MENJALIN KONTRAK DENGAN IBLIS

MENJALIN KONTRAK DENGAN IBLIS
Kekuatan tenaga dalam tahap tiga


__ADS_3

No 2 saat ini berdiri dipinggir danau alami sambil memandang kejauhan, no 2 terlihat berpikir keras akan sesuatu hal, itu dapat dilihat dari raut wajahnya dan juga kening yang berkerut.


"Kemana dukun itu membawa wanita itu?" tanya no 2 dalam hati.


"Selain itu sudah lima hari berlalu, tapi belum ada kabar dari para pengejar." no 2 nampak tertekan dan merasa gelisah.


Kegelisahan no 2 disebabkan karena Febi yang belum ditemukan dan juga para pemburu iblis yang dia perintahkan untuk mengejar dan mencari Febi belum satupun yang menampakkan batang hidungnya.


"Ternyata kamu ada disini, kamu benar-benar membuatku berusaha keras mencarimu." ujar seseorang dari arah belakang no 2 dengan tiba-tiba.


No 2 menoleh untuk melihat siapa yang berbicara kepadanya, no 2 langsung membungkuk hormat ketika mengetahui siapa orang tersebut.


"Salam hormat guru." ujar no 2 membungkuk hormat dengan tangan kanan di dadanya.


Ya, pria tua yang berbicara kepada no 2 adalah sang guru atau tetua Lapin yang sering dikenal no 2 sebelum Waharja mengambil dan memakai panggilan tersebut.


Tetua Lapin atau no 2 sepuh berjalan sambil menampakkan seulas senyum lembut kepada muridnya tersebut, lalu menepuk pundak sang murid dengan lembut.


"Aku dengar kamu menyerang salah satu eksekutif mafia Epsona di markasnya, apakah itu benar." tanya tetua Lapin dengan tatapan menyelidik.


"Benar guru, aku menyerang bajingan Boris untuk membebaskan beberapa orang yang tidak bersalah dari penjara bawah tanahnya." jawab no 2 jujur.


"Hm, apakah itu benar? tidak ada motif tersembunyi?" tanya tetua Lapin dengan kalem.


No 2 mengerti maksud gurunya tersebut, ia lalu berkata. "Kebetulan informan yang aku miliki mengatakan bahwa wanita itu juga dipenjara oleh Boris, jadi sembari menyelamatkan orang yang tidak bersalah aku juga menyelamatkannya."


Tetua Lapin tampak merenung mendengar penuturan muridnya tersebut, tetua Lapin selalu bertanya-tanya siapa "wanita itu" yang sering muridnya singgung tersebut.


"Kamu selalu mengatakan wanita itu, memangnya siapa wanita itu?" tanya tetua Lapin kemudian.


"Wanita itu adalah orang yang harus aku jaga seumur hidupku, dia adalah Febi istri dari Horus." jawab no 2 jujur.


"Horus? temanmu yang dibunuh Gera sang ketua mafia Epsona yang baru?" tanya tetua Lapin dengan menyelidik.


"Lebih tepatnya.... r-rekan bisnis." ujar no 2 ragu-ragu seakan menutupi sesuatu.


Keragu-raguan yang no 2 tampakkan terlihat jelas dimata tetua Lapin yang sudah tua renta tersebut, seulas senyum ramah yang tetua Lapin tampakkan sebelumnya berganti dengan geleng-geleng kepala.


"Baiklah kalau itu masalahnya." ucap tetua Lapin menanggapi sambil berdiri.


"Apapun yang ingin kamu lakukan maka lakukanlah, tapi jangan sampai membuat dua organisasi terlibat perang hanya karena istri seorang teman." ujar tetua Lapin sambil berlalu pergi meninggalkan no 2 yang berlutut tanda penghormatan.


"Aku mengerti, guru." tanggap no 2 mengerti.


Setelah kepergian tetua Lapin, muncul seseorang menghadap no 2 sambil menunjukkan sikap hormat.


"Apakah sudah ketemu?" tanya no 2 dengan datar tanpa menoleh melihat orang tersebut.


