MENUNGGU JODOH

MENUNGGU JODOH
16


__ADS_3

" ohh... makanya sekarang kamu berhijab itu karena laki laki itu to." kata Jesica sambil manggut-manggut setelah queen selesai bercerita panjang lebar.


" tidak juga...niat itu emang sudah ada di hatiku, cuma belum terlaksana saja." sanggah queen cepat.


queen tak ingin para temennya salah paham berhijab demi seorang pria, yaa walaupun salah satunya karena itu tapi yang utama memang dalam hati sudah mempunyai niatan berhijab walaupun tanpa harus diminta oleh seorang.


" ehh.... ngomong ngomong ganteng gak queen dia." tanya Yola dengan muka serius, ia menatap lekat wajah queen karena saking penasarannya.


queen hanya tersenyum malu malu serta mengangguk kecil, warna merah sudah menjalar dari wajah sampai ke telinga.


" kamu serius queen?? kita kan masih terlalu muda ...umur kita baru 19 tahun..itu terlalu muda buat perempuan berumah tangga." tanya Airin, yang masih tak habis pikir, temannya begitu gampangnya menerima laki laki untuk menjadi suami.


" queen baru mau 17 tahun tau,,, dia tuh masih bocil. kata indah sambil mengunyah pentolan siomay.


queen merogoh tasnya yang berada di samping tanpa menjawab pertanyaan Airin, karena mendengar suara bunyi pesan masuk di smartphone miliknya.


ia segera membuka pesan itu. mata Belo nan indah itu membulat sempurna. jantung berpacu hebat.


ia menatap satu persatu temannya yang sedang menatap dirinya yang nampaknya penasaran dengan expresi dirinya barusan.


" kenapa.... kenapa...!! tanya Yola heboh, ia merasakan penasaran, cemas dan gemas jadi satu pada gadis bule depannya itu yang hanya malah plonga plongo, dan sialnya malah tambah cantik. entah sisi jeleknya mungkin sedang bab.


" kenapa queen....!!! ngomong dong... ngomong...!!" gemas teman lainnya yang juga tak sabar


queen menunjukkan pesan yang di smartphone itu,


para gadis kepo itu pun langsung mengalihkan matanya ke benda persegi panjang itu dan membacanya.


tapi mereka merasa tak mengerti, pesan dari siapa dan apa maksudnya.


queen yang tau para temannya itu tak paham pun menerangkan.


" ini mas Alwi...dia lagi menuju ke bandara." ucapnya pelan, ia masih memegangi dadanya, karena hatinya berdebar, antara cemas, takut dan senang jadi satu.


" terus??"


" mas Alwi akan ke negaraku, dia mau menemui Ded dan mom." ucap queen pelan, sambil membalas pesan Gus Alwi, yang mengatakan hati hati dan doa semoga kedua orangtuanya tidak menyulitkan.


ke empat gadis itu pun termenung, otak kecil mereka sedang bekerja keras mencoba menelaah ucapan temannya barusan.


sampai ke empat otak gadis cantik itu sudah menemukan satu jawaban yang sama.


" jadi kamu sebentar lagi akan menikah... terus mengandung lalu mempunyai anak dong??" celetuk Jesica

__ADS_1


" ehh...tidak...kan aku masih 18 tahun, itu pun masih belum genap... mungkin menunggu umurku 20 tahun." jawab queen dengan wajah pucat.


dia baru berfikir, bener juga kata temannya itu, kalau sudah meminta restu berarti kelanjutannya adalah menikah, setelah menikah mempunyai anak.


queen menggeleng kepala cepat mengenyahkan pikiran yang bikin takut itu. ia masih terlalu muda untuk memiliki suami apalagi mempunyai anak.


ia hanya berdoa semoga Gus Alwi mau menunggu sampai dirinya berumur 20 tahun.


" aku sii gak yakin...secara Gus Alwi itu umurnya sudah sangat matang, terus anak kyai lagi... pasti dia tak mau menunda hal seperti itu." kata indah


sejenak queen menjadi sedikit menyesal menerima pria Sholeh itu, tapi sejujurnya ia sudah sangat menyukai ,malah bisa jadi sudah sangat mencintai pria itu sejak pertemuan pertama di toko buku.


jantung selalu berdebar kencang saat mereka bersama, jangankan bertemu, hanya dengan mengucap namanya saja dia sudah begitu berdebar.


queen menghela nafas panjang, ia akan pasrah. bila jodoh sudah dekat ia tetap akan syukuri dan bila masih jauh atau lama ia akan merasa sangat senang.


