
Terdengar tausiyah dari ustadz Ilham begitu menggema, karena menggunakan pengeras suara.
Para santri serta jamaah fokus mendengar tausiyah itu dengan khidmat, kadang kala tertawa karena ustadz Ilham menyelingi dengan candaan yang bisa membuat jamaah terpingkal-pingkal.
Ustadz Ilham adalah ustadz yang receh dan sedikit konyol, tapi itu yang membuat para jamaah begitu suka dengannya karena cara menyampaikan tausiyah nya tak akan membosankan.
Berbeda dengan Gus Alwi yang mempunyai karakter lempeng, dia akan menyampaikan tausiyah dengan lugas tanpa ada candaan, sebenernya sangat membosankan cara penyampaian Gus Al ,tapi karena dirinya tampan jadi para jamaah tetap suka dan ngefans.
Manusia kalau sudah suka atau cinta mau bobrok kata apa aja ttp paling sempurna baginya.
" Karena jatah jam saya sudah abis, sekarang ganti sama Gus Al nggeh??."
Nggeh/inggeh/ iya/ ya
Ucap ustadz Ilham yang mulai mengakhiri sesi tausiyahnya.
Bunyi nggeh serempak itu terdengar begitu nyaring dan kompak, dan itu suara dari para jamaah perempuan yang begitu kegirangan karena saat yang dia tunggu akan tiba, yaitu memandang wajah Gus tampan sepuasnya dari arah depan.
" Gus, njenengan sudah ditunggu para ukhti cantik nih, mereka udah gak sabar mau pandeng wajah tampan njenengan.''
Njenengan/ kamu/ dirimu
pandeng/ lihat
Ustadz Ilham menatap Gus tampan itu dengan kerlingan godaan di matanya, ia sangat suka melihat Gus ganteng itu salting karena dipuja banyak ukhti.
Gus Al hanya mengangguk dengan wajah nya dan telinganya yang memerah karena begitu malu.
" Wes ndang Munggah o Gus, sebelum para jamaah mbalangi saya karena gak sabar liat sampean." ucapnya lagi
Munggah/ naik
mbalangi/ melempari
sampean/ dirimu
Ustadz mengakhiri dengan doa dan ucapan salam lalu turun dari panggung.
Gus Al melangkah menuju panggung setelah memberikan salaman dan hormat dengan para pendakwah lainnya serta para pejabat kota yang turut hadir.
Bunyi suitan dan pekikan histeris menyuarakan namanya begitu terdengar bergemuruh di lapangan itu.
__ADS_1
Gus Al berjalan sambil membalas jabatan serta ciuman para santri putra dibantu para penjaga, samping kanan dan kiri banyak aparat yang menjaga dirinya saat melewati para jamaah yang berbondong-bondong ingin berjabat tangan dengan dirinya.
Setelah sampai diatas panggung Gus Alwi segera memulai tausiyah nya setelah mengucapkan salam untuk jamaah yang begitu memenuhi lapangan.
Tausiyah Gus Al saat ini berjudul jodoh tak akan tertukar rata cara menghargai pasangan.
Gus Al menyampaikan dengan suara kalem tetapi begitu menggoda yang mendengarnya, suara bass Gus Al sangat jantan, walaupun dengan suara pelan tapi tetap terdengar begitu membius para ukhti yang sedang mendengarkannya, entah fokus mendengar atau fokus memandangi ciptaan Allah yang sedang memberikan tausiyah itu sendiri.
Acara begitu sukses dan tak ada kendala sampai selesai. Jamaah juga sangat antusias dengan tausyiah Gus Al sampaikan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
" Assalamualaikum..."
" Waalaikum salam wr.wb..." jawab semua orang yang berada di ruang tersebut.
Terlihat seorang pria dewasa sekitar 45 tahunan masuk ke ruang istirahat para pendakwah yang tadi mengisi tausiyah tadi, terlihat mereka sedang duduk sambil ngobrol setelah selesai memakan siang yang sudah disediakan oleh panitia acara.
Pria itu memasuki ruang yang beralas karpet tebal itu dengan berjalan menggunakan lututnya, sambil menunduk secara tawadhuk.
Setelah duduk dengan sopan dihadapan para Gus dan ustadz tadi dia dengan grogi menyampaikan maksud dan tujuannya.
Sejenak semua orang yang berada di ruangan menghentikan obrolannya dan menunggu pria depannya itu berbicara.
