
Di pagi hari yang cerah Revan memandang ke kejauhan sambil menyesap kopi panas di ruang VIP hotel lantai 15, pemandangan ibukota begitu indah dan ramai jika dilihat dari lantai 15 hotel tersebut. Revan begitu menikmati kopi panasnya setelah dua hari penuh berusaha menutupi kasus pemerkosaan yang dia lakukan kepada pelayan hotel yang menghabiskan begitu banyak energi dan juga tetes demi tetes darah akibat penggunaan mata iblis.
Revan yang berwajah pucat karena kekurangan darah itu tersenyum penuh arti ketika melihat Rami seorang pencopet yang mencopet dompetnya sedang masuk kesebuah gang sambil menenteng belanjaan.
"Mata iblis ini sangat berguna." gumam Revan senang, lalu kembali beristirahat untuk memulihkan dirinya yang kelelahan dan kehabisan darah.
"Kuharap darahku yang hilang segera pulih kembali dalam beberapa jam ini, karena aku sudah rindu dengan wanita itu." gumam Revan sambil memejamkan mata untuk tidur agar cepat pulih dari kekurangan darah akibat penggunaan berlebihan mata iblis.
Revan pada awalnya khawatir menggunakan mata iblis karena takut mati kehabisan darah, namun ketika tahu bahwa sel darah merah memiliki kemampuan memperbanyak diri yang luar biasa, Revan tidak khawatir lagi menggunakan mata iblis meskipun bayarannya Revan harus beristirahat agar darahnya kembali normal seperti sedia kalah.
Empat jam berlalu.
Revan yang tidur pulas membuka matanya dan segera melakukan peregangan, lalu membersihkan diri dan mandi agar kembali segar.
"Saatnya kamu membayar kebodohanmu Rami." gumam Revan dengan senyum psikopat, Revan saat ini terlihat sangat segar bugar dan tidak pucat lagi karena mendapat istirahat yang cukup.
"Oh, aku tidak boleh menunjukkan wajah ini..., hm." ucap Revan pada dirinya sendiri sambil mengubah raut wajah psikopatnya.
"Hm, ini baru ok." ucap Revan pada dirinya sendiri dengan senyum ramah dan bersahabat.
Revan kini terlihat seperti pria terhormat yang selalu tersenyum dan ramah kepada orang lain, berbanding terbalik dengan wajah psikopatnya yang begitu suram dan menakutkan beberapa waktu lalu.
Revan yang memiliki tinggi badan 179 cm, wajah tampan berkulit sawo matang, bentuk tubuh yang sixpack, dan dibalut setelan jas mahal itu menjadi pusat perhatian semua orang dimana wanita menatap Revan dengan tatapan kagum, sementara laki-laki menatap Revan dengan tatapan iri.
"Wah... gantengnya." ujar seorang perempuan sambil melepas gandengan tangan pacarnya melihat ketampanan Revan.
"Apa dia seorang artis? dia begitu tampan dan gagah." ujar wanita lainnya dengan tatapan penuh hasrat.
"Dia seorang pangeran, dia pangeran berkuda putihku." ujar wanita lainnya yang terkesima dengan senyum Revan kepadanya.
Para laki-laki merasa sangat iri sekaligus marah kepada Revan, karena Revan menjadi pusat perhatian para wanita.
"Hanya bermodal wajah tampan, tidak akan bisa menghidupimu." ujar seorang pria ketus kepada pacarnya.
Pacar pria itu langsung memandangnya tajam, seakan tidak terima idola atau orang yang dia sukai dihina oleh orang lain.
"Setidaknya dia lebih baik darimu yang berlemak dan wajah berminyak." tegur pacar pria itu ketus.
Wanita itu segera berlari dan bergabung dengan kerumunan wanita yang mengelilingi Revan untuk berkenalan sambil meminta nomor kontak Revan.
"Kamu...," pria yang bernama Geri sangat marah dengan tingkah pacarnya, Geri langsung menatap Revan dengan penuh kebencian.
__ADS_1
"Kamu akan menerima akibatnya, dasar pria mesum yang berwajah tampan." ucap Geri geram dan segera pergi menjauh dari Revan yang sedang dikerumuni para wanita.
Ok..., lanjut.
Reni dan Rami sedang menyantap makanan sambil mengobrol untuk membahas masa depan mereka di ibukota.
"Jadi kakak ingin pindah ke kota Bangyu untuk kuliah sambil kerja disebuah restoran teman kakak?" tanya Rami sambil menggigit tahu yang disantan.
Tahu adalah makanan favorit dua kakak beradik itu selain tempe dan juga ikan asin, karena ketiga makanan itu adalah makanan yang terjangkau oleh mereka berdua.
Reni mengangguk sambil tersenyum kecil menanggapi pertanyaan Rami adiknya tersebut, Rami berhenti makan dan minum segelas air.
"Bagaimana apakah kamu ingin ikut dengan kakak?" tanya Reni dengan senyum.
"Baiklah kak, aku akan ikut kemana kakak akan pergi, lagipula hanya kakak satu-satunya saudaraku di ibukota ini." jawab Rami dengan senyum kecil.
Tentu saja Rami sangat mendukung niat kakaknya itu untuk pindah ke kota Bangyu untuk melanjutkan kuliahnya sambil bekerja paruh waktu di sebuah restoran teman kakaknya tersebut.
