
suatu hari Disebuah toko buku terbesar di kota J
Bruk...
Buku buku milik seorang gadis cantik cantik berserakan dilantai karena sang empunya tak sengaja menabrak dada bidang seorang pria karena terlalu fokus mencari buku yang ia inginkan
" Astaghfirullah maaf...maaf tuan, saya tidak sengaja. Apakah ada yang terluka??"
Ucap perempuan cantik itu dengan bahasa Indonesia tetapi masih dengan logat bule nya.
Sedangkan yang ia tabrak hanya mematung menatap gadis yang sedang berbicara itu tanpa berkedip, takutnya kalau berkedip malah hilang. wkwkkw emang dikira hantu.
" Hellow...apakah anda baik baik saja??"
Ucap gadis itu lagi karena tak mendapatkan tanggapan apapun dari pria itu.
Tak ada respon dari pria didepannya itu, akhirnya Queen melambai tangannya di depan wajah pria itu yang secara spontan membuat sang pria itu tersadar dan segera mengalihkan pandangan sambil terus beristighfar pelan.
Hatinya begitu berdebar kencang, wajah bersemu merah dan salah tingkah.
" Excuseme....."
" Ahh yaa, saya baik baik saja." ucap Alwi gugup tanpa menatap gadis depannya.
Dan queen pun memaklumi, karena ia tau pria depannya sedang menjaga pandangan dari yang bukan mahramnya.
" Mohon maafkan saya tuan, saya tak sengaja tadi."
" Tak apa, saya juga tak terluka sedikitpun jadi jangan merasa tak enak."
Queen hanya mengangguk pelan.
" Apakah kamu sedang mencari buku??" tanya Gus Al kembali, yang tak biasanya mau direpotkan oleh kaum ukhti, ini malah menawarkan diri.
" Iya tuan, untuk persiapan masuk perguruan minggu depan."
Ucap queen, sambil tangan terus mencari buku yang ia mau di rak sampingnya.
" Biar saya bantu." ucap Alwi sedikit memaksa
Queen hanya tersenyum sangat cantik sambil mengangguk.
Mereka mencari buku bersama setelah queen memberi tahu buku yang ia mau.
Tak ada suara yang keluar dari bibir keduanya, mereka fokus mencari buku dan yang pasti begitu sungkan satu sama lain.
Disudut ruangan ada sepasang mata tajam yang sedang mengawasi keduanya, ia melihat dari awal kejadian.
Tangannya mengepal kuat, bertanda sedang merasakan gejolak emosi, hatinya sangat sakit seperti terbakar. Akhirnya dia hanya bisa menghela nafas berat sambil memalingkan wajahnya keluar arah agar tak melihat nona mudanya sedang didekati pria.
Sebenarnya tadi ia akan membantu Nona mudanya, tapi sang nona sudah memberikan ulti tidak boleh mendekat, hanya boleh mengawasi dari lebih dari 5 meter. alhasil dia hanya pasrah mengawasi dari sudut ruangan.
" Siapa namamu."
Ucap Alwi memecahkan keheningan sambil kaki masih menyusuri rak buka dengan pelan, mata masih mengamati buku buku depannya.
" Saya Queenara, biasa dipanggil queen."
Jawab queen tanpa melihat lawan bicara, ia berjongkok memilah buka di rak bagian bawah. Gus Al hanya mengangguk.
__ADS_1
Merasa tak ada respon dari pria depannya dia mendongak menatapnya.
" Boleh tau nama tuan siapa??" Tanya queen dengan suara sangat lembut.
Alwi yang mendengarnya pun tertegun, sungguh sangat terpesona dengan suara lembut yang bisa membuat sejuk bagi yang mendengarnya. Lagi lagi dia beristighfar.
" Nama saya Muhammad Alwi Hasan, biasa dipanggil Alwi." jawab Alwi sambil menengok kearah queen dengan gugup.
Pandangan mata beberapa menit terpaut, saking mengunci dan menatap lekat seperti sedang menghafalkan setiap detail wajahnya masing-masing.
Mereka memalingkan wajahnya yang sama sama memerah, dan Kembali fokus mencari buku.
" Apakah ini buku yang kamu cari ?."
Alwi menyodorkan satu buka yang baru saja ia temukan pada queen.
Queen segera berdiri dari jongkoknya, dan tersenyum melihat buku yang ada ditangan Alwi.
" Ya ...ini buku yang saya cari. Terimakasih banyak tuan Alwi?."
" No ! jangan panggil saya tuan."
Queen menatap wajah Alwi yang sedang menunduk dengan pandang bingung.
Alwi yang seakan tau gadis depannya sedang bingung pun kembali berbicara
" Kamu bisa panggil saya Alwi saja." ucap Alwi
" No !! itu tidak sopan, saya melihat anda sudah tua."
Alwi yang mendengarnya spontan menatap wajah queen sambil melotot. Sungguh tak habis pikir dengan gadis depannya itu berani mengatakan dirinya tua. Padahal dia masih begitu tampan.
" Maafkan saya... soalnya saya bingung dengan panggilan sopan di Indonesia harus seperti apa."
" Panggil mas Alwi saja, dan saya akan panggil kamu dek, biar enak didengar."
" Dari mana kamu asal dek?." tanya Alwi kembali.
