
Terdengar suara merdu seorang pria yang sedang melantunkan ayat-ayat Al-Qur'an dan akan membuat siapa saja merasa damai bila mendengarnya .
Tampak sosok pria Sholeh nan tampan duduk bersila di masjid kecil minimalis yang ada dirumah itu.
Mata terpejam dengan masih berfokus melantunkan segala ayat-ayat indah itu keluar dari mulut sensualnya tanpa melihat apapun yang ada diruang itu.
Fokus dia hanya menenangkan kegundahan hati yang akhir akhir ini membuat tak nyaman.
Dia merasa hati akan tenang bila mulutnya selalu mengeluarkan lantunan ayat-ayat suci itu.
" Assalamualaikum..."
Terdengar ucapan salam dari seorang wanita, pria itu menghentikan dan mengakhiri bacaannya.
Mata tajam nan teduh itu segera terbuka sambil membalas salam dari wanita diluar, membenarkan posisi duduk dan peci putihnya yang agak miring karena tergeser dinding tadi saat bersandar.
" Maaf, Gus mengganggu panjenengan.."
Panjenengan ( kamu/dirimu).
Ucap wanita berkerudung hitam itu dengan gugup merasa tak enak hati karena mengagu Gus nya sedang nderes ( mengaji ). Wanita itu salah satu abdi ndalem di keluarga kyai.
Gus itu hanya mengangguk halus tanpa menatapnya, menunggu wanita itu berbicara.
" Emmm ... anu...anu...gus panjenengan dipanggil Abah yai." Dengan gugup dia mengutarakan tujuannya.
Sungguh dia sangat gugup sekarang ini, memandang pun dia tak berani, saat berpapasan dengan pria didepannya itu aja akan begitu grogi apalagi dalam posisi sekarang, tidak cuma dia sebenarnya yang akan merasakan begitu gugup bila dalam posisi sekarang, dia jamin semua perempuan pun akan sama kaya dirinya. Akan merasa kecil, segan, dan terpesona dengan pria matang anak kyai yang mempunyai julukan Gus dingin itu.
Tapi walaupun dingin pria itu tidaklah kejam, dia hanya sangat jarang mengeluarkan suara emas nya itu kecuali bila sedang membaca Al-Qur'an atau berbicara dengan orang terdekat.
" Terimakasih."
Ucap pria itu dengan suara pelan tapi bisa membuat merinding siapa saja yg mendengarnya, tak terkecuali wanita didepannya yang sedari tadi hanya bisa menunduk.
Bau harum parfum bercampur harum mask tubuhnya begitu semerbak di Indra penciuman wanita itu saat pria itu berjalan berpapasan meninggalkan masjid kecil itu, yang bisa membuat perempuan mana saja berfantasi liar bila tak kuat iman.
__ADS_1
Sejenak gadis itu begitu terperosok kejurang dosa karena sedikit otaknya tak dapat dikontrol.
"Astaghfirullah....ya Allah... ampuni dosa hambamu yang sudah lancang membayangkan yang tidak semestinya."
Gadis itu tersentak kaget saat kesadarannya kembali ke jalan lurus.
Segera menenangkan hatinya dengan menghembuskan nafas pelan, dan mengusir pikiran kotor dari otak kecilnya itu. segera melangkah keluar masjid dengan terburu-buru karena pekerjaan sudah menanti.
Sedangkan pria tampan tadi sudah berada di ruang tamu didepan orang yang memanggilnya.
" Assalamualaikum...ada apa Abah?."
Ucapnya to the point, sambil duduk di depan Abah dan imminya yang sedang menatap dirinya.
" Waalaikum salam."
" Ada apa le, apakah ada kegundahan dihatimu yang membuat kamu tak keluar dari masjid dari kemarin selain untuk bersih dan makan?"
Ucap ummi sambil mendekati anak sulungnya yang mereka rasa sedang tak baik baik saja, diusap pundak anaknya dengan sayang. Ini anaknya...anak yang dulu ia kandung sekarang sudah sebesar ini dan sangat tampan serta Sholeh. Tak henti hentinya ummi bersyukur mempunyai putra yang begitu membanggakan.
