
Revan tersadar disebuah tempat dibawah rindangnya pohon yang berada di sebuah bukit yang luas dengan hamparan rumput yang begitu memanjakan mata, dari atas bukit Revan dapat melihat hutan yang ditengah-tengah hutan berdiri sebuah rumah kayu (gubuk) ketika dia menoleh kebelakang.
"Ini.... bukankah ini di bukit yang berada di belakang rumah kakek Cheng?" tanya Revan pada dirinya sendiri ketika mengenali suasana tempat dan juga pemandangan yang ada.
Revan menamai bukit itu dengan sebutan bukit tebing karena untuk sampai diatas bukit Revan harus berusaha keras memanjat tebing yang curang, ketika Revan mengisi waktu luang dia selalu tidur dibawah pohon yang berada tepat di jurang (pohon yang sama dengan dia tempati saat ini) dimana dibelakang jurang ada gubuk milik kakek Cheng.
"Kenapa aku ada disini?" tanya Revan berdiri dan menepuk-nepuk tubuh layaknya sedang membersihkan debu.
"Bukankah aku sedang sekarat akibat pak tua itu?" tanya Revan pada dirinya sendiri sambil mencari-cari pak tua yang dimaksud.
Cukup lama Revan mencari dengan melihat kesana-kemari, namun orang tua yang membuatnya sekarat tidak ditemukan di manapun.
Revan memutuskan menuju gubuk milik kakek Cheng hanya untuk memastikan sesuatu yang selalu mengganggunya ketika tersadar di tempat tersebut.
Bruak!
Revan langsung mendorong pintu gubuk hingga berbunyi keras ketika membentur dinding gubuk karena Revan terlalu keras mendorongnya, Revan dibuat terkejut dan terharu ketika menemukan seorang wanita yang sangat dia rindukan sedang memasak nasi.
"I-ibu..., hiks." panggil Revan yang tidak dapat membendung air matanya yang jatuh karena terlalu merindukan sang ibu.
"Revan?" Nina menoleh kebelakang ketika ada orang yang memanggilnya, lalu menunjukkan raut wajah bingung melihat Revan yang menangis sedih.
"Ada apa Revan, kenapa kamu menangis?" tanya Nina dengan prihatin kepada Revan, seulas senyum tulus yang Nina berikan membuat Revan semakin bersedih dan menangis sejadi-jadinya.
"Cup, cup, anak ibu tak boleh cengeng, sini ibu peluk." ujar Nina menenangkan Revan sambil merentangkan tangan seperti meminta dipeluk.
Revan langsung berlari ingin memeluk sang ibu, namun saat baru sampai dipangkuan sang ibu Revan tersadar dari pingsannya dengan perut perih akibat ditendang.
"Ugh..., hosh, hosh, hosh." Revan termuntah darah dengan nafas yang terengah-engah akibat pukulan seseorang pria muda yang tidak lain adalah Geri.
"Kau...," mata Revan melotot dan marah kepada Geri namun Geri meninju mata Revan dengan tepat sasaran hingga Revan meraung kesakitan.
"Apa?" tanya Geri sambil menjambak Revan yang sangat kesakitan di bagian mata akibat pukulan Geri.
"Hah, apa? kau ingin membunuhku?" tanya Geri dengan sombong.
Buk!
Buk!
Buk!
__ADS_1
Geri memukul dan menendang Revan sambil mengatakan "Ayo pukul aku, dukun brengsek!" setiap kali memukul, Revan hanya bisa menahan sakit dan kebencian yang dalam kepada Geri, seandainya Revan leluasa bergerak dia sudah pasti memisahkan kepala Geri dari badannya dengan cara menariknya bukan dengan pedang.
"Ayo pukul aku bajingan, aku ada di depanmu." ujar Geri mengakhiri siksaannya kepada Revan karena kelelahan.
Geri yang kelelahan berniat pergi dari ruang bawah tanah itu, sebelum pergi dia meludahi wajah Revan yang berlumuran darah akibat muntah darah, lalu memukul kepala Revan dengan sebuah pentungan.
Buk!
Revan yang dipukul dengan pentungan itu langsung jatuh tersungkur dengan kepala yang sangat sakit dan terasa hampir pecah, namun Geri tidak peduli dan malah menginjak kepala Revan sebelum benar-benar pergi.
"Rasakan itu dukun brengsek!" ucap Geri sebelum pergi dari penjara bawah tanah itu, nampaknya Geri sangat membenci Revan hingga ketulang-tulangnya.
Revan hanya bisa menahan sakit diseluruh tubuhnya, terutama bagian perut dan wajah sambil berusaha untuk tidak menangis apalagi berteriak.
Revan begitu sekarat hingga dia merasa lebih baik mati daripada hidup dalam penyiksaan fisik maupun batin, terutama ketika dia mengingat raut wajah ibunya yang tersenyum ramah kepadanya dalam mimpi beberapa waktu lalu.
Lima jam berlalu, Revan yang berangsur-angsur pulih mencoba menghancurkan borgol rantai yang mengekangnya, namun usahanya itu hanya sia-sia karena borgol rantai itu terlalu kuat dan bahkan kekuatan tenaga dalamnya pun tidak sanggup menghancurkan borgol.
Revan kembali mencoba dengan mengerahkan semua kemampuan yang dia miliki termasuk kemampuan telekinesis yang dia dapatkan dari kontrak dengan iblis, namun hasilnya tetap sama yaitu kegagalan.
"Borgol apa ini, sialan." ucap Revan setengah berteriak frustrasi sambil terus berusaha melepas borgol.
