
Disisi lain Revan dan Febi sudah keluar gedung itu setelah memanfaatkan kekacauan yang ditimbulkan akibat serangan no 2 kepada mafia Epsona, lebih tepatnya no 2 mencoba membebaskan para tahanan penjara bawah tanah milik Boris dengan bantuan tetua Yen.
"Kita istirahat dulu." ucap Revan berhenti disebuah pohon besar yang berada jauh di dalam pemukiman padat penduduk.
Revan memilih kabur melewati pemukiman padat penduduk supaya para musuhnya tidak dapat mengejarnya, sekaligus mengantisipasi jika ada salah satu Pemburu iblis yang melihat mereka kabur dan mengejar mereka berdua.
"Revan kamu pengguna iblis?" tanya Febi setelah nafasnya mulai stabil setelah beberapa lama istirahat.
"Iya." jawab Revan apa adanya sambil mengawasi sekitar mereka untuk memastikan bahwa tidak ada yang mengejar mereka berdua.
"Kenapa kamu melakukan itu, apakah kamu tahu resikonya?" tanya Febi dengan sedikit marah, namun dia menahan diri karena bagaimanapun dia dan Revan baru pertama bertemu meskipun berstatus saudara ipar.
Revan hanya diam tidak menjawab dan lebih memilih mengamati sekitarnya, Febi sendiri tidak bisa memaksa Revan menjawab karena takut Revan akan marah kepadanya.
"Apakah kamu datang kesini untuk balas dendam?" tanya Febi setelah hening beberapa saat.
Revan kembali bungkam tidak menanggapi pertanyaan Febi tersebut, diamnya Revan menjadi jawaban bahwa dia memang datang untuk balas dendam atas tragedi yang dialami keluarganya.
Febi menghembuskan nafas pelan. "Revan jika kamu ingin balas dendam, setidaknya harus mempersiapkan dengan matang-matang, bukan datang dengan penuh dendam dan tanpa persiapan sama sekali, itu hanya mengantarkan nyawa." ujar Febi memberi nasehat.
Febi tidak bisa memaksa Revan untuk membatalkan perjanjian dengan iblis atau mencegahnya untuk balas dendam, maka Febi hanya bisa memberikannya nasehat agar balas dendamnya terlaksana.
"Kamu harus menjadi kuat terlebih dahulu sebelum balas dendam kepada mafia Epsona, kamu harus kuat baik secara pasukan maupun keuangan dan kekayaan, karena jika kamu datang seorang diri tanpa kekuatan, pasukan, dan juga kekayaan kamu hanya mengantarkan nyawa saja." nasehat Febi kembali meskipun Revan hanya bungkam.
"Aku tidak tahu kamu mendengar dan akan melakukan nasehatku atau tidak, tapi aku berharap kamu harus berpikir jernih dalam berbagai hal, termasuk dalam menuntut balas dendam." tukas Febi.
Revan hanya bungkam mendengar nasehat Febi yang katanya adalah istri dari Horus dan kakak iparnya itu, dia sebenarnya masih ragu dengan identitas Febi itu sendiri.
"Selain dirimu siapa lagi yang masih hidup?" tanya Revan pada akhirnya setelah sekian lama bungkam.
Mendengar pertanyaan itu nyatanya membuat Febi sedih dan mengingat kembali dihari tragedi itu, tepatnya dua hari setelah pemberontakan internal di mafia Epsona yang berujung terbunuhnya Reza.
Hari itu.
Horus yang sedang sarapan pagi dibuat tidak fokus karena tidak mendapatkan kabar dari Reza yang tiba-tiba putus kontak, padahal dua hari yang lalu Reza akan berkunjung untuk melihat ibu mereka sekaligus menghabiskan waktu untuk sang ibu.
"Kenapa adik Reza tidak dapat dihubungi dua hari ini? ini benar-benar membuatku khawatir." gumam Horus sambil melihat handphone yang saat itu sedang memanggil Reza.