" Ada apa Al, abbah tau kamu sedang tak baik baik saja."
Timpal Abah yang dari tadi begitu gemas dengan putranya itu tak menjawab pertanyaan dari istrinya, hanya terdiam dan menunduk.
Ya...pria didepannya itu bernama Muhammad Alwi Husein, anak yang begitu membanggakan dalam segala prestasi atau keimanannya.
Anak pertama dari dua bersaudara dari pasangan kyai besar di kotanya yang bernama Muhammad Husein dan ummi Fatimah.
Dia mempunyai seorang adik perempuan yang sudah menikah bernama Khoirun Nisa biasa dipanggil Nissa dan sudah membuat 1 anak berumur 4 tahun.
Alwi itu panggilannya untuk pria menawan itu, dengan postur tubuh tinggi besar hidung mancung, mata tajam nan teduh, alis begitu tebal dan berkulit kecoklatan berjambang tipis di wajahnya. Satu kata yang mendeskripsikan untuk pria itu yaitu sangat tampan.
Tapi sayang diumur yang begitu matang 30 tahun dia belum juga mempunyai tambatan hati, tak ada satu gadis pun yang berhasil memasuki hatinya.
Bukan karena dia tak normal,. dia sangat normal...!!!
__ADS_1
Dia hanya sedang menunggu satu nama yang sudah disiapkan oleh Allah SWT, gadis yang berhasil menggetarkan hatinya.
Berulang kali orang tuanya berusaha mengenalkan Putri putri sahabatnya yang juga seorang anak kyai besar, tapi pria itu rupanya tak menggubrisnya. Dan itu membuat Abah dan ummi begitu resah dengan jodoh putra sulungnya yang tak kunjung nampak.
Kedua orang tuanya hanya pasrah dan mendukung apapun yang akan dilakukan putranya kedepannya asal tidak menyimpang dari akidah dan tuntunan agama yang ia junjung.
" Bah...Al sering bermimpi."
Ucap pelan...sangat pelan sampai hanya terdengar hanya bisikan saja, tapi abbah dan ummi dapat mendengar dengan jelas apa yang diucapkan putranya itu.
" Mimpi anak perempuan lagi??." tanya Abah
Al hanya menggeleng kepala pelan, dia sendiri juga tak tau apa maksud dari setiap mimpi yang selalu muncul dari dia memasuki umur balig', dia selalu bermimpi memangku sekarang anak kecil sangat cantik dengan rambut keemasan dan bola mata begitu memikat.
Tapi tadi malam begitu beda mimpi itu, walaupun masih sama bermimpi seorang perempuan.
" Al bermimpi bertemu dengan seorang gadis bi, dia bilang kalau Al harus menunggu dirinya. Seperti ucapan yang selalu anak perempuan ucapkan. Al jd bingung bi."
Abah dan ummi termenung mendengar ucapan putranya itu, dia mengucapkan subhanallah didalam hati. Mereka yakin bahwa yang sering muncul dalam mimpi putranya itu akan menjadi warna di pesantren ini.
Abah tersenyum, melangkah mendekat putranya, tepukan halus di bahu memberi tanda agar putranya siap untuk melangkah maju.
" Jodohmu sudah dekat."
Ucap abbah ambil melangkah menuju ke masjid karena sudah terdengar azan yang di lantunkan oleh salah satu santrinya.
" Sudah le...Ayo kita ke masjid dulu nanti kita ngobrol lagi." Ajak ummi pada putranya
Mereka segera melangkah menuju untuk menunaikan sholat magrib. Dan diimami oleh Abah yai, karena ia tau putranya sedang tak mau berdiri dibarisan shaft depan.
**************
maaf banyak typo yaa...
ingat ini bukan novel yang islami yang penuh dengan dalil dan hadist yaa...ini cuma novel yang berlatarbelakang pesantren dan segala penghuninya. Jadi kalau banyaknya kesalahan atau ada kurang pas mohon dimaklumi ya... apalagi typo bertebaran.
__ADS_1
happy reading....