MENUNGGU JODOH

MENUNGGU JODOH
15


__ADS_3

dengan riang queen berjalan menghampiri Gus Alwi sambil membawa sepiring gado gado hasil karyanya tadi.


" cobain mas..." ucapnya sambil meletakkan piring didepan Gus Alwi.


" gado gado?" tanya Gus Alwi saat melihat isi piring yang disodorkan oleh queen.


queen menjawab dengan hanya mengangguk dan tersenyum.


" buatan ku..." ucapnya dengan salah tingkah.


" yakin kamu yang masak??" ucapnya tak yakin, masa gadis secantik dia pandai memasak apalagi bukan masakan khas negaranya.


ia mengaduk isi piring itu agar semua tercampur rata dengan bumbu kuah kacang serta irisan bawang merah goreng yang membuat aroma sangat sedap.


" iya, Queen yang masak...tapi sambil liat buku resep." jawab queen sambil menunggu reaksi pria depannya itu saat memakan hasil olahannya.


Gus Alwi segera menyendok gado gado dan menyuapkan kedalam mulutnya.


satu...sua...tiga...dia terus mengunyah sambil menunjuk berbagai expresi. lalu berhenti mengunyah sejenak meresapi rasa masakan khas Indonesia itu.


queen tak berhenti menatap wajah tampan Gus Alwi yang sedang mengunyah makanan itu dengan hati berdebar, ia sudah seperti mengikuti ajang pencarian bakat memasak seperti yang ada di tv, menunggu barang juri menilai hasil karyanya dengan hati berdebar.


ia tak yakin masakannya sesuai selera pria itu karena melihat berbagai macam expresi yang ia tunjukkan, tapi menurut seleranya itu sudah sangat pas dilidahnya.


"gimana...?" ucapnya dengan gemas ia tidak sabaran karena tak ada suara keluar dari pria itu.


" ehh...emm..enak....sangat enak." jawabannya sambil menjauhkan wajahnya dari wajah queen yang berjarak satu jengkal.


ia kaget wajah queen pas berada tepat di depan wajahnya, wajahnya sangat merah padam, tak pernah ia bersitatap dengan lawan jenis sedekat itu bikin jantung tambah tak tenang. dalam hatinya ia tak hentinya beristighfar.


dengan wajah polosnya queen tersenyum lebar, ia begitu puas dengan jawaban pria itu. ia merasa tak sia sia belajar memasak kali ini.


ia mengangguk senang, dan kembali duduk sambil minum teh miliknya sambil melihat Gus Alwi yang masih salah tingkah.


sejenak ia terdiam saat ia menyadari apa yang baru saja ia lakukan, ia tersenyum kikuk dan mengalihkan wajahnya ke arah lain, ia tak ingin Gus Alwi melihat betapa merah padamnya wajahnya sekarang.


Gus Alwi melanjutkan makannya sambil berusaha menenangkan hatinya.


setelah sepiring gado gado buatan gadis yang dicintainya itu tandas tak tersisa, dia minum teh miliknya hingga tak tersisa pula dan diakhiri dengan bacaan hamdalah didalam hatinya.


Gus Alwi melihat queen yang mengalihkan pandangan dengan masih minum minumannya pun mulai bertanya.

__ADS_1


" emm...emm bolehkah mas lebih dekat denganmu??"


queen yang mendengar ucapan Gus Alwi seketika tersedak dengan air minumnya, terasa sangat perih di kerongkongan sampai tukang hidung karena airnya sedikit masuk di hidung.


" hati hati dek..! kamu gak apa??" ucap Gus Alwi dengan wajah sangat cemas.


queen hanya membalas dendam anggukan kecil sambil menekan nekan pangkal hidung nya yang ngilu.


hati tak karuan, tubuh panas dingin , dan wajah terlihat sangat merah. ia begitu shock mendengar ucapan pria depannya itu. padahal pria depannya itu hanya meminta ijin dekat saja, tapi respon dirinya begitu lebay sudah seperti dilamar dan diajak menikah mendadak saja.


sejenak menenangkan hatinya dengan metode tarik nafas hembuskan.


setelah hatinya sinkron dengan keadaan, ia mencoba memperjelas maksud dan tujuan pria tampan itu, ia tak mau terlalu senang dulu takut tak sesuai expetasi.


" maksud mas Alwi bagaimana..."


" kalau dibilang ingin ta'aruf, tapi kita sudah bertemu berkali kali, jadi mungkin lebih tepatnya aku ingin mengenalmu."


" pacaran begitu maksudnya??"


" Bu...bukan seperti itu maksudnya..." ucap Gus Alwi dengan cepat, tak ada di kamus hidupnya namanya pacaran itu.