"Sudah ketemu tuan, hanya saja mereka sedang berlayar menuju kota Je menumpangi kapal pesiar." jawab orang itu.


"Apa? lalu siapa yang menemukan mereka?" tanya no 2 dengan terkejut.


"Si tangan besi, Kyle." jawab orang itu apa adanya.


Mendengar siapa pemburu iblis yang menemukan Revan dan Febi membuat no 2 tersenyum penuh arti.

__ADS_1


"Lalu apa yang dukun itu lakukan kepada wanita itu? apakah dia teman ataukah musuh?" tanya no 2 kemudian.


"Itu....," orang itu mulai menceritakan sosok Revan yang telah mereka amati selama 3 sampai 5 jam lamanya.


Orang itu mengatakan bahwa dia tidak tahu Revan teman atau musuh, namun yang pasti mereka melihat Febi selalu menunjukkan wajah kesedihan, ketakutan, dan kekhawatiran ketika bersama Revan maupun sendirian. Orang itu juga mengatakan bahwa Febi baru-baru ini membentak Revan karena sesuatu hal yang belum pasti.


"Dukun tetaplah dukun, dia pasti ingin menjadikan wanita itu tumbalnya atau memaksa wanita itu mengikuti semua kemauannya." gumam no 2 dengan menggertakan gigi karena marah setelah mendengar penuturan tersebut.


No 2 beranggapan bahwa Revan memaksa Febi untuk ikut dengannya, Febi yang lemah dan tak berdaya mau tidak mau harus mengikuti Revan sembari mencari kesempatan untuk kabur atau mendapatkan bantuan seseorang.


"Sampaikan perintahku kepada si tangan besi, bawa wanita itu kemari apapun yang terjadi, sementara dukun yang bersamanya itu harus dibunuh dengan cara apapun." perintah no 2 dingin seakan yakin bahwa Revan adalah musuh bukan teman.


Markas besar mafia Epsona.


Terlihat beberapa orang berlutut dihadapan pria paruh baya yang diperkirakan berumur 40-an tahun yang berdiri dengan tangan dibelakang memandang keluar jendela.


"Jadi tidak ada yang tahu siapa dan kelompok mana yang menyerang Boris?" tanya pria itu dingin.


"Benar tuan, kami sudah memeriksa penjara itu, tapi tidak ada jejak atau bukti apapun yang dapat digunakan untuk mencari siapa pelaku penyerangan tersebut." jawab salah satu pria yang berlutut dengan takut-takut.


"Bahkan pengawal yang menjaga tuan Boris tidak ada yang hidup, mereka semua terbunuh tanpa terkecuali." tukas pria itu.


Pria paruh baya itu menghela nafas berat, lalu mendengus. "Baiklah, kalian bisa pergi." ujarnya dengan lembut.


"Terimakasih tuan, terimakasih." ujar semua orang yang berlutut dan segera beranjak pergi, namun baru beberapa langkah mereka semua memegang lehernya yang seakan dicekik sesuatu, lalu mati karena kehabisan nafas.


"Tuan k-kenapa...." tanya pria yang menjawab pertanyaan dengan mata melotot sebelum mati menyusul teman-temannya.


"Karena aku tidak bilang kalian boleh pergi kemana." dengus pria paruh baya itu dengan senyum psikopat.


Boom!


Boom!


Boom!


Revan dan Kyle terlibat pertarungan yang sangat sengit diatas laut yang bergelombang setelah siang hari sebelumnya mereka sepakat bertarung, sementara Febi sendiri sudah tertidur pulas di kamarnya. Alasan Revan dan Kyle bertarung di malam hari atau sini hari hanya untuk menghindari kehebohan para penumpang kapal.


"Kurang ajar!" teriak Revan dengan menggerakkan air laut untuk menghadang tinju angin dari Kyle.


Bush!


"Ugh..." Revan termuntah darah.


Revan tidak pernah mengira tinju angin itu tidak dapat ditahan oleh air laut yang dia gunakan untuk menghadangnya. Revan yang termuntah darah masih sempat menyerang Kyle dengan tombak air dari berbagai arah.