__ADS_1
Bukan jawaban dari sang adik, Horus hanya mendapat jawaban notifikasi dari operator bahwa nomor yang dituju tidak menjawab panggilan. Melihat itu Horus semakin khawatir saja dan berencana menyambangi markas mafia terbesar no 3 se-Asia itu yang berada di pinggiran kota yang sudah tak berpenghuni atau disebut kota mati.
"Kenapa sayang?" tanya Febi sambil mengunyah daging kambing panggang.
"Tidak ada sayang, hanya saja adikku yang berandalan itu tidak dapat dihubungi dua hari ini." balas Horus apa adanya dengan jengkel.
"Padahal dia sudah janji akan berkunjung kesini untuk melihat ibu." ucap Horus kembali sambil menggigit steak dengan kasarnya.
"Mungkin adikmu sedang sibuk, makanya dia sulit dihubungi." ujar Nina dengan lembut sambil menaruh nasi di piring Horus, mencoba berpikir positif tentang Reza yang hilang kontak dua hari belakangan, padahal Nina sendiri sangat khawatir kepada putra keduanya tersebut.
"Iya mas, ibu benar mungkin adik Reza sedang sibuk dua hari ini." ujar Febi menyetujui dan mendukung pendapat sang mertua.
"Semoga saja seperti itu." ucap Horus mendengus kasar dan mencoba fokus untuk menikmati makanannya.
"Ngomong-ngomong bagaimana dengan dua cucuku itu, katanya dalam waktu dekat akan kembali kerumah ini." ujar Nina menanyakan dua cucunya yang sedang berlibur dirumah kakek dan nenek mereka dari pihak ibu.
Maklum saja karena sejak awal datang hingga sekarang Nina hanya dapat melihat wajah dua cucu laki-lakinya itu melalui foto keluarga kecil Horus yang dipajang dibeberapa bagian sudut rumah.
"Derrick dan Edi masih betah di rumah nenek mereka dan akan pulang tiga hari sebelum semester baru dimulai." balas Febi dengan tidak enak hati kepada mama mertuanya tersebut.
Derrick adalah anak pertama dari Horus dan Febi, umurnya baru menginjak 10 tahun, lebih tua satu tahun dari sang adik Edi yang berumur 9 tahun. Dua anak itu sedang menikmati libur panjang sekolah di rumah kakek dan nenek dari pihak ibu yang berada jauh di kota Meruka, yaitu provinsi paling ujung di timur negara Wakanda.
Horus ikut sedih melihat raut wajah sang ibu yang terlihat sangat kecewa karena sangat ingin bertemu dengan sang cucu, namun apa daya sang cucu sangat jauh dari ibukota.
"Kalau ibu mau, kita akan pergi berkunjung menemui mereka di provinsi Meruka." ujar Horus dengan santai sambil minum dan mengelap mulutnya dengan tisu.
"Itu tidak perlu nak, ibu tidak ingin membuatmu..." belum selesai Nina berbicara sang anak sudah memanggil asisten pribadinya.
"Iya tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya Clevera.
Clevera adalah seorang pemuda yang sangat jenius dan lulusan terbaik universitas Hardcore di negara Amderika, dia adalah pemuda yang sangat dihargai oleh Horus karena kepintarannya dalam menangani berbagai urusan perusahaan.
"Siapkan tiket pesat menuju provinsi Meruka untuk 4 orang, lebih cepat lebih baik." perintah Horus tanpa menoleh dan malah sibuk mengelap tangannya yang basah karena selesai makan.
Clevera mengangguk sedikit dan segera pamit undur diri meninggalkan ruang makan tersebut, namun baru beberapa langkah seseorang berlari menuju ruang makan untuk bertemu Horus.
"Tuan Horus gawat, gawat, gawat..." teriak orang itu berlari menuju Horus yang menunjukkan ekspresi khawatir.
