MENUNGGU JODOH

MENUNGGU JODOH
11


__ADS_3

" queen... kenapa kamu malah kuliah di Indonesia? kenapa gak cari kampus yang lebih unggul, di Harvard atau Oxford mungkin??"


tanya seorang gadis manis berlesung pipi yang sedang duduk paling pojok diantara 4 para gadis cantik itu bernama Jessica.


ia sangat penasaran pada gadis super cantik yang bukan asal dari peribumi.


tak habis pikir, dirinya aja pengen kuliah diluar negri tp kendala ekonomi, ehh malah gadis itu memilih berkuliah di Indonesia,


ya walaupun kampus yang dipilih salah satu kampus terbaik se-Indonesia. tapi kalau disuruh pilih semua orang pasti akan memilih kampus selain Indonesia.


segerombolan para gadis itu sekarang sedang berada di kantin, massa orientasi sedang break sejenak karena hari sudah memasuki waktu ishoma.


Queen baru sekarang merasakan mempunyai teman dan sahabat yang tak memandang kasta atau kekayaan, karena teman baru queen itu tak ada yang tau kalau queen seorang putri mahkota dari keluarga penguasa.


ia begitu menutupi kenyataan itu dengan rapat, karena ia tak mau para temannya begitu sungkan atau segan dirinya. ia lebih suka merakyat seperti ini, dengan bebas memilih apapun atau mengikuti aturan apapun.


Mempunyai teman seperti Yola, Jesica, Airin, dan indah itu sangat Queen syukuri, selain satu fakultas kedokteran mereka juga sangat ramah dan suka berteman. kedepannya ia yakin mereka berlima akan jadi sahabat dikala senang maupun duka.


mereka ber lima sekarang sedang menyantap hidangan yang sudah mereka pesan dari penjual di kantin.


Queen yang sedang mengunyah makanan favorit penduduk Indonesia alias bakso itu pun berhenti, melihat teman satu persatu yang sedang menatap dirinya, menunggu jawaban dari mulutnya.


ia tersenyum geli melihat para teman barunya itu menunggu jawaban dengan muka bermacam expresi.


" yang paling utama aku pengen bebas, selanjutnya karena menurutku Indonesia negara yang paling ingin aku kunjungi." jawab queen setelah menelan olahan daging bulat kenyal itu.


" kenapa begitu? padahal luar negeri lebih indah dari Indonesia." tanya Yola, sambil menatap wajah queen, tak hentinya dia bosen kalau memandang wajah cantik itu.


yang lainnya mengangguk mengiyakan ucapan Yola, dari yang pernah mereka lihat di beberapa situs internet atau dari sosial media mereka merasa memang luar negeri lebih indah dari Indonesia.


" Indonesian masih sangat alami, tak banyak bangunan tinggi ataupun polusi udara."


" tapi di jepang juga tak banyak polusi udara." kata indah yang sedari tadi hanya fokus pada makanan favoritnya.


" iya juga...tapi entah lah... Indonesia adalah negara yang paling aku suka setelah negaraku." jawab queen santai sambil melanjutkan makannya.


" udah yuk...kita sholat." ajak Airin setelah menghabiskan bakso di mangkoknya, ia sedari tadi hanya menjadi pendengar dari para teman barunya itu, ia terlalu fokus dengan makanan didepannya. karena memang ia tak terbiasa makan sambil berbicara, takut tersedak pikir dia.

__ADS_1


" ehh bentaran ihh....aku belum selesai ...!" kata yola


" udah ayok... keburu abis waktunya, lagian tinggal kuah aja mau dimakan apanya lagi sih."


" ayokk tinggalin aja, Yola belum selesai makan kalau mangkoknya juga belum abis." kata Airin sambil menarik tangan queen dan indah untuk meninggalkan kantin menuju masjid kampus.


Jesica terkekeh melihat Yola masih meminum sisa kuah bakso yang sepertinya masih sayang kalau di tinggalkan. ia melangkah meninggalkan Yola dan mengejar langkah tiga temannya yang lain yang sudah berjalan.


" ehh tunggu...!"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=≠\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


" hari ini cukup sampai disini, tugasnya saya tunggu sampai nanti malam harus sudah ada di meja ruang saya!, terimakasih atas perhatiannya wassalamualaikumWt.wb..."


