
Mobil mewah berwarna hitam itu memasuki area pesantren besar, pesantren yang begitu luas dengan luas tanah tak terhitung lagi. Mobil tetap masuk sampai diarea parkir keluarga.
Alwi keluar dari mobil berwarna hitam itu dengan menggendong tasnya...
Dengan menampilkan wajah yang dingin ia melangkah menuju rumahnya yang berseberangan dengan rumah kedua orangtuanya.
Memang Gus Al sudah mempunyai rumah sendiri yang ia persiapkan untuk istrinya kelak.
Banyak para santri atau ustazah yang menyapa dirinya, dan Alwi hanya mengangguk kecil untuk menjawab sapaan mereka.
Rupanya jatuh cinta pun tak mengubah setelan dingin wajahnya, buat semua orang.
Alwi pun merasa aneh, bila sedang dengan gadis cantik itu kenapa tak bisa menampilkan wajah dinginnya, malah terkesan dirinya agresif dan banyak bertanya pada gadis cantik itu, apa karena sikap dan sifat naluri yang akan dikeluarkan setiap pria bila sedang jatuh cinta?. Entahlah Gus Al pun tak mau memikirkan itu.
" Ya Allah Gus, kenapa semakin hari semakin tampan sih??" ucap salah satu santri putri yang sedang bergerombol di area teras masjid, dengan mata masih fokus melihat target.
Mereka begitu terpesona melihat Gus Alwi yang sedang berjalan menuju rumahnya, wajah tampan seperti orang timur tengah, hidung mancung mata tajam dan berjambang serta mempunyai badan tinggi besar layaknya orang luar, bisa membuat para kaum hawa panas dingin.
Semua penghuni pesantren yang berjenis kelamin betina tak ada yang tidak tertarik dengan Gus Al, termasuk para ustazah di pesantren.
Kalau Gus Al seorang playboy mungkin bisa saja ia akan dengan senang hati tinggal menunjuk dan dapat kapan saja berpoligami. Saking banyaknya yang mendamba dia.
" Iya, sungguh ciptaan Allah SWT yang satu itu tak ada tandingannya."
Timpal santri lain sambil memegang dadanya yang berdetak kencang karena melihat pujaannya. Matanya masih mengawasi Gus nya itu dengan pandangan memuja.
" Iya aku yakin, pasti perutnya penuh otot dan dadanya pasti berbulu. Oh ya ampun otakku traveling hanya dengan melihat dia berjalan saja."
Para santri yang lain yang mendengarnya segera menengok kearah teman berotak mesum satu itu, dan menjitak kepalanya pelan agar otaknya gak semakin lari ke area pojok kepala.
" Aduh !! kenapa malah jitak kepala ku sih!."
Ucapnya dengan nada kesal, kesal karena temen temannya membuyarkan imajinasinya tadi.
" Dosa tau!! bayangin tubuh laki laki yang bukan mahramnya, apa lagi kamu membayangkan Gus kita, gak sopan!!."
" Hehhe maaf, aku khilaf."
" Sudah jangan dilihatin terus!!, ingat dosa gak kalian!!."
Ucap jengkel gadis yang sedari tadi hanya diam melihat tingkah temannya.
Sekarang dia bener tidak bisa lagi untuk tidak bersuara, setelah sedari tadi nyimpan rasa jengkel dan emosi saat temennya pada melihat pujaan hati dengan pandangan memuja dan menjadi fantasi liar temennya. Ia merasa sangat cemburu.
__ADS_1
"Iya kita masih ingat kok, dan biasa saja kalau bicara kamu !!.
Ucap gadis berotak mesum itu dengan nada tinggi juga, ia tak suka cara temannya satu itu memberitahu mereka dengan meninggikan suaranya.
" Sudah ayo lanjut nyapu nya sebelum sholat ashar."
Ajak temennya yang lain melerai agar tak menimbulkan keributan berujung nanti terkena hukuman.
Mereka kembali melanjutkan membersihkan area depan masjid kembali sambil bercanda gurau meninggalkan temannya yang tadi berbicara nyolot.
Gadis itu mendengus sebal sambil menatap semua temannya dengan pandangan sinis.
"Gus Al itu jodohku, aku gak akan rela kalian membicarakan dan memandang calon suamiku dengan pandangan menjijikan seperti tadi. cih !! dasar orang kampung!!."batinnya
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Setelah selesai sholat isya Gus Al bergegas melangkah ke rumah Abah yai dengan sedikit berburu buru tak mengindahkan panggilan beberapa ustadz muda yang sedang memanggilnya.
