitukah?" tanya Revan dengan senyum main-main.

__ADS_1


Dor! sebuah peluruh keluar dari pistol yang Geri dapatkan di meja setelah berusaha keras mendekati meja tersebut.


Dor!


Dor!


Dor!


Seakan tidak puas Geri menembak Revan berkali-kali, hingga peluru pistolnya habis karena terus memuntahkan peluruh kepada Revan.


"Kamu...," Geri gemetar ketakutan melihat seluruh peluruh yang dia tembakkan hanya melayang di wajah Revan, lalu jatuh dan memperlihatkan Revan yang tersenyum psikopat kepadanya.


"Pen-pendekar tenaga dalam sempurna." ujar Geri dengan gagap.


Pendekar adalah orang yang membudidayakan tenaga dalam hingga tingkat tertentu, dimana diantara mereka yang memiliki tenaga dalam yang mampu mengendalikan udara atau oksigen disebut pendekar tenaga dalam sempurna.


"Benarkah? benarkah aku seorang pendekar?" tanya Revan main-main sambil mengangkat tangannya, seketika beberapa batu melayang seperti dikendalikan.


Pupil mata Geri langsung membesar dan ketakutan. "Dukun..., kamu seorang dukun!" teriak Geri ketakutan dan mencoba lari dari hadapan Revan, karena menurutnya Revan sedang mencari tumbal untuk memenuhi perjanjian antara dirinya dengan iblis yang memberikan kekuatan tersebut, jadi secara otomatis Geri berpikiran bahwa dia akan dijadikan tumbal dan tentunya dia tidak memiliki kesempatan untuk hidup.


Note:


Karena telekinesis berhubungan dengan pengendalian benda, dan juga teknik pemadatan udara yang Revan lakukan sangat mirip dengan pendekar tenaga dalam sempurna, maka tidak heran orang-orang menyebut Revan sebagai pendekar, mereka tidak akan berpikir bahwa Revan pengguna kekuatan telekinesis yang berasal dari perjanjian dengan iblis Luci selama Revan tidak menggerakkan benda dan hanya menciptakan penghalang yang terbuat dari pemadatan udara saja.


"Haha, kamu ketakutan?" Revan tertawa melihat Geri yang lari ketakutan dan beberapa kali terjatuh dan tersungkur.


"Dukun...., tolong aku..., disini ada dukun, tolong!" teriak Geri berlari dan terjatuh sambil teriak meminta pertolongan, Geri yang kembali jatuh memilih merangkak untuk keluar gang sempit tersebut.


"Tolong...., lepaskan aku, aku akan memenuhi semua permintaanmu asalkan kamu melepaskanmu." ujar Geri sambil merangkak ketakutan ketika mendengar langkah kaki Revan yang jalan menujunya.


"Kumohon..., lepaskan aku, jangan jadikan aku tumbalmu." ujar Geri memohon sambil menangkupkan kedua tangan kepada kaki Revan yang sudah ada di hadapannya.


"Kumohon....," Geri pingsan karena terlalu takut setelah berusaha mendongak untuk melihat wajah Revan yang berada dihadapannya.

__ADS_1


__ADS_2