MENUNGGU JODOH

MENUNGGU JODOH
12


__ADS_3

" bagaimana kyai hasan?? apakah bersedia membantu keluarga saya?" ucap lelaki paruh baya yang memakai peci serta sorban dipundaknya itu. ia duduk dengan santai nya diantara putri dan istrinya.


" kita sahabatan sudah sangat lama kan?? itu kan menguntungkan bila kita besanan." lanjutnya karena masih tak ada jawaban yang keluar dari mulut kyai paruh baya yang duduk didepannya.


" maaf sebelumnya kyai, apa Ning Fauziah sudah bener bener mencari laki-laki itu? bila berkenan saya dan Gus Alwi akan membantu mencari ayah biologis anak yang sedang Ning Fauzia kandung. jadi semua tak ada yang dirugikan." ucap Gus Fatah , adik ipar Gus Alwi sambil menahan emosi dengan keluarga tak tahu malu itu.


ia mencoba mencari solusi yang tak merugikan semua orang terutama dirinya dan Gus Alwi yang tak bersangkutan tapi ikut terkena imbasnya hanya kerena sebuah kata persahabatan orang tuanya.


ia tak terima, ia yang tak ikut andil menanam benih itu ikut terseret. melihat istrinya yang dari kemarin terus menangis pun tak tega. ia tau istrinya tak ingin ada poligami di rumah tangga nya. dia sendiri juga tak ingin, cukup sang istri saja yang ia harapkan menemani dirinya sampai maut memisahkan.


" sial...!!tak Sudi aku mencari dan menikah dengan laki-laki itu." batin Jing Fauzia, yang begitu emosi mendengar laki laki dambaannya.


Ning Fauzia hanya ingin menikah dengan laki-laki pujaannya itu Gus Alwi kalau Gus itu menolak ia ingin Gus Fatah, ia rela walaupun menjadi istri kedua sekalipun.


" laki laki bajingan itu sudah kabur..!! tak mau bertanggung jawab, hanya mau enaknya saja." jawab kyai Rahmat ayah dari Ning Fauzia.


Abah Hasan yang sedari tadi hanya mendengar sahabatnya berbicara tak hentinya hanya menghela nafas berat, ia tak habis pikir dengan sahabatnya itu. kenapa begitu tega melempar aib ke keluarga dirinya.


" tidak ada yang akan menikah dengan Ning Fauzia...!! entah saya tau adik ipar saya." ucap Gus Alwi dengan tenang, padahal hatinya sangat dongkol.


" tolonglah Gus...cukup sampai putriku melahirkan saja, nanti setelah itu kalian bercerai tak apa."


" tolong Gus, kasihan keluarga kita. saya takut aib ini menyebar bila terus berlarut-larut." ucap Bu yai Rahmat menimpali ucapan suaminya.


" kalian tau aib, kenapa tak mendidik putri anda dengan benar!!"


" dan kamu Ning Fauzia, sebagai perempuan segitu gampangnya menyerahkan harga dirimu dan membuat aib untuk keluarga mu sendiri... kamu tak ingat kalau kamu anak seorang kyai...!!" sarkas Gus Alwi dengan emosi menggebu. sudah jebol tak terbendung emosinya bila menghadapi orang yang berada didepannya itu.


" Bu...bukan begitu Gus...saya khilaf saat itu." ucap Ning Fauzia dengan isakan kecil di mulutnya , ia begitu takut dengan suara keras Gus tampan itu...Gus yang ia kenal sangat jarang mengeluarkan kata apalagi kata dengan nada keras dan sangat menghujam jantung.


" khilaf...? kalian dengar itu... putri anda dengan gampang nya berbicara khilaf. tapi semua dari ke khilafan itu berdampak buruk pada rumah tangga adik saya."


" kalian lihat ...!! lihat disana kalian semua...!!disana adik saya sedari kemarin tak berhenti menangis saat mengetahui suaminya dipaksa untuk berpoligami oleh anda semua." ucapnya masih dengan emosi yang belum stabil. ia sungguh tak tega melihat adik perempuan satu satunya bersedih dan menangis sepanjang hari.


" saya tahu, makanya saya minta Gus Alwi saja yang belum berkeluarga untuk menerima putri saya, nanti setelah melahirkan gus Alwi bisa mengembalikan kepada saya, saya akan menerima." ucap kyai Rahmat yang masih kekeh dengan keinginannya.


" mohon maaf kayi Rahmat yang terhormat,,, saya juga tak mau menerima tanggung jawab yang bukan tanggung jawab saya." jawab Gus Alwi


" saya mohon Gus..." ucap Bu nyai Rahman memohon.


" Gus...saya tak menuntut nafkah apapun, entah nafkah lahir maupun batin dari Gus Alwi, mohon kasihan saya Gus. sampai anak ini lahir." pinta Ning Fauzia dengan mata mengeluarkan air mata buayanya.

__ADS_1


"saya tak rela suami ataupun kakak saya menanggung aib dari keluargamu...!! aku tak ridho...!! sungguh aku gak mau !!!" suara keras diselingi isakan keluar dari mulut ibu muda yang sedang melampiaskan emosi yang ia bendung sejak kemarin. ia berlari sambil menunjuk ke wajah Ning Fauzia.


" bunda....bunda....hik hik..." dari arah ruang tamu anak laki-laki ikut berlari mengikuti sang ibu sambil menangis kencang, karena melihat sang ibu juga menangis.