" kenapa Gus Al, tak biasanya dia terburu buru pulang sampe berlarian sepeti itu." tanya ustadz Fahri yang sedari tadi memanggil tapi tak digubris.
Ustadz yang lain juga memandang Gus Al yang masih berlari kecil hampir sampai rumah Abah yai.
" Mungkin kebelet pengen buang air kali."Jawab ustadz Maulana sekenanya, ia juga bingung, hanya itu yang terlintas diotak nya sekarang.
Semua membenarkan ucapan ustadz tengil itu, dan mereka melanjutkan pulang ke rumah yang diperuntukkan para ustadz.
" Maaf Alwi lama bah." kata Alwi karena merasa tidak enak pada abahnya yang pasti sudah menunggu dari tadi.
" Tidak apa, ayo makan." ucap Abah yai
Umma hanya tersenyum melihat suami dan putranya itu, di sela kesibukan ke dua pria beda usia itu, selalu menyempatkan untuk makan dirumah dengannya. Ia sangat senang bila makan ada yang menemani, apalagi ia akan merasa sangat senang bila meja makan depannya itu terisi penuh.
" Abah mau makan pake apa?" ucap umma sambil menyodorkan beberapa menu yang Abah mau.
" Pake ini sama ini saja."
Umma mengangguk sambil menyiapkan menu yang suaminya mau, kemudian menatap putra sulungnya itu.
" Kamu mau makan apa le?" tanyanya pada Gus Al
" Sama ini saja dan ini umma., makasih umma"
Umma mengambilkan menu yang putranya mau dan lalu mengambil menu untuk dirinya dan makan dengan khidmat.
__ADS_1
Setelah selesai makan malam mereka berbincang di ruang tamu sebelum beristirahat malam.
" Kemarin Abah denger ada beberapa proposal untukmu lagi Al??" tanya Abah dan Alwi hanya mengangguk.
" Mana Abah mau lihat." ucap Abah lagi
" Emm...itu udah dibawa sama para ustadz." jawab Al gugup
" Kenapa dibawa mereka?"
" Mereka mau baca bah, jd saya pinjamkan."
Abah menepuk jidatnya sendiri gemas dengan putra setengah oon nya itu, kenapa malah dipinjamkan orang lain dan tidak dibaca sendiri pikirnya.
" Kamu sudah membacanya?" tanya Abah lagi karena ta ada respon dari anaknya.
Alwi mengangguk kepalanya pelan, lalu bersandar di sandaran sofa yang ia duduki sambil menatap Abah nya yang seperti nya sedang kesal dengannya.
Umma yang melihat itu hanya terkekeh kecil, ia tau pasti tak ada yang putranya inginkan dari sekian banyak proposal untuknya kemarin.
" Terus mau sampai kapan kamu melajang??"
" Kamu udah sangat matang Al, nanti anakmu masih kecil kamu sudah ber uban, terlihat seperti kakeknya nanti malah." lanjutnya....
Mata Alwi seketika melotot kaget mendengar ucapan abahnya.
Umma yang mendengar ucapan suaminya pun tertawa geli.
" Sebentar lagi bah, jodohnya udah ketemu." ucap Al sambil tersenyum karena terlintas wajah pujaannya di pelupuk matanya.
Abah yang mendengarnya pun mengangguk pelan percaya, karena sangat terlihat putranya tadi saat berbicara ada rona wajah yang sedang jatuh cinta.
" Jangan terlalu lama menunda, nanti akan jadi dosa." pinta Abah
Alwi hanya mengangguk dengan bibir masih tersenyum lebar.
" orang mana le? putri kyai siapa?" tanya umma
" Orang asli Uzbekistan umma, tapi dia berkuliah di kampus X , dan dia bukan anak kyai umma." kata Gus Alwi
" Apakah Abah dan umma keberatan kalau Alwi berjodoh dengan bukan putri kyai?." lanjutnya
" Tentu tidak, Abah dan umm tak mempermasalahkan mau anak anak kyai atau bukan." ucap Abah
__ADS_1
Umma hanya mengangguk sambil tersenyum pada putranya tanda tak mempermasalahkan apapun yang sudah ditakdirkan Allah SWT.
Alwi begitu bahagia mendengar ucapan abahnya dan respon ummanya. Ia jadi semakin bersemangat untuk melangkah ke tahap selanjutnya untuk meraih pujaannya.