" maksudku mas menjaga hati untukmu, dan dek queen menjaga hati untukku sampai Allah menyatukan kita dalam sebuah hubungan ibadah atau pernikahan.


hati yang sudah mulai tenang pun sekarang mulai tak terkontrol kembali.


queen bingung akan menjawab apa, ingin rasanya ia menjawab iya...tapi bagaimana dengan kedua orangtuanya, ia takut kedua orangtuanya marah karena terlalu muda untuk menjalani sebuah komitmen.


" ta...tapi queen takut Deddy mommy mas." cicit queen pelan sampai hanya seperti bisikan saja.


" bolehkah mas minta alamat orang tua dek Queen, biar saya sendiri yang meminta ijin dengan beliau."


" apa mas Alwi yakin?? tapi queen tak yakin Deddy dan mommy mengijinkan." kata Queen yang sudah pesimis,


Ia begitu yakin pemuda itu akan sia sia bila menemui kedua orangtuanya, dengan karakter Deddy dan mommy nya yang semuanya keras apalagi menyangkut masa depan Putri satu satunya.


" mas hanya ingin tau saja jawaban dek queen, apa menerima mas kedepannya untuk menjadi imam mu...soal kedua orang tua dek Queen itu urusan mas nanti."


Queen mengangguk kecil mengiyakan dengan, terlihat pipi merona sangat menggemaskan Dimata Gus Alwi.


melihat jawab itu Gus Alwi begitu lega, ia tersenyum sangat lebar.

__ADS_1


" Alhamdulillah..."


" ini alamat kantor Deddy dan mommy, dan ini alamat rumah queen, bila dirumah tak ada orang tua queen, cari saja di kantornya." ucap queen sambil menyerahkan kertas yang berisi alamat yang baru saja ia tulis.


Alwi mengambil kertas itu lalu memasukan kedalam dompet.


" satu lagi dek, ...emmm tapi kalau kamu merasa keberatan tak masalah... bolehkah mas minta dek queen memakai kerudung?" ucap Gus Alwi pelan sekali sambil melihat wajah itu intens dengan hati berdebar, ia takut permintaan lancangnya itu malah membuat gadis itu ilfil dengannya atau malah marah dengannya.


queen tersenyum menanggapi ucapan Gus Alwi, ia tak marah sedikitpun.malahnia bersyukur ada pria yang begitu menghormati kehormatannya dengan menyuruh memakai penutup kepala.


" baik... queen akan lakukan itu mas..." ucapnya dengan masih tersenyum lebar, ia memang sudah mempunyai tekad dan keinginan ingin berhijab, selain risih melihat para laki-laki yang selalu memandang dirinya ia juga melihat teman temannya memakai hijab terlihat sangat sejuk.


" tapi mas tidak memaksa, mas akan menerima kamu apa adanya.."


" tapi mas juga akan menjamin kamu suatu saat akan dengan hati ikhlas mau menutup tubuhmu, mas tak ikhlas tubuh indahmu dipandang pria lain." lanjutnya dalam hati...


" queen memang sudah mempunyai niat akan memakai hijab mas... bukan karena mas Alwi yang menyuruh..."


" Alhamdulillah kalau begitu..."


Gus Alwi melihat jam dipergelangan tangannya, jam sudah sangat sore, sudah terlalu lama ia bertamu di rumah seorang gadis.


" kalau begitu mas pamit ya dek, mas akan kabari kamu kalau mas akan menemui kedua orangtuamu." ucapnya sambil berdiri dari duduknya..


queen juga ikut berdiri, uang mengangguk.


" baik mas...hati hati ya.."


" iya... assalamualaikum..." salam Gus Alwi setelah itu melangkah keluar dari teras dan menuju pintu gerbang.


" waalaikum salam..." gumam queen pelan sambil terus memandangi punggung kokoh berbalut jaket berwarna abu-abu itu yang sudah semakin menjauh dari panggangan.


ia tersenyum sambil menepuk nepuk nepuk pipinya yang memerah itu, dan masuk menuju rumah.


dari arah jendela kamar yang berada di sudut rumah itu terlihat pria tampan bersidekap dada, mantap sangat tajam ke arah teras rumah sedari tadi.


sudah sedari tadi awal kedatangan pria yang sangat ia tak sukai itu berada di sana. ia begitu tak menyukai pria yang mencoba mendekati nona mudanya itu. baginya nona mudanya masih sangat kecil untuk mengenal cinta dan pria. dan ia merasa pemuda itu sangat tidak cocok dengan nonanya dengan kesempurnaannya, walaupun pria itu sangat tampan tapi ia merasa nonanya bisa mendapatkan pria yang lebih sempurna dari pria yang ada disana.


" semoga kamu tidak terlalu gampang menempatkan hatimu pada seorang pria nona...saya sangat menyayangimu." batinnya sambil melangkah menuju kasur empuknya dan merebahkan tubuhnya yang sepertinya sangat lelah menahan rasa ini.


flash back off

__ADS_1


__ADS_2