"Kekuatan telekinesis?" tanah Kyle meremehkan.


Kyle beberapa kali digerakkan oleh kekuatan telekinesis Revan, namun dia dapat bebas karena mampu mengontrol dirinya sendiri dengan energi tenaga dalamnya dan malah menyerang balik Revan.


Bush!


Bush!


Bush!

__ADS_1


Revan terus menghadang tinju angin Kyle dengan perisai telekinesisnya, namun beberapa detik kemudian Revan harus terlempar akibat tendangan lurus Kyle.


Booom!


Revan membentur beberapa karang hingga hancur, seandainya Revan tidak melindungi tubuhnya dengan perisai angin yang terbentuk dari telekinesis mungkin saja Revan sudah tewas terbunuh.


Bang!


Bang!


Bang!


Kyle beberapa kali meninju dan memukul Revan, sementara Revan harus menahannya dengan perisai telekinesisnya sembari menyerah balik beberapa kali.


Bang!


Krak!


Tinju yang mengarah ke dada Revan mampu memecahkan perisai telekinesisnya dan menghantar Revan terhempas beberapa langkah jauhnya.


"Kekuatan tenaga dalam apa itu?" tanya Revan dalam hati sambil melihat Kyle yang sudah meloncat tinggi dan meluncur kearahnya dengan kaki yang siap menghancurkan jantungnya.


Kreak!


"Ugh...." Revan langsung termuntah darah akibat tendangan itu, lalu perlahan kehilangan kesadarannya.


Revan yang setengah sadar masih sempat berkomunikasi dengan iblis Luci yang dari awal hingga akhir menonton pertarungannya.


"Kenapa kamu tidak membantuku, iblis sialan!" protes Revan tak terima.


"Ah, aku lupa kamu menginginkan tubuhku, kenapa aku bisa melupakan itu." ujar Revan kembali setelah sadar apa yang diinginkan iblis kepada manusia yang menjalin kontrak dengannya.


"Hehehe, sudah kukatakan bahwa aku tidak berniat terlahir di dunia manusia, aku hanya ingin melihat perjalanan manusia yang hina sepertimu." ujar iblis itu dengan tertawa kecil.


"Bukankah aku sudah mengatakannya saat kamu merengek meminta bantuanku dipenjara itu?" tanya iblis itu.


"Kamu berbohong, aku tidak percaya!" ucap Revan dengan marah.


"Haha, kalau begitu bagaimana jika aku membuatmu bereinkarnasi ke tubuh seseorang 10 tahun kemudian?" tanya iblis itu tiba-tiba, karena dia tahu Revan sudah mencapai batasnya.


"R-reinkarnasi? apa itu?" tanya Revan bingung dengan tawaran Luci


"Kamu beruntung karena aku masih ingin melihatmu menjalani hidup di dunia manusia, haha." bukan menjawab Luci malah tertawa terbahak-bahak.


Revan yang bingung dan ingin bertanya lebih lanjut sudah keburu menjadi bulatan cahaya yang langsung digenggam Luci.


"Sepuluh tahun kemudian aku akan menaruh rohmu ketubuh manusia yang cocok dengan rohmu itu, hehehe." gumam Luci dengan tersenyum penuh arti.


Sementara di dunia nyata tubuh Revan yang sudah kehilangan rohnya akibat diambil iblis Luci perlahan demi perlahan tenggelam di dalamnya lautan lepas, Kyle menatap tubuh Revan dengan dingin hingga tubuh Revan benar-benar menghilang dari pandangan.


"Tuan wanita itu sudah mati." ujar salah satu pemburu iblis yang menjaga Febi melapor kepada Kyle.


"Apa?" tanya Kyle terkejut.


"Apa yang terjadi dasar bodoh?" teriak Kyle dengan penuh kemarahan sambil berlari menuju kapal pesiar yang semua penumpangnya sudah tertidur lelap.

__ADS_1


Saat berlari menuju kapal Kyle menampakkan seringai licik yang tidak dapat dilihat oleh siapapun termasuk pemburu iblis yang melapor kepadanya.


__ADS_2