" Uzbekistan."
Mereka melanjutkan mencari buka yang belum ketemu dengan obrolan ringan tanpa melihat satu sama lain untuk menjaga pandangan, jadi tak hening seperti tadi.
Dasarnya queen yang ceria dan begitu lembut jadi membuat Alwi gampang merasa nyaman dan akrab dengan gadis itu.
Setelah butuh waktu setengah jam mencari buku-buku itu, akhirnya buku sudah terkumpul, hanya tinggal satu buka saja yang tak ada.
" Kamus terjemahan bahasa sepertinya sedang kosong dek." ucap Alwi
Dengan wajah cemberut queen mengangguk kepalanya pasrah, padahal itu buku yang paling penting untuk dirinya untuk berkomunikasi nanti dengan orang. Karena bahasa Indonesia belum begitu lancar dia pelajari.
" Saya ada dirumah, kamu mau??
" Benarkah?? saya mau." Jawab queen dengan cepat, ia begitu gembira terpancar di wajahnya.
Alwi hanya tersenyum melihat betapa bahagianya gadis didepannya itu hanya karena sebuah kamus.
Sekarang giliran buku queen ditotal setelah tadi buku Alwi selesai dibayar.
Sebenarnya Alwi ingin membayar semua buku milik queen juga, takut takut gadis cantik itu tersinggung, karena baru pertama kali bertemu sudah berani modus. Itu tak bagus untuk kelangsungan masa depan pikirnya.
__ADS_1
" Apakah saya harus kerumah mu mas Alwi??"
Tanya queen sambil menunggu mbak kasih sedang menghitung totalan buku.
" Tak perlu dek, lumayan jauh rumah mas, biar nanti mas Al aja yang mengantarkan kerumahmu."
Queen hanya mengangguk,
" Nanti biar saya kasih alamatnya ya." kata Queen
" Tak perlu dek, mas sudah tau tempat tinggal mu."
" tau dari mana?"
Tanya queen bingung, ia menatap lekat Alwi yang terus menunduk, ia merasa tak percaya kalau pria depannya itu sudah mengetahui tempat tinggalnya. Karena dirinya baru saja pindah ke Indonesia.
" Saya pernah melihatmu 3 hari yang lalu."
Queen terperanjat kaget saat baru menyadari kalau pria mesum yang melihat dia hanya memakai tangtop itu adalah pria depannya itu.
" Jadi kamu mas,,, yang waktu sore hari ngintip saya?" tuduh queen pelan, ia begitu malu bila teringat waktu itu.
" Ti...tidak !! siapa yang ngintip."
Alwi menjawab dengan gugup sambil menatap tajam queen, ia tak terima dituduh mengintip, enak saja !! saat itu kan bukan dia yang ngintip tapi emang udah rejekinya mau dikata apa.
Setelah semua beres mereka berdua menuju parkiran mobil, dengan Alwi membantu membawakan semua buku itu.
Setelah sampai di mobil mewah berwarna merah itu ia tertegun melihat ada seorang pria keluar dari mobil tersebut.
Ia bertanya tanya siapa pria tersebut, apakah pacarnya?? mendadak hatinya mencelos, membayangkan kalau benar pria itu pacarnya atau malah suaminya.
Ia tak akan mampu kalau dugaan itu benar, betapa sakitnya nanti hatinya.
Mencintai sebelum bertemu langsung dengan orangnya, dan selalu menjaga didalam setiap doa nya ternyata sudah miliki pria lain.
Tiba tiba dadanya sangat sesak, hanya memikirkan dugaan itu.
Alwi membalas tatapan tajam dari pria berjas itu, ia merasa pria itu sedang mengibarkan bendera permusuhan dengan dirinya.
" Mas al, perkenalkan ini bodyguard queen yang sudah queen anggap seperti kakak sendiri bernama Ahmed." ucap queen
" Assalamualaikum... salam kenal saya Alwi.'' ucap Alwi
" Ahmad!!." balas singkat.
Alwi menghembuskan nafas pelan, bertanda lega dan malas dengan pria depannya itu, karena pria bernama Ahmed itu tak berhenti menatap tajam dirinya. Sungguh menyebalkan!! ingin rasanya ia tonjok muka bulenya itu.
Setelah mobil merah melaju keluar area parkir, Gus Al bergegas melangkah menuju mobil miliknya.
Tak henti-hentinya bibirnya tersenyum lebar saat mengingat pertemuan dan perkenalan dirinya dan sang pujaan hatinya.
Ia semakin jatuh cinta pada gadis yang akhir akhir ini sering muncul di mimpi, dan terbukti nyata gadis mimpi itu ada dan sudah bertemu.
Ia yakin ini semua Allah yang merencanakan, dari mimpi sampai pertemuan sekarang ini, tak henti-hentinya Alwi mengucapkan syukur Alhamdulillah Allah sudah menjaga hatinya untuk pasangan kelak dan menjaga queen untuk dirinya.
Ia tau memang sangat terlambat untuk dirinya merasakan rasa yang belum pernah ia rasakan selama hidupnya ini, tapi ia yakin dengan rencana yang sudah Allah SWT susun untuk dirinya.
Dengan hati yang berbunga bunga, perasaan menghangat, dan terasa nikmat , Gus Alwi melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju pesantren.
__ADS_1