
Namaku Ardi Saputra. Usia 18 tahun. Terlahir dari kalangan biasa, dan bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran.
Hidupku bebas. Seperti remaja pada umumnya, aku berpacaran dengan gadis yang kusukai.
Tapi ada seorang gadis yang begitu memperhatikan ku, dengan terang terangan menyukai ku. Semua orang pun mengetahui nya. Ia teman satu profesi ku. Entah mengapa aku begitu risih dengannya. Wajahnya lumayan, tidak terlalu cantik dan tidak jelek juga.
Wajahnya terbilang biasa, ia memiliki wajah manis dengan senyum ramahnya. Itu nilai plusnya. Dia selalu muncul di berbagai sosial mediaku. Sering mengirim pesan singkat. Bahkan kadang menelpon. Ketika kami sudah selesai bekerja.
Gadis itu membuatku risih. Dia begitu terobsesi padaku sepertinya. Namun aku tak terlalu peduli padanya, dan terkesan mengabaikannya. Mungkin itulah yang membuatnya penasaran dengan ku.
Pernah beberapa kali aku memblokir sosial medianya, termasuk nomor ponsel. Akan tetapi dia tak menyerah, lalu membuat akun dan nomor baru. Ia menanyakan kenapa aku melakukannya. Aku tak menjawabnya. Tak enak jika berterus terang bukan, itu akan menyakiti nya secara nyata. Biarlah ia berfikir sendiri.
__ADS_1
Ku akui memang aku sedikit mengabaikannya. Tak seperti pada teman wanitaku yang lainnya. Entahlah aku tak tahu. Aku hanya tak ingin ia tersakiti olehku. Aku tak ingin berpacaran dengan teman seprofesi ku. Itu akan mengganggu pekerjaanku, merepotkan. Hanya sekedar berteman dan bercanda saja itu sudah cukup bagiku.
Tapi sepertinya ia tak pernah menyerah dengan perasaanya. Ia juga mengatakan perasaannya dengan jujur padaku. Aku sedikit termangu mendengarnya. Antara menolak atau menerima? Sedikit membuatku dilema. Aku risih padanya tapi kasihan jika menolaknya. Lalu ku putuskan dengan lembut, menolaknya secara halus, memberinya pengertian agar ia mengerti diriku tak menginginkannya.
Ia menangis. Aku pun kasihan padanya. Tapi itu yang terbaik. Dari pada ia terus mengejar ku, lebih kasihan lagi.
Setelah percakapan terakhirku dengan nya. Aku sering menelpon teman wanita ku yang satu kost dengannya. Menanyakan bagaimana kabarnya. Apakah ia depresi atau semacamnya? aku selalu menanyakannya.
Tanpa ku sadari mungkin ia lebih terluka lagi.....
Namaku Kezia Larissa. Usia ku 18 tahun. Aku bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran. Dan ya, aku menyukai teman satu profesi ku, Ardi Saputra namanya.
__ADS_1
Aku selalu ingin tahu tentangnya. Selalu menstalking sosial medianya. Mengirim pesan singkat dan kadang menelponnya. Bukannya tak tahu malu, tapi mau bagaimana lagi hati ini menyukainya dan ingin lebih dekat dengannya.
Aku selalu mencari perhatian nya. Aku tidak suka ia berpacaran dengan gadis lain. Aku meng'klaim dia milikku. Padahal kami tak ada hubungan apapun. Cinta bertepuk sebelah tangan. Ironis bukan? heuh tapi aku tak peduli. Aku terlalu menyukai nya dan bukan sekedar itu, kurasa ia cinta pertamaku.
Seperti kata orang, cinta pertama itu menyakitkan dan tak akan menjadi milikmu. Tapi aku tak percaya dan ingin tahu.Siapa yang tahu dia adalah jodohku? Ya aku selalu berpikir positif. Entah positif,optimis atau obsesi dan terlalu berharap aku tak peduli.
Intinya dia cinta pertamaku.
Sedihnya ia tak pernah melirikku. Selalu mengabaikan ku. Tak tahu mengapa ia berbeda terhadap ku di banding teman teman wanitaku yang lainnya. Mereka bisa bebas bercanda tawa dan berdekatan. Itu membuatku iri. Dan semakin bersemangat dengan sikap cueknya. Kupikir mungkin ia juga menyukai ku tapi tak ingin orang tahu.
Dan ternyata itu hanya pemikiran ku saja. Ia memang sama sekali tak tertarik padaku. 'Hu hu hu menyedihkan sekali hidupmu Kezia' ucapku dalam hati.
__ADS_1
Entahlah sampai kapan perasaan ku bertahan padanya. Hanya waktu yang bisa menjawab nya....
Bagaimana kisah Ardi dan Kezia?