"Siapa?" tanya Revan akhirnya setelah tidak menemukan siapapun.
"Aku disini, dasar bodoh." ujar suara itu kembali tepat disamping penjara Revan.
Revan menoleh dan betapa terkejutnya Revan melihat seorang wanita yang berpenampilan acak-acakan dan terlihat kumal dengan beberapa luka dan lebam di sekujur tubuhnya, wanita itu juga sama seperti Revan yaitu ditahan dengan diborgol rantai.
"Percuma saja kamu mencoba melepas borgol di tanganmu, karena borgol itu sudah diperkuat dengan tenaga dalam orang tua sialan itu, kecuali kamu lebih kuat darinya jangan harap mampu menghancurkan borgol tersebut hingga kiamat sekalipun." ujar wanita itu memberitahu Revan.
"Lebih baik kamu menyimpan energimu untuk mengantisipasi seandainya ada kesempatan untuk kabur." nasehat perempuan itu.
Revan yang berusaha keras untuk lepas langsung terdiam menuruti nasehat sang wanita, ia tidak lagi berusaha menghancurkan borgol tersebut dan lebih memilih untuk berpikir bagaimana caranya mendapatkan kesempatan untuk kabur.
Jatuh dalam keheningan.
"Hei, aku seperti pernah melihatmu, tapi dimana?" ujar wanita itu kembali memecahkan keheningan.
"Dimana?" Revan malah balik bertanya sambil mengingat-ingat.
"Haaa, mungkinkah ini efek dari yang namanya halusinasi?" tanya wanita itu sambil menghela nafas pelan.
__ADS_1
"Mungkin saja." balas Revan.
Suasana kembali jatuh dalam keheningan, karena mereka tidak tahu apa yang ingin mereka obrolkan, mereka berdua sama-sama kehabisan topik pembicaraan, keheningan itu tak bertahan lama ketika wanita itu berteriak karena mengingat Revan.
"Bukankah kamu adik mas Horus?" ujar wanita itu dengan sedikit berteriak mengagetkan Revan yang saat itu sedang merenung.
"Kamu membuatku kaget saja, apakah kamu ingin membuatku jantungan?" ujar Revan protes dengan teriakan wanita itu yang hampir membuat jantungnya meledak.
"Ah maaf, apakah kamu mengenal Horus? dia seorang pengusaha muda yang terbunuh oleh mafia kejam ini." ujar wanita itu menanyakan tentang Horus kepada Revan.
"Iya, aku mengenalnya, dia kakakku yang telah mengambil ibuku." jawab Revan acuh, Revan masih menyesalkan kenapa kedua kakaknya itu datang ke kehidupan dia dan ibu hanya untuk membawa ibu mereka pergi.
"Kamu tidak bersedih dengan apa yang menimpa kakakmu?" tanya wanita itu kepada Revan yang acuh dan tidak ada raut kesedihan di wajahnya ketika membicarakan Horus yang tidak lain kakak Revan sendiri.
"Itu.... aku sendiri tidak mengerti dengan perasaanku." jawab Revan tertunduk sedih, karena dia masih tetap menghargai Horus sebagai kakaknya, hanya saja Horus sangat menyesalkan pertemuan mereka.
"Revan bukankah itu namamu?" tanya wanita itu kepada Revan, namun Revan hanya diam dan tidak menanggapi.
"Namaku Febi Honiya, aku adalah istri kakakmu, artinya kamu adalah adik iparku." ucap wanita itu memperkenalkan dirinya sendiri, Revan yang diam terkejut mendengar fakta bahwa wanita yang terus berbicara kepadanya itu adalah kakak iparnya.
"Aku tahu kamu membenci mas Horus, tapi kamu tahu mas Horus menitipkan ucapan maaf kepadamu diakhir hayatnya." ucap Febi dengan sedih, bahkan air matanya tidak terbendung lagi.
"Dia meminta maaf karena membawa ibu pergi bersama, hiks." ujar Febi menangis dan memaksakan diri untuk bersuara hanya demi menyampaikan ucapan maaf dari Horus.
"Itu yang dia ingin aku sampaikan kepadamu jika bertemu, hiks."
"Kamu tahu saat aku ditangkap dan disiksa oleh para bajingan itu, aku merasa tidak akan bisa menyampaikan permintaan maaf mas Horus kepadamu, namun siapa sangka para bajingan itu juga menangkapmu." ucap Febi dengan sedih dan marah.
Febi tidak mengharapkan Revan juga tertangkap dan disekap oleh orang-orang yang telah mengkhianati adik iparnya (Reza) dan juga membunuh suaminya, dia lebih memilih permintaan maaf Horus tidak akan terdengar oleh Revan daripada Revan mendengarnya di penjara.
"Aku... atas nama maaf Horus meminta maaf atas penderitaan yang dia timbulnya kepadamu, hiks." ucap Febi meminta maaf dengan tulus sambil menangis sesugukan.
"Kak Febi, ada orang, kamu harus bersikap bahwa kita tidak saling kenal." ujar Revan setelah hening yang hanya diisi suara tangis Febi.
"Karena mereka tidak tahu bahwa aku memiliki hubungan dengan kak Horus, mereka hanya tahu aku memukul dan menyekap bocah Geri." sela Revan ketika Febi ingin bertanya kenapa dia ditangkap.
"Kamu datang untuk balas dendam?" tanya Febi kemudian, Revan hanya diam tidak menanggapi pertanyaan itu.
Brak!
Pintu penjara ditendang hingga menghasilkan suara benturan yang sangat keras, benturan itu mengagetkan Febi, namun tidak bagi Revan yang hanya senyum psikopat.
__ADS_1