"Bagus, kita akan segera pindah dalam dua hari lagi." Reni sangat senang karena adiknya itu mau diajak pindah ke kota Bangyu.
Rami pamit keluar untuk bekerja, karena Rami memiliki pekerjaan sebagai pelayan restoran selain pekerjaan sampingannya yang merupakan pencopet.
"Huh, ini rasanya sedih karena akan berpisah." ujar Rami sambil menghembuskan nafas berat.
Rami yang jalan sendirian di sebuah gang sepi dihadang oleh sekelompok orang yang berpakaian preman dengan baju robek sana sini, wajah mereka semua terlihat bengis.
"Yoo sayang, apa kabarmu?" tanya seorang pria yang berambut mohawk dengan warna kuning mencolok.
Pria itu bernama Hewe pacar Rami dua bulan lalu, mereka putus setelah Hewe menjual Rami kepada seorang pria tua ketika mabuk berat dan menjadi penyebab kesucian Rami direnggut secara paksa.
"Hewe...," Rami sangat marah dan membenci pria berambut pirang tersebut, karena pria itulah kesuciannya direnggut pria paruh baya yang berbadan gemuk dan berminyak.
Tiba-tiba seorang pria ditendang keluar dari kerumunan preman tersebut, pria itu ternyata pacar Rami saat ini.
"Rami semenjak kamu tidak perawan lagi, seleramu begitu rendah dengan berpacaran dengan pria mata empat ini." ujar Hewe mengejek sambil menginjak dada pacar Rami saat ini yang memakai kacamata sebagai alat bantu melihat.
"Apa maumu Hewe?" tanya Rami dengan marah.
Rami tidak bisa melupakan wajah tak bersalah Hewe ketika dia diperkosa oleh pria paruh baya tepat di depannya, padahal Rami sudah meminta tolong kepadanya.
"Haha, apa mauku?" Hewe tertawa menanggapi pertanyaan Rami tersebut.
__ADS_1
"Aku ingin kamu melayani seorang teman, hanya itu saja, apakah kamu bersedia sayangku?" ujar Hewe tak tahu malu.
Rami sangat marah mendengarnya, dia tidak menyangka pria yang pernah dia cintai memintanya untuk melayani pria lain.
"Kamu...," Rami sangat marah sampai tubuhnya bergetar menahan kemarahannya.
"Aku tidak akan pernah melakukan itu, aku akan membalas perlakuanmu kepadaku saat itu hari ini." ujar Rami dengan meraung marah.
Hewe dan teman-temannya tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Rami yang ingin membalasnya, namun sedetik kemudian mereka terdiam dengan kepala yang bergelinding di jalanan.
"Aku sudah lama mencarimu Hewe, namun siapa sangka kamu malah datang mengantar dirimu sendiri kehadapanku." ujar Rami dingin sambil menggerak-gerakkan jarinya yang terhubung ke benang tajam yang memenggal kepala teman-teman Hewe.
"Apa itu?" tanya Hewe dengan terbata-bata ketika melihat darah disebuah benang yang terhubung ke jari-jari Rami.
"Apa ini? hahaha." Rami tertawa psikopat mendengar pertanyaan konyol Hewe kepadanya.
Dua bulan lalu ketika Rami berniat bunuh diri karena terpukul akibat pemerkosaan yang dia alami, secara kebetulan bertemu dengan dukun yang membimbingnya menjadi dukun juga untuk membalas perlakuan bejat Hewe kepadanya.
"Ini adalah hasil dari kejahatanmu, Hewe!" teriak Rami sambil memotong tangan Hewe dalam sekali lambaian tangan.
"Ah...," teriak Hewe kesakitan sambil berguling-guling.
"Haha," Rami menyiksa Hewe dengan kekuatan iblisnya hingga Hewe berharap dibunuh.
Dua jam berlalu dalam penyiksaan, Hewe begitu tersiksa, namun Rami begitu menikmati penyiksaan yang dia lakukan.
"Bagaimana sayang? apakah menyenangkan?" tanya Rami sambil mengelus pipi Hewe dengan lembut.
"Ugh..., bunuh... saja... aku." ucap Hewe dengan terbata-bata meminta agar dibunuh oleh Rami.
"Apa sayang?" tanya Rami sambil meremas jantung Hewe hingga membuat Hewe begitu tersiksa.
"Argh...., bunuh... aku... ******!" teriak Hewe sambil muntah darah menahan sakit akibat remasan Rami kepada jantungnya.
Hewe sangat menyesali keputusannya untuk membiarkan Rami pergi ketika mereka putus, seandainya dia tahu Rami akan membalasnya seperti ini dia akan langsung membunuhnya dihari ketika mereka putus.
"Haha, nikmati saja rasa sakit ini, rasa sakit ini tidak seberapa dibanding penderitaan yang kuterima akibat dirimu, bajingan!" ujar Rami sambil melempar jantung Hewe ke perutnya dan pergi begitu saja.
Beberapa anjing liar berdatangan dan mulai menggigit mayat para preman yang sudah dipotong cincang oleh Rami, Hewe sangat ketakutan melihat situasi tersebut, terlebih ada beberapa anjing liar yang menujunya, namun Hewe tidak bisa melakukan apapun selain menyesali perbuatannya kepada Rami dua bulan lalu.
"Sayang, terimakasih karena menjadi tumbalku untuk bulan ini." ucap Rami dengan lembut dan tersenyum kepada Hewe yang kesakitan karena digigit beberapa anjing liar.
__ADS_1