Gus Al mengangguk pelan, diikuti yang lainnya.
" Saya mau minta tolong dengan gus Alwi, sekiranya ada waktu yang senggang sedikit minta kesediaannya Gus Alwi untuk menengok anak saya yang sedang sakit, maaf sekali Gus anu...saya sudah gak tau harus minta tolong dengan siapapun, segala usaha saya sudah saya lakukan dari ke beberapa dokter juga sudah."
Terang panjang lebar pria itu dengan mata memohon serta berkaca kaca menahan air mata agar tak lancang keluar dihadapan para ulama besar itu.
" Sakit apa anak bapak??." Ucap Alwi dengan lembut
" Dokter bilang semua normal Gus, gak ada sakit apapun tapi kalau menjelang magrib anak saya badannya akan demam tinggi dan menggigil."
Kata pak Burhan , pria didepannya itu.
" Sambil berteriak keras Gus, dia bilang badannya panas." lanjutnya....
Gus Al hanya mengangguk halus sambil berfikir, ya Gus Al sedikit bisa menyembuhkan penyakit dengan doa, tapi sedikit orang yang tau karena itu hanya untuk menolong bukan untuk mencari penghasilan.
" Baik, mari pak saya mampir sebentar untuk melihat anak bapak, semoga saya bisa menolong." Ucap Alwi sambil berdiri dari duduknya dan berpamitan dengan rekannya yang masih berasa di ruang itu.
__ADS_1
" Jangan lupa kabarin kalau sudah menu, kalau belum juga nanti saya kenalkan dengan adik saya ya Gus, siapa tau cocok."
Gurau Gus Furqon pada pria tampan yabg sedang menjabat tangannya itu.
" Sama adik ipar saya juga boleh Gus siapa tau nanti cocok kita jd saudara." ucap ustadz Ilham menimpali ucapan rekannya.
yang lain hanya tersenyum mendengar para rekannya berlomba akan menjodohkan para saudara nya pada Gus dingin itu.
Gus Al hanya mengangguk dan tersenyum, bingung mau menjawab apa.
Setelah Gus Al dan pak Burhan berpamitan mereka berjalan menuju rumah pak Burhan yang memang rumahnya hanya selisih beberapa rumah dari tempat.
Gus Al dan pak Burhan berjalan bersama sambil ngobrol.
Tak terasa Gus Al dan pak Burhan sudah dekat dengan rumah pak Burhan, tapi saat fokus Gus Al melihat lihat suasana kanan kiri tak sengaja mata tajam nan teduh itu melihat seseorang yang begitu ia kenali tapi belum pernah ia temui.
"Astaghfirullah...." Ucapnya sambil menundukkan kepalanya menjaga pandangan yang haram dilihat.
Jantung berdebar kencang, keringat dingin keluar.
Tak henti-hentinya ia beristighfar di dalam hati sambil mengusap dadanya berharap jantung kembali normal.
" Kenapa Gus??."
Tanya pak Burhan yang kaget pula mendengar suara gus nya beristighfar dengan keras, seperti melihat hantu saja pikirnya.
" Tidak apa pak, ayo lanjut jalan biar cepat sampai." kata Gus Al menghindari pertanyaan yang nanti malah berbuntut panjang.
Pak Burhan mengangguk dan mempersilahkan Gus Al berjalan didepannya.
Gus Alwi sekali lagi menengok ke arah seseorang yang dari tadi membuat dada berdebar, ia masih belum yakin ia melihatnya, apa cuma halusinasi??.
anggap saja ini di teras rumah ya😁
Dia tersentak kaget saat pandangan mata bertabrakan dengan mata berwarna coklat madu diujung sana.
Dia segera berjalan agak cepat setelah tersadar dari jerat pesona gadis tadi. Lantunan istighfar mengiringi langkah Gus Al menuju rumah pak Burhan.
Pak Burhan yang melihat tingkah aneh Gus Al hanya terdiam tak berani berbicara, walaupun ia merasa aneh karena ia tak melihat apapun tadi.
__ADS_1
Apa Gus Alwi melihat hantu yaa?? batin pak Burhan
Ia begitu merinding saat tengok kanan kiri tak melihat sesuatu, dan spontan ia berjalan terburu-buru membuntuti Gus Al yang sudah berada di depan pasar rumahnya menunggu dirinya.