" sudah nak...biar Abah serta kakakmu yang menyelesaikan." ucap Umma sambil menenangkan sang putri, agar tak meledak ledak emosinya.


Gus Fatah yang melihat sang istri sedang emosi, berdiri dari duduknya dan mengambil alih memeluk sang istri dan putranya yang sedang menangis.


" aku gak sudi punya madu ataupun ipar seperti kamu, perempuan tak tau malu !!" ucapnya lagi dengan memandang tajam wanita depannya.


" sudah... sudah... semua istighfar. semua cari jalan keluar bersama sama." ucap Abah yai yang sedari tadi pusing dengan perdebatan semua orang .


astaghfirullah


astaghfirullah


astaghfirullah


" saya akan membantu mencari ayah dari jabang bayi itu, dan gak akan ada pernikahan dari saya maupun Gus Fatah, tak bisa diganggu gugat." ucapan tegas Gus Alwi yang tak bisa dirubah lagi.


" saya gak mau Gus....laki laki itu bukan laki laki yang baik untuk saya."


" apakah akhlak mu sudah baik..!!"


" saya yang akan bertanggung jawab menikahi Ning Fauzia."


semua orang yang mendengarnya pun tertegun, ia menatap orang itu. ia tak habis pikir... apakah ia sadar mengucapkan kata itu!!.


" Abah....!!"


" ya...Abah yang akan menikahi Ning Fauzia sampai anak itu lahir... walaupun sebenarnya pernikahan saat wanita mengandung itu tak sah tapi untuk menutupi aib Ning Fauzia, saya akan membantu."


" apakah umma keberatan, kalau Abah menikahi Ning Fauzia??" tanya Abah Hasan menengok kearah belakangnya, menatap istrinya yang masih shock.


" kalau Abah niatnya ingin menolong tak masalah, umma ikhlas." jawab umma pelan, setelah tersadar, ia mencoba ikhlas bila jalan takdirnya begitu. walaupun hati sakit, daripada kedua putra nya yang tersiksa, ia lebih rela dirinya yang menahan sakit.


" saya tidak mau... saya tidak mau !!" ucap Ning Fauzia langsung berlari keluar rumah menuju arah parkiran mobil.


" kamu gendeng kyai Hasan!!, pedofil...saya juga gak mau kamu jadi mantu saya." ucap kyai Rahmat pada sahabatnya itu.


" mau gimana lagi, gak ada jalan keluar..."

__ADS_1


" tidak...!! baik saya terima bantuan Gus Alwi untuk mencari pria berengsek itu." ucapnya dengan pasrah, tak ada jalan lain, dari pada sahabatnya jadi menantunya,ia tak mau!.


" baik ...saya akan membantu sebisa saya mencari ayah anak yang sedang Ning Fauzia kandung."


" yaudah saya permisi pamit dulu... nanti kalau ada informasi segera kabari saya Gus."


" baik..."


" assalamualaikum..." ucap sepasang suami istri itu dengan wajah kecewa. terutama wajah Bu nyai Rahmat, ia sangat terlihat kecewa pertemuan nya tak ada hasil.


" waalaikum salam..."


Umma menutup pintu dan kembali duduk dengan keluarganya.


" Abah itu kejedot apa sih, tiba tiba mau nikahin Ning Fauzia." ucap Nisa yang sedang duduk memangku putranya itu, ia penasaran kenapa abahnya mau menerima aib orang, apakah abahnya itu suka dengan gadis tak tau malu itu.


Abah hanya melirik takut sang istri yang berada di samping nya tanpa menjawab pertanyaan Nisa.


" abahmu bosen mungkin sama umma." ucap Umma


Gus Alwi dan Gus Fatah hanya tersenyum saja melihat wajah takut abahnya. tadi begitu gagah berkata ingin menikahi wanita muda, nah sekarang...?? sudah selesai kepompong yang takut bertemu orang.


" buka begitu umma... Abah tadi spontan saja...Abah gk tahan liat kalian berdebat."


" percayalah umma,,,Abah cuma berniat mengusir kyai Rahmat tanpa menyakiti hatinya."


mereka yang mendengar ucapan Abah Hasan pun mengerti jalan pikiran sang Abah. sungguh cerdas abahnya itu ternyata!.


" CK!! Nisa kira Abah tadi beneran mau nikahin Ning Fauzia, sampe shock Nisa dengernya."


" mana mungkin Abah menduakan ummi kalian, satu aja yg begini sudah cukup buat Abah, pengertian, perhatian dan nurut sama Abah. tak ada niat mencari yg lain."


umma yang mendengarnya pun salah tingkah dipuji suaminya, ia berdiri dari duduknya meninggal suami dan anak cucunya dengan muka memerah.


" kemana umma??" tanya Abah saat melihat sang istri pergi tanpa membalas ucapannya.


" masak untuk makan siang." jawabannya terdengar sayup-sayup karena umma sudah jauh dari pandangan.


" malu itu umma hihihi....adek sama ayah dulu ya...bunda mau bantu nenek yai masak." ucap Nisa sambil menaruh sang putra ke atas pangkuan suaminya.


" iya bunda ..."

__ADS_1


" anak pintar...sini sama pakde...liat ikan yuk di kolam." ajak Gus Alwi pada ponakannya, laki mengendong menuju kolam ikan hias yang berada di taman depan rumah.


hanya tinggal sepasang ayah dan menantu itu yang melanjutkan ngobrol sambil menunggu makan siang selesai dihidangkan.


__ADS_2