" baik Gus, waalaikum salam Wt.wb


setelah membereskan buku yang baru saja ia gunakan untuk mengajar, ia bergegas meninggalkan kelas menuju ruangannya.


berjalan dengan langkah tegap, aura dingin mata tajam menatap kedepan, tak menghiraukan orang yg menyapa padanya.


helaan nafas panjang dan berat ia hembuskan, menandakan ia begitu bingung dengan langkah apa yang akan ia ambil.


ia tak mungkin menyerah begitu saja saat hati sudah bertaut kuat pada gadis pujaannya, tapi disisi lain ia juga tak bisa mengelak dengan musibah yang sedang menimpa keluarga sang adik.


terbayang wajah ayu queen di pelupuk matanya dengan senyuman menawan.


" apapun yang terjadi kamu hanya akan jadi milikku queen, aku akan perjuangkan cintaku ini. masa bodo dengan gadis tak tau diri itu." gumam Gus Alwi


" dasar gadis tak tau diri ...!! bisa bisanya siapa yang melakukan orang lain yang dipaksa tanggung jawab." lanjutnya pelan sambil masih terus melangkahkan kakinya.


" assalamualaikum...Gus." sapa ustadz Fahri saat keduanya bertemu di lorong menuju ruang asatis.


" waalaikum salam, baru selesai mengajar ustadz?"


" ia Gus,,,"


mereka berdua berjalan beriringan sambil terus mengobrol ringan. dua pemuda tampan itu sungguh pemandangan yang menyejukkan siapapun yang melihatnya.

__ADS_1


setelah dua pemuda tampan yang menjadi ikon pemandangan indah para santri itu sampai di ruangan guru pun langsung mengucapkan salam.


banyak para ustadz dan ustadzah yang berasa di ruang itu , sedang ngobrol disela sela istirahat.


" assalamualaikum...''


" waalaikum salam,,," jawab para ustadz dan ustadzah yang berada disana.


" wuihh dua laki laki tertampan di pesantren jalan bareng, pasti bikin geger para ukhti nih!" celetuk ustadz Maulana saat melihat dua temanya.


" CK ! biasa aja." jawab ustadz Fahri,


Gus Alwi hanya diam saja sambil berjalan menuju meja kerjanya, di teguknya teh manis miliknya yang tinggal setengah gelas hingga tandas.


" Alhamdulillah..." ucapnya sambil meletakkan gelas kosong ditempat semula lalu duduk di kursi empuk miliknya.


menyenderkan kepalanya ke sandaran kursi, kepala menengadah keatas melihat plafon putih diatasnya.


semua orang yang berada diruang saling pandang menandakan saling bertanya. kemudian pandangan semuanya mengarah ke ustadz muda yang tadi masuk bersama gusnya.


ustadz Fahri yang dipandang semuanya pun hanya menggedikkan bahunya bertanda tak tau apapun.


ia memang tak tau apapun, sedari tadi gusnya juga tak banyak bicara, diperjalanan menuju keruang pun hanya dirinya yang aktif bertanya, Gus tampan itu sesekali hanya menjawab itupun singkat.


" Ada apa Gus?? ada masalah?? cerita sama kita Gus, siapa tau kita bisa bantu." ucap ustadz Maulana yang sangat prihatin hanya melihat wajah sahabat kecilnya itu, ia sangat tau ada masalah yang sedang dipikirkan.


Gus Alwi hanya tersenyum sambil memperbaiki duduknya, menatap satu persatu rekan kerja nya.


membantu?? ia yakin tak ada yang sanggup membantunya. dia sendiri saja merasa tak sanggup.


" tak ada apa apa, jangan dipikirkan... saya hanya merasa tak enak badan saja." ucap Gus Alwi sambil berdiri dari duduknya setelah menutup laptopnya.


" saya pulang dulu ya... assalamualaikum." lanjutnya sambil melangkah keluar dari ruangan itu dengan laptop yang berada di dekapannya.


yang lain hanya pasrah, sang Gus nya tak mau berbagi masalah dengannya, itu berarti masalah nya sangat pribadi dan tak mungkin orang lain bisa membantu.


jawaban salam dari semua orang diruangan itu sambil masih memandangi punggung kokoh Gus nya yang terus berjalan meninggalkan mereka.

__ADS_1


__ADS_2