" aku pasrah." ucapnya pelan


mereka mengangguk kepalanya pelan mendengar jawaban gadis cantik itu, mereka sebagai teman dan sahabat akan mendukung apapun untuk kebahagiaan queen.


karena waktu sudah sangat sore, mereka memutuskan untuk pulang kerumah masing-masing.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


dimobil mewah berukuran besar itu melaju dengan kecepatan sedang menuju ke bandara Yogyakarta, bandara besar masih dalam tahap pembangunan tapi bandara itu sudah beroperasi dengan stabil.


di kursi samping kemudi ada pemuda tampan yang sedari tadi fokus ke ponselnya, dengan sesekali terlihat bibir sensualnya tersenyum karena balasan pesan dari gadis diseberang sana.


di kursi penumpang tengah ada abah kyai Hasan dan umma yai dan di kursi paling belakang ada Ning Nisa serta sang suami, Gus Fatah serta satu balita yang tidur dipangkuan ibunya.


" liat itu kang... kalau orang lagi jatuh cinta itu bisa ketawa sendiri tanpa malu dilihat orang lain." ucap Ning Nisa, pada kang Abdul karena sedari tadi ia melihat kakaknya dari spion tersenyum sendiri hanya karena melihat benda yang dipegang.


kang Abdul tersenyum sambil melirik Gus nya yang berada di samping lalu kembali fokus dengan kemudiannya.


" Gus Alwi sedang kasmaran dengan siapa Ning." tanya kang Abdul pelan, ia mencoba memberanikan dirinya bertanya. dari pada dirinya mati penasaran.


" tanya gih sama orangnya langsung kang...mau jawab gak coba dia...kalau aku yang tanya jawabnya besok juga kamu akan bertemu begitu." sungutnya jengkel


kakaknya begitu merahasiakan siapa wanita itu, padahal dia sangat penasaran siapa gadis yang sudah mencairkan gunung es kakaknya. ia akan sungkem dengannya betapa hebatnya dia bisa membuat kakaknya seperti orang sakau seperti sekarang.


Gus Alwi menyimpan ponselnya di tasnya, lalu menengok kebelakang melihat adiknya yang bersungut-sungut karena jengkel dengan dirinya. dia kenaikan alisnya dan senyum miring saat terlihat sanga adik menatapnya.


Ning Nisa yang di ejek begitu pun bertambah jengkel, untung ada suami yang mengusap bahunya dan membuat dirinya lebih tenang.

__ADS_1


" gadis incaran mas mu itu orang Uzbekistan, dan sangat cantik." ucap Abah tiba-tiba,


" Abah...!!" kata Gus Alwi sambil menatap Abah memohon,


jangan sampai abahnya membocorkan rahasianya.


" yang bener bah...!!" pekik Ning Nisa girang...ia begitu senang mempunyai ipar bule.


Abah mengangguk bertanda mengiyakan ucapan putrinya.


" udah gak penasaran kan??" kata Gus Fatah pada istrinya, tangan masih setia mengelus tangan sang istri.


" masih yah...kan belum liat gimana wajahnya."


" ckk...!!! itu rahasia." decak Gus Alwi


Umma yang sedari tadi tertidur pun terganggu mendengar obrolan suami dan lainnya.


" kenapa bah.."


" tidak apa... sudah lanjutkan tidurnya, nanti kalau sudah sampai bandara Abah bangunkan." ucap Abah yai pada istrinya,


umma hanya menurut dan kembali menyenderkan kepalanya dan sekejap tertidur pulas.


" kenal dimana mas...kok dapet orang Uzbekistan?" tanya Gus Fatah


" dia ambil kedokteran di kampus X."


" pinter dong dia,,, bisa masuk kedokteran di kampus elit itu." timpal Ning Nisa yang ikut menyimak obrolan suami dan kakaknya.


" dia masih berumur belum genap 18 tahun."


" apa...!!! kakak gak salah mau jadikan gadis dibawah umur istri??" kaget Ning Nisa,


Ning Nisa begitu shock mendengar sang kakak tentang umur gadis pujaannya, ia tak habis pikir bisa bisanya kakak mencari gadis belia... apakah kakaknya seorang pedofil...


" walaupun umur masih 18 tahun tapi dia lebih besar dan lebih tinggi daripada kamu yang boncel itu."


mendengar ucapan Gus Alwi semua yang ada di dalam mobil ketawa geli termasuk Gus Fattah.


" enak saja boncel...!! aku itu mungil tau.." tak terima


setelah perjalanan ditempuh selama beberapa jam, akhirnya sampai di bandara.

__ADS_1


Gus Alwi berpamitan dan meminta dia restu kepada Abah dan Umma yai sambil menunggu kang Abdul menurunkan koper kecilnya yang berisi pakaian beberapa stel.


setelah itu ia berpamitan pada semuanya dan berjalan menuju boarding pass.


__ADS_2