__ADS_1
"Ada apa Henry?" tanya Horus langsung, terlihat jelas kekhawatiran dari nada bicaranya.
Orang itu adalah Henry yang merupakan tangan kanan Reza sekaligus orang yang paling dipercaya oleh Reza untuk melindungi Horus di semua kegiatan yang Horus lakukan agar tidak diserang oleh pesaing bisnisnya.
Febi dan Nina juga dapat merasakan kekhawatiran yang ditunjukkan Horus, dua wanita beda generasi itu segera menghentikan acara makan mereka untuk mendengar apa yang ingin disampaikan Henry.
"Gawat tuan, ini sangat gawat." ujar Henry sambil ngos-ngosan.
"Minum dulu dan tenangkan dirimu, lalu katakan apa yang ingin kamu sampaikan." ujar Febi sambil menyodorkan segelas air minum kepada Henry.
Henry segera minum, lalu mulai memberikan informasi tentang Reza yang dua hari belakangan putus kontak. Dimana menurut pemaparan Henry, Reza ternyata sedang sibuk mengurus masalah internal organisasi yang dia pimpin dan sekarang hilang kabar akibat pemberontakan Gera.
Henry juga mengatakan bahwa organisasi sekarang diambil alih oleh Gera setelah hilangnya Reza, Gera juga merencanakan untuk membunuh semua orang yang memiliki hubungan dengan Reza agar tidak terjadi aksi balas dendam.
"Sekarang ada rumor bahwa Gera berhasil membunuh ketua Reza di sebuah danau tempat pemberontakan itu terjadi." tukas Henry dengan menahan kemarahannya.
Dari awal hingga akhir Horus, Nina, dan Febi hanya diam seribu bahasa, tak terasa air mata kesedihan jatuh di pipi Nina dan juga Febi yang sangat sedih dan terpukul mendengar kabar tersebut.
"Itu tidak mungkin, hiks." Nina tak kuasa menahan tangisnya, Febi segera memeluk Nina yang jatuh lemas.
"Ibu..." Panggil Horus dan Febi menopang sang ibu yang lemas karena tak kuasa menahan kesedihannya.
"Ibu.... ibu, bangun Bu...," panggil Horus sambil menahan tangisnya.
Nina segera dibawa ke kamar untuk mendapatkan perawatan dari dokter pribadi keluarga dan ditemani oleh Febi, sementara Horus mengumpulkan semua pengawalnya termasuk Clevera dan juga pengawal pribadinya yang berasal dari mafia Epsona semasa Reza memimpin.
"Clevera ada tugas penting untukmu...," Horus memberikan Clevera sebuah tugas penting.
"Tapi...," Clevera ingin menolak, namun sebelum selesai mengatakan penolakan Clevera mendapat bentakan keras dari Horus.
"Tolong, dengarkan dan jalankan perintahku itu." ujar Horus lembut karena tidak tega membentak Clevera.
"Baik laksanakan tuan, hiks!" Clevera hanya bisa menangis sedih dan menyetujui keinginan tuannya tersebut.
Setelah mendapatkan kepastian dari Clevera, Horus beralih ke semua pengawalnya dan mengatakan bahwa mereka boleh pergi jika takut berurusan dengan mafia Epsona tapi Horus memohon agar mereka ikut Clevera.
"Aku akan selalu bersamamu, tuan Horus." ujar salah satu pengawal tetap tinggal, padahal banyak teman-temannya yang lebih memilih mundur dan ikut Clevera daripada tinggal dan berperang melawan mafia Epsona.
__ADS_1
Hingga akhirnya dari 1200 lebih pengawal hanya tinggal kurang dari 176 orang saja yang tetap tinggal dan mendukung Horus dalam menghadapi Gera sang ketua mafia Epsona yang baru, dimana 36 orang itu adalah pengawal yang direkrut oleh Horus dan 140 orang lainnya adalah semua pengawal pribadi yang Reza kirimkan, termasuk Henry.