
Revan tidak habis pikir dengan pemikiran Horus yang lebih memilih melawan daripada menyelamatkan diri setelah mendengar penuturan Febi yang saat itu menguping sedikit tentang keputusan Horus dalam menghadapi Gera.
"Jika tidak mau menyelamatkan diri, setidaknya menghubungi pihak kepolisian dan militer untuk membantu, karena bagaimanapun itu adalah situasi darurat." ucap Revan dengan marah kepada keputusan Horus tersebut.
"Horus sangat bodoh dan tidak berguna." dengus Revan sambil mengangkat batu besar di depannya dan melemparkannya ke sebuah pemukiman kosong.
Brak!
Terdengar suara benturan keras antara batu dan seng yang sudah keropos akibat lemparan Revan yang sedang marah.
"Pihak kepolisian? mereka tidak akan membantu sama sekali, yang ada mereka juga ikut andil atas kejatuhan mas Horus." ujar Febi tidak terima dengan ucapan Revan tersebut.
"Jika kamu tidak mengerti dunia kejam bisnis dan mafia, maka diamlah!" ucap Febi membentak Revan.
Revan seketika sadar bahwa dia sudah kelewatan, Revan segera meminta maaf atas ucapannya yang mungkin menyakiti hati kakak iparnya itu.
Dalam tangisnya Febi mengatakan bahwa rombongan Clevera yang mendapatkan tugas khusus entah apa itu dari Horus dibantai oleh mafia Epsona, semuanya mati dibantai termasuk Clevera dan juga Nina.
Horus sendiri tewas ditangan Gera dan dirinya yang tidak ikut Clevera dan tinggal bersama Horus ditahan dan dipaksa untuk mengatakan letak semua harta yang Horus miliki dan disembunyikan disuatu tempat.
"Itulah alasan kenapa aku ditahan di penjara bajingan Boris itu, hiks." ujar Febi menangis sesugukan.
Febi menangis sejadi-jadinya ketika mengingat tragedi itu dan bagaimana dia disiksa dan dipaksa untuk memberitahu semua harta yang disimpan untuk kedua anak mereka, dalam tangisnya Febi seketika sadar akan sesuatu hal.
"Revan, kamu harus membantuku, kamu harus membantuku untuk menyelamatkan anak kami, keponakanmu yang berada dirumah ibu." pinta Febi setelah tak sengaja mengingat kedua anaknya yang berada dirumah ibunya.
"Keponakanku?" Revan tampak berpikir sedikit.
"Iya, Gera mengirim beberapa orang untuk menangkap Derrick dan Edi agar membuatku memberitahu dimana letak harta yang mas Horus tinggalkan untuk Derrick dan Edi." jelas Febi dengan cemas.
Revan langsung menyetujuinya setelah mengingat bahwa dia memiliki keponakan yang merupakan anak Horus, karena bagaimanapun Derrick dan juga Edi adalah anak kakaknya Horus dan juga cucu yang dirindukan sang ibu.
Mereka berdua akhirnya bergerak kembali dan segera menuju pelabuhan untuk keluar dari wilayah ibukota dan memesan tiket pesawat di kota seberang, semua itu dilakukan demi menghindari mafia Epsona yang memiliki pengaruh kuat di ibukota.
__ADS_1
Di kapal Pesiar menuju provinsi Je.
Revan dan juga Febi sedang menikmati segelas air jeruk di geladak kapal agar tidak menyebabkan kecurigaan dari orang lain, karena sebelumnya mereka samar-samar mendengar ada sekelompok orang yang sedang mencari dua orang yang terdiri dari Pria dan wanita saat diperjalanan keluar dari pemukiman padat.
"Kuharap mereka berdua baik-baik saja." gumam Febi dengan sendu dan sangat mengkhawatirkan kedua anaknya yang sedang berlibur tersebut.
Febi mengaduk air jeruknya dengan sedotan plastik dan tatapan mata yang kosong penuh dengan kesedihan dan kekhawatiran, melihat itu Revan menghela nafas pelan.
"Kakak ipar kamu jangan seperti ini, atau orang-orang akan mulai mencurigai kita." tegur Revan pelan.
Revan sudah mengawasi berbagai sudut kapal dan menemukan dua sampai lima orang yang mencurigakan dan seperti memperhatikan dia dan juga Febi, Revan khawatir mereka adalah anggota mafia Epsona yang sedang mencari mereka.
"Apakah aku tidak boleh mengkhawatirkan anakku?" tanya Febi tidak senang dengan suara bergetar.
Sontak teriakan tertahan Febi itu menarik perhatian semua orang yang sedang menikmati keindahan laut atau yang sedang mengobrol ria, karena kapal yang mereka tumpangi nyatanya kapal pesiar mewah.
"Maaf." ucap Febi lirih, lalu duduk kembali setelah menyadari dia menjadi pusat perhatian semua orang.
"Rokok?" tawar pria itu sambil menyodorkan sekotak rokok, Revan menolaknya dengan halus.
Pria itu melemparkan rokok itu dimeja dan kembali menghisap rokok ditangannya, lalu menghembuskannya secara perlahan.
"Boleh bergabung?" tanyanya dengan acuh sambil melihat Revan, lalu beralih melihat Febi.
Revan mempersilahkan pria itu duduk dan tidak keberatan sama sekali, begitupun Febi yang hanya mengangguk kecil.
"Perkenalkan namaku Kyle, aku seorang pengawal profesional." ucap Kyle membuka pembicaraan setelah jatuh dalam keheningan beberapa saat.
"Nona apa yang terjadi, kamu sepertinya tidak baik-baik saja?" tanya Kyle kepada Febi yang terlihat menyedihkan dengan mata sayu dan tidak bersemangat sama sekali.
"Maaf, istriku baru saja mendengar bahwa anak kami mengalami kecelakaan saat berlibur dirumah neneknya, jadi dia tidak bisa menyembunyikan kesedihannya." ucap Revan menjawab dengan raut wajah dan suara yang sangat sedih.
"Begitukah, aku ikut prihatin." ujar Kyle dengan prihatin.
__ADS_1
Disisi lain, disebuah gedung besar berlantai 2 dengan corak kuno dan memiliki pengawal yang mempersenjatai diri mereka dengan sebilah pedang. Gedung itu adalah markas utama organisasi Fajar Nusa yang menaungi pasukan pemburu iblis, gedung itu berada ditengah hutan belantara yang merupakan hutan lindung milik pemerintah ibukota.
Disebuah ruangan gedung terlihat seseorang pria tua yang membelakangi no 2 yang sedang berlutut dengan kepala tertunduk, pria tua itu memandangi pemandangan hutan lindung ditemani suara-suara kicauan burung.
"Kamu boleh pergi, tapi jika kejadian ini terulang kembali maka aku yang akan membunuhmu karena menyerang warga biasa." ucap pria tua itu dengan lembut tanpa menoleh melihat no 2.
"Mereka bukan warga biasa, mereka...." no 2 ingin protes.
"Aku tahu itu, tapi kita tidak bisa menangani dua hal diwaktu yang bersamaan." sela pria tua itu dengan lembut.
No 2 mengerti maksud pria tua itu, namun dia tetap tidak bisa berdiam diri jika ada beberapa warga yang menghilang dan disekap oleh mafia Epsona atau kelompok-kelompok radikal yang suka berbuat onar lainnya.
"Selain itu menangani kelompok-kelompok itu adalah tugas pihak yang berwenang, bukan tugas kita, kuharap kamu mengerti." tukas pria tua memberi nasehat kepada no 2 yang tertunduk menahan kemarahannya.
"Baik, aku mengerti." ucap no 2 akhirnya setelah menggertakan gigi, lalu berlalu pergi dari kamar pria itu dengan membanting pintu.
Setelah no 2 pergi pria tua itu kedatangan seseorang yang berpakaian serba hitam dengan pedang dipunggung seperti seorang ninja yang terlatih, pria itu berlutut dengan kedua tangan menyatu di depan kepalanya memberi hormat.
"Siapa yang mengambil tugas itu?" tanya pria itu dengan datar tanpa ekspresi sambil jalan menuju keluar ruangan.
"Han si tangan besi." jawab ninja itu sambil berlutut memberi hormat.
Ninja itu berkeringat dingin ketika pria tua itu melewatinya dan keluar ruangan tanpa sedikitpun berkomentar tentang jawaban yang dia berikan.
30 menit berlalu dalam keheningan, ninja itu tetap berlutut memberi hormat walaupun orang yang mendapatkan hormatnya sudah tidak ada di ruangan tersebut.
Kriek!
Suara nyaring pintu yang dibuka dengan kasar memecahkan keheningan yang sudah hampir 30 menit menemani sang ninja, lalu terdengar langkah kaki lembut menuju kearahnya dan melewatinya.
"Kamu boleh pergi." ujar pria tua itu sambil menyeruput kopinya sambil memandangi pemandangan diluar gedung melalui jendela yang sengaja di buat.
"Baik, permisi." ujar ninja itu dengan suara lembut selembutnya, lalu menghilang dalam sekejap meninggalkan